Sabtu, 28 Januari 2012

Kesuksesan Bukan Melulu Soal Uang [4]: Cerita Tentang Frans Duli Poli


Kesuksesan bukan melulu soal uang. Kesuksesan adalah juga ketika bertekun pada suatu pengabdian yang lahir atas keprihatinan terhadap persoalan masyarakat yang lebih luas, dan terus bergerak maju sekalipun kesulitan demi kesulitan menghadang perjalanan pencapaian cita-cita itu. Itulah gambaran singkat ketika kita belajar melalui sosok “Frans Duli Poli: Ibarat Terang Dalam Kegelapan” (Kompas, Kamis, 05 Januari 2012).

Selalu dimulai dari suatu keputusan, yang didorong oleh keberanian mengambil tanggungjawab, sementara yang lain bergeming. Saat itu (1969), Frans Duli Poli baru berusia 17 tahun, saat dia diminta oleh masyarakat di Desa Demondei, Adonara, Flores Timur untuk mengajar anak-anak setempat sekaligus membangun SD di kampung itu. Saat itu di Desa Demondei tidak ada guru. Frans baru lulus Sekolah Guru Bawah, yang sesungguhnya belum berhak mengajar. Yang boleh mengajar adalah mereka lulusan Sekolah Guru Atas. “Kondisi warga di Demondei waktu itu sangat membutuhkan tenaga guru. Di Pulau Adonara bagian barat itu tidak ada guru sama sekali. Anak-anak usia sekolah tidak bisa belajar karena tidak ada sekolah. Desa-desa di pedalaman itu belum mengenal sekolah dasar”, ujar Frans kepada Kompas.  Tahun itu Frans membuka sekolah yang diberi nama SD Don Bosco di Desa Demondei. Dua tahun kemudian (1971), Frans mendirikan SD di Desa Rianpadu, sekitar lima kilometer dari Demondei, atas permintaan masyarakat setempat. Pada periode 1973-1976, Frans mendirikan 4 sekolah yaitu, SD swasta di Ritawolo, Watodei, Beludua, dan SD Swasta Leter.

Selalu dimulai dari suatu keputusan. Keputusan yang didasari keberanian (courage) mengambil tanggung jawab. Keberanian tersebut tentunya menuntut komitmen (committment) tinggi dan pengorbanan. Dengan segala keterbatasan yang ada, Frans mendidik anak-anak setempat sendirian. Honor yang didapat hanya sekedarnya, malah terkadang orangtua murid membayar dengan celana, baju, pisang, ubi, jagung, ataupun padi. Namun, Frans senantiasa mengucap syukur dan menjalani pengabdiannya dengan sukacita. Tiga tahun kemudian barulah tujuh orang lulusan Sekolah Guru Atas dari Larantuka datang untuk membantu Frans mengajar. Sebagai guru di pedalaman, selain mengajar di sekolah, Frans juga melatih koor untuk gereja, membimbing pasangan muda yang mau menikah, dan mengajari orangtua yang buta huruf. Dia juga membantu aparat desa menata administrasi desa, dan mengamankan warga yang sering bertengkar. Frans terlibat hampir di semua sektor kemasyarakatan. ”Guru di pedalaman itu ibarat terang di tengah kegelapan. Ini sungguh terjadi sejak tahun 1970-an sampai hari ini. Kami di sini bisa dikatakan masih miskin dan terbelakang”, ujarnya kepada Kompas.   Kegigihan (persisten) Frans juga tampak ketika pada tahun 1975 dia memutuskan untuk  mengikuti sekolah persamaan yang diadakan beberapa rekan guru lulusan Sekolah Guru Atas dan Sekolah Pendidikan Guru di Desa Demondei. Frans berhasil mendapat ijazah Sekolah Guru Atas pada 1976, dan diangkat menjadi guru negeri.

Selama 43 tahun pengabdiannya kepada masyarakat di sekitarnya, khususnya di bidang pendidikan, Frans telah terlibat dalam pembangunan enam sekolah dasar di desa terpencil di pulau terluar di wilayah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2012, dia memasuki masa pensiun. Namun, semangatnya masih tetap tinggi. Dia mengisi hari-hari selanjutnya dengan bertugas di tiga sekolah TK di Desa Mewet, Desa Demondei, dan Desa Watodei. Untuk tugasnya membimbing siswa TK, dia tidak digaji. Di sela-sela kesibukannya Frans masih harus mengajari guru TK cara membaca dan mengajarkan musik kepada anak-anak. Bahkan, dia sendiri yang mempersiapkan lagu-lagu yang cocok untuk anak sekolah TK. Frans rela pergi ke Kupang dengan perahu motor, hanya untuk memilih dan menyalin lagu-lagu yang cocok untuk anak-anak sekolah TK dari buku-buku nyanyian yang ada di Toko Buku Gramedia di kota Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Frans Duli Poli adalah sosok Sang Pemenang, yang terus bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan dan terus maju selangkah demi selangkah. Kesuksesan bagi dia bukan semata soal uang, tetapi bagi dia lebih banyak lagi anak-anak usia sekolah yang bisa menikmati pendidikan adalah kesuksesannya terhadap pengabdiannya kepada masyarakat setempat.  Keberanian mengambil tanggung jawab, komitmen yang tinggi, pengorbanan, kegigihan, dan senantiasa mengucap syukur merupakan modal yang kuat bagi perjalanan Frans Duli Poli dalam menyusuri rute Sang Pemenang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar