Minggu, 08 April 2012

Cerita Tentang “Kapal Hantu” Ryou-Un Maru


Ada berita yang menarik perhatian saya di harian Kompas, Sabtu, 7 April 2012, yaitu berita mengenai “kapal hantu” Ryou-Un Maru (Tembakan Meriam Akhiri Perjalanan “Kapal Hantu”). Kapal Ryou-Un Maru adalah salah satu kapal, yang saat kejadian gempa dengan kekuatan 9.0 SR yang memicu gelombang tsunami di pantai timur laut Jepang pada tanggal 11 Maret 2011, sedang bersandar di pelabuhan Hokkaido. Kapal tersebut terseret arus tsunami dan memulai perjalanan panjangnya sebagai “kapal hantu”. Disebut “kapal hantu”, karena kapal itu tanpa mesin, tanpa lampu, tanpa radio, dan tanpa awak kapal, bergerak sendirian mengarungi Samudera Pasific, pasrah terombang-ambing mengikuti arus dan gelombang samudera lebih dari satu tahun.

Kondisi “kapal hantu” sama seperti orang yang hidup tanpa tujuan, tanpa cita-cita, tanpa resolusi, tanpa ambisi, tanpa semangat. Mereka menjalani hidupnya dengan cara mengikuti kemana arus dan gelombang kehidupan membawanya. Sebagian mereka yang hidup seperti itu mengambil sikap hidup mengalir saja. “Jalani saja apa adanya”, ungkap mereka. Mereka berkilah bahwa menjalani hidup apa adanya merupakan ekspresi kepasrahan atau penyerahan diri kepada Tuhan untuk mengatur hidupnya. Secara pribadi, saya tidak setuju dengan pandangan tersebut. Memang benar, bahwa kita harus tunduk/pasrah kepada Tuhan yang mengatur segala sesuatunya, tetapi itu bukan berarti kita tidak perlu punya tujuan. Kita tetap harus punya tujuan, punya rencana dan bertindak secara nyata. Memang ada tertulis, “mintalah (melalui doa) maka kepadamu akan diberikan”. Tetapi tidak dituliskan kapan permintaan itu akan dipenuhi. Besok, lusa, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan? Yang pasti, jika kita tidak pernah menabur benih pohon mangga bagaimana mungkin kita berharap bisa memanen buah mangga? Dan tidak sepatutnya kita memperlakukan Tuhan seperti seorang pelayan kita yang segera memenuhi permintaan kita manakala kita meminta sesuatu. Jadi sekali lagi, hidup harus punya tujuan atau arah.

Mengapa hidup perlu tujuan atau arah? Karena hidup tanpa tujuan adalah hidup yang sia-sia, dan umumnya berujung pada kondisi ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan secara intelektual, ketidakberdayaan secara moral, dan ketidakberdayaan secara ekonomi, yang menyebabkan ketergantungan kepada orang-orang di sekitar. Dan hidup tanpa tujuan tidak hanya berdampak buruk pada diri sendiri, tetapi juga menimbulkan kesulitan pada orang-orang di sekitar kita. Sama halnya seperti yang ditunjukkan oleh “kapal hantu” Ryou-Un Maru. Saat ditemukan pertama kali tanggal 24 Maret 2012 di lepas pantai Kanada, kapal itu terapung-apung di jalur pelayaran sibuk yang menghubungkan Amerika Utara dengan Asia. Kapal itu bergerak terhanyut arus laut dengan kecepatan 1,61 kilometer per jam. Keberadaan kapal Ryou-Un Maru dalam kondisi seperti itu jelas mengkuatirkan kapal-kapal lain yang berlayar, karena arah Ryou-Un Maru tak dapat ditebak sehingga tabrakan yang tidak dikehendaki dapat saja terjadi setiap saat.

Dan hampir dapat dipastikan, jika tidak ada perubahan positif maka kehidupan mereka yang tanpa tujuan akan berujung pada kondisi yang tragis. Hal yang sama pun terjadi pada “kapal hantu” Ryou-Un Maru, otoritas Amerika Serikat memutuskan menenggelamkan “kapal hantu” tersebut karena dianggap sebagai ancaman serius bagi kapal-kapal yang lewat. Sebelum ditenggelamkan, sebuah perusahaan Kanada mencoba menyelamatkan kapal itu untuk dijadikan besi tua. Namun, setelah mereka memeriksa kondisi kapal, mereka memutuskan tidak jadi menariknya ke darat. Demikian pula mereka yang hidup tanpa tujuan, mungkin saja ada beberapa kesempatan yang muncul untuk membantunya keluar dari kesulitan. Tetapi, karena satu dan lain hal kesempatan-kesempatan itu menjadi hilang. Dan seiring dengan berjalannya waktu kesempatan pun semakin menyusut, dan akhirnya situasi menjadi bertambah sulit. Kondisi yang sama dialami “kapal hantu” Ryou-Un Maru. Setahun yang lalu, kapal Ryou-Un Maru masih ada nilainya untuk dijadikan besi tua. Namun, saat ini nilai kapal itu, setelah setahun terombang-ambing, sudah tidak ada, walaupun hanya untuk dijadikan besi tua. Perjalanan “kapal hantu” itu berakhir pada Kamis, 5 April 2012 saat peluru-peluru meriam kapal Penjaga Pantai AS (US Coast Guard / USCG) mengirimnya ke dasar lautan. “Kapal hantu” Ryou-Un Maru tenggelam di kawasan perairan Teluk Alaska. Itulah kondisi tragis yang bisa terjadi jika kita hidup tanpa adanya tujuan dan arah yang jelas.

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar