Jumat, 02 Agustus 2013

Muhammad Farhan: "Tidak Ada Alasan Apapun Untuk Menyerah!"

Muhammad Farhan, lebih dikenal dengan panggilan Farhan, tentu bukan nama yang asing di telinga. Sejak tahun 1996, ia telah bergelut di dunia media dan entertainmen. Farhan dikenal sebagai pemandu berbagai acara, talk show dan diskusi. Program televisi yang lekat dengannya antara lain Extravaganza dan Lepas Malam di Trans TV, PESTA” di Indosiar dan juga programnya sendiri Oom Farhan di ANTV. 

Berwawasan luas dan modern, Farhan selalu tampil smart dengan celetuknya yang kadang kritis, tajam tetapi juga diselingi dengan candanya khas. Kini setiap pagi mulai jam 6 hinggal 10, Farhan menyapa pendengarnya di Jakarta, Bandung, Surabaya, Menado dan Makasar melalui radio Delta FM.

Farhan yang lahir di Bogor tahun 1970, juga memiliki perhatian yang luar biasa terhadap dunia persepakbolaan. Di tengah reputasi dunia sepakbola Indonesia yang memprihatinkan, ia memutuskan untuk memberikan kontribusinya untuk perbaikan profesionalitas sepakbola melalui posisinya sebagai Wakil Direktur PT Persib Bandung Bermartabat yang mengelola Persib Bandung.  

Selalu tampil percaya diri dengan senyum di wajahnya, namun kehidupan bukanlah sebuah perjalanan yang mudah bagi Farhan. Sebuah hidup penuh tantangan dan menguras enerji dijalaninya dengan kesabaran tingkat tinggi. Tantangan ini bahkan belum usai dan perjalanan ke depan masih panjang. Tetapi untuk Farhan, ia tak punya satu alasan pun untuk menyerah. No-compromise! Tidak ada kompromi dengan situasi sulit. Dan, tidak diragukan, ia adalah Sang Pemenang dalam hidupnya.

Tidak banyak diketahui publik, Farhan dan istrinya tercinta, Aya, melewati masa-masa penuh tantangan membesarkan putra pertama mereka, Ridzky, yang autistik. Kekuatan Farhan dan Aya mengatasi tantangan baik dari dalam diri mereka dan lingkungan untuk memberikan kehidupan yang terbaik bagi Ridzky adalah sebuah perjalanan hidup yang inspiratif. Farhan menuturkan kisahnya yang luar biasa itu.

“Saat itu hari Minggu, tanggal 20 Juni 1999, saya sedang memandu acara PESTA di Indosiar dari jam 17.00 hingga 19.00 dengan tema HUT Jakarta, ujarnya memulai percakapan. Saya menyimpan kegelisahan, karena pada saat bersamaan, Aya sedang berjuang di Rumah Sakit Bersalin YPK Menteng, Jakarta Pusat, menanti kelahiran putra pertama kami.”

Begitu selesai menjalani tugasnya, Farhan langsung menuju Menteng. Aya yang berjuang sejak pukul 14.00 akhirnya melahirkan putra pertama mereka pada pukul 20:30, yang mereka beri nama Muhammad Ridzky Khalid.

“Nama Khalid diambil dari Khlaid bin Walid, panglima perang pasukan Muhammad SAW, yang juga seorang pejuang yang tangguh. Nama ini memang sengaja kami pilih. Tanpa pernah kami duga sama sekali, ternyata Ridzky memang harus menjadi pejuang yang tangguh menjalani kehidupannya”, jelas Farhan.

Dalam usia kurang dari dua bulan Ridzky harus menghadapi dua operasi, sebuah tantangan yang berat untuk sebuah kehidupan baru. Bayi mungil ini melakukan perjuangannya, sendiri, di awal kehidupannya. Ridzky terkapar tak berdaya di ruang ICU Cempaka Rumah Sakit Harapan Kita.  Hampir seluruh organ vital tubuhnya ditopang mesin. Pernafasan, pacu jantung, saluran pencernaan dan aliran darah semua dibantu oleh mesin. Bakteri straptococus menyerang paru-paru kecilnya hingga paru-paru bagian kirinya tak berfungsi sama sekali. Ridzky kecil terus berjuang. Selama tiga minggu di ruang ICU, ada sekitar enam hingga tujuh pasien neo-natal keluar masuk ICU dengan berbagai keluhan dan kelainan. Hanya Ridzky yang keluar dari ruangan tersebut dalam keadaan hidup, setelah menjalani operasi penataan ulang otot membrane rongga dadanya selama enam jam.

Derita Ridzy tidak berhenti sampai di situ. Tiga minggu kemudian, ia harus menjalani operasi kedua untuk menghentikan infeksi di persendian mata kakinya. Pejuang kecil Ridzky berhasil melewati masa-masa kritisnya. Pengalaman ini menjadikan Farhan dan Aya sangat awas terhadap setiap detil tumbuh kembang putra mereka tercinta ini.

“Saat usia Ridzky 18 bulan, kami menangkap adanya masalah pada kemampuan reaksi Ridzky terhadap lingkungan sekitarnya. Ia sangat “anteng” dan asyik dengan dirinya sendiri”, ungkap Farhan. Farhan pun menghubungi Prof. Sarlito, yang kemudian merekomendasikan Farhan membawa Ridzky ke konsultan psikologis khusus autistik, yaitu Mandiga. Disana, Farhan berkonsultasi dengan dua psikolog yang kemudian menjadi sahabatnya, yaitu Dyah Puspita dan Adriana Ginanjar. Kedua psikolog ini mengatakan bahwa Ridzky memang memiliki beberapa ciri spektrum autistik. Namun, Ridzky harus menunggu hingga usia 36 bulan sebelum diagnosa yang pasti dapat ditegakkan.

Aya sedang mengandung putra kedua mereka saat mengetahui gejala autistik pada Ridzky. Putra kedua mereka, Bisma Wibisana lahir pada tanggal 20 Juni 2001. Nama Bisma diambil dari tokoh perwayangan, yaitu paman para Pandawa dan Kurawa, yang dikenal jujur dan setia. Sedangkan Wibisana adalah nama adik Rahwana yang selalu mendengarkan suara nurani untuk menegakkan kebenaran. Ada kekuatiran bahwa Bisma akan menghadapi masalah yang sama. “Namun, saya dan Aya sepakat untuk menghadapi dengan mind set yang berbeda. Di satu sisi, kami fokus pada terapi intervensi tahap awal Ridzky. Namun secara terpisah kami juga fokus pada kesehatan tumbuh kembang Bisma. Memang sulit. Namun, it’s truly a blessing beyond the challenge of parenting”, ungkap Farhan.

Farhan, Aya, Ridzky dan Bisma
Farhan kemudian mengungkapkan pendekatan khusus yang dilakukannya untuk membina hubungan antara Ridzky dan Bisma. “Tahap pertama, kami mengajak Bisma dan Ridzky untuk saling mengenal keunikan masing-masing. Saat Bisma mengenali Ridzky dengan kebutuhan khususnya, yang tentu saja berbeda dengan anak-anak yang lain, ia belajar menerima kekhususan kakaknya. Sementara itu, Ridzky perlu mengenali karakter adiknya agar dia bisa belajar berinteraksi, ungkap Farhan. Memang sulit sekali, karena sering terjadi bentrok fisik maupun interest antara mereka. Dengan ego anak-anak yang dominan, proses pengenalan ini ternyata juga mengajarkan rasa berbagi dan compassionate di antara mereka berdua, lanjut Farhan sambil tersenyum. Sering sekali kami dibuat tersenyum haru ketika Ridzky menenteng dua mainan yang sama, karena dia ingin memastikan Bisma mendapatkan mainan juga. Bahkan Bisma sering memastikan Ridzky sudah ada di mobil terlebih dahulu, setiap kali kami akan bepergian”, tutur Farhan.

Upaya Farhan dan Aya untuk membantu Ridzky, dilakukan dengan menebar jaringan perkenalan dengan para orangtua dari komunitas autistik. Mereka bertemu dengan dr Melly Budiman, SPsi, seorang psikiater anak, yang fokus pada penelitian dan penanganan autistik sejak usia dini. Sejak itu Farhan dan Aya melakukan banyak intervensi dini pada perilaku dan kognitif Ridzky.
Sebuah ujian hidup yang tidak mudah harus dihadapi oleh Farhan dan Aya. Tantangan terbesar dan terberat seperti diakui oleh Farhan adalah penyangkalan diri.

“Pada awalnya saya menolak menerima kondisi ini dan berharap Ridzky bisa kembali NORMAL. Hati dan pikiran saya hanya tertanam satu hal – WE’LL GET OVER THIS! Saya yakin gejala autistik ini akan hilang seiring dengan tumbuh kembangnya Ridzky. Namun rasa optimis ini hanya beda tipis dengan penyangkalan diri”, aku Farhan.

Akibat menuruti egonya, Farhan tidak pernah fokus pada terapi jangka panjang. Begitu terapi tidak menunjukkan hasil dalam waktu tiga bulan, Farhan memutuskan untuk mencoba metode terapi lain. Akibatnya, tidak ada kemajuan yang terlihat pada diri Ridzky. Farhan akhirnya menyadari bahwa terapi ini ditujukan bukan untuk kepentingan Ridzky, tetapi untuk kepentingan ego dirinya.

“Setelah melalui pertikaian panjang antara perasaan dan akal, Aya meyakinkan saya bahwa kami berdua harus menerima kenyataan bahwa Ridzky memang penyandang spektrum autistik. Setelah dapat menerima kondisi ini, kami lebih berkonsentrasi untuk melakukan program behavior intervention bagi Ridzky daripada berusaha meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa Ridzky anak yang NORMAL”, tutur Farhan mengenai pergulatan dirinya yang luar biasa berat menghadapi situasi ini.

Demikian beratnya, hingga Farhan dan Aya memerlukan terapi tersendiri dengan para psikolog agar dapat memperkuat diri mereka untuk menghadapi tantangan yang tak mudah ini.  Ternyata memang kebanyakan orang tua dari anak-anak dengan spektrum autistik memerlukan dukungan dan terapi psikolog. Ada hal yang melegakan bagi Farhan.  Tidak ada prasangka dari pihak keluarga besar bahwa autistik pada Ridzky adalah “kelainan turunan”. Ini adalah dukungan moral yang besar bagi mereka berdua.  

Kekuatan yang luar biasa dari Farhan dan Aya ini datang dari rasa cinta dan kekompakan mereka untuk menghadapi tantangan ini bersama-sama. Farhan, yang pandangannya dipengaruhi nilai Islami tradisional Jawa, menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. “Family always comes first”, ungkap Farhan. Berdua, Farhan dan Aya, mengambil sikap yang konsisten dan kompak dengan misi utama untuk sepenuhnya memberikan yang terbaik bagi Ridzky. Perjuangan ini tak ada akhirnya. Apakah mereka pernah merasa lelah dan ingin menyerah? 

“Lelah ? Pasti pernah! Saya dan Aya bukan super parent. Ada masanya kami tertunduk lesu, kehabisan enerji. Seperti rumah tangga lainnya, masalah kami tidak hanya berpusat pada Ridzky. Inilah yang terkadang sangat menguras tenaga dan pikiran kami, tutur Farhan. Namun ajaibnya, selalu ada hal kecil yang mengisi ulang enerji kami. Pelukan tanpa pretensi dari Ridzky dan Bisma, dan bisikan tulus mereka - Aku sayang Ayah, Aku sayang Ibu - selalu berhasil menjadi energizer bagi kami”.

Tapi, Farhan tidak akan berkompromi dengan situasi sulit. Sikap pemenang Farhan sungguh mengagumkan. “Melihat perjuangan putra kami yang luar biasa di awal kehidupannya, kami tidak punya alasan untuk putus asa, apalagi menyerah. Kami akan selalu memberikan yang terbaik dari kami untuk Ridzky dan Bisma, walaupun mungkin itu bukan yang terbaik di dunia”.

Tantangan lain adalah memberikan pendidikan bagi Ridzky. Tak ada sekolah atau theraphy center yang dapat seratus persen memenuhi kebutuhannya. Setiap individu autistik memiliki kebutuhan yang unik. Setiap terapi membutuhkan pendekatan yang unik dan juga memberikan dampak yang spesifik bagi individu tersebut. Farhan dan Aya mencoba berbagai metoda dan berbagai lembaga terapi. “Upaya ini tidak mudah dan tidak murah”, ungkap Farhan. Ada dua hal yang penting, yaitu tujuan yang jelas dan ekspektasi yang realisitis”, lanjut dia.

Dari pengalamannya melakukan terapi untuk putranya, Farhan menyesalkan sikap judgmental dari para penyelenggara pendidikan. Mereka menilai bahwa apa yang terjadi pada anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut adalah akibat dosa atau perbuatan menyimpang dari orang tua mereka. Sebuah pemikiran yang sudah ketinggalan jauh. Sikap seperti ini justru datang dari lembaga yang seharusnya memberikan bantuan dan dukungan paling utama bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan juga para orangtua mereka. Sungguh amat disayangkan.

Farhan dan Aya juga terlibat dalam perdebatan mana yang lebih penting bagi Ridzky, pengembangan kemampuan kognitifnya atau kemampuan vocational. Farhan percaya bahwa kemampuan kognitif lebih bermanfaat bagi Ridzky, sedang Aya ingin memberikan vocational skill agar Ridzky dapat gunakan untuk masa depannya. Akhirnya Farhan dan Aya mencapai kesepakatan bahwa Ridzky perlu hidup yang mandiri, untuk itu ia memerlukan basic knowledge dan life skill

Farhan dan Aya memilihkan sekolah dengan program inklusi dengan pendampingan.  Menurut Farhan, sistem inklusi merupakan pendekatan yang tepat namun diperlukan persyaratan seperti kualitas pengajar dengan jumlah yang memadai, fasilitas inklusivitas yang memadai sesuai dengan kebutuhan khusus. Persyaratan ini yang sulit untuk dipenuhi. Padahal manfaat sistem ini tidak hanya akan dirasakan oleh mereka yang berkebutuhan khusus, tetapi juga siswa yang lain karena mereka bisa belajar untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan mereka yang berbeda. Hal ini membantu mengikis pola pikir diskriminatif dari siswa pada umumnya dan pada saat yang bersamaan juga memaksa yang berkebutuhan khusus untuk beradaptasi.

Farhan dan Aya juga menyiapkan Ridzky dengan beberapa kecakapan humanis seperti  social skill, story telling, traveling, sexuality, values & norms, dan environment. Sementara itu, di rumah Farhan menyiapkan sebuah ruang kreatif bagi Ridzky untuk mengeksplorasi minatnya. Farhan berharap suatu saat nanti ia dapat mengindentifikasi minat dan kemampuan Ridzky, sehingga dapat memberikan life skill yang tepat bagi masa depan putranya ini.

Farhan dan Aya merencanakan untuk memberikan cooking skill bagi Ridzky. Namun saat ini mereka dalam tahap mengajarkan agar Ridzky dapat mengatasi rasa takutnya terhadap api atau uap panas. Tantangan lain yang mereka hadapi adalah belum menemukan tutor masak yang cocok dengan karakter Ridzky yang impulsif.

Di balik dunia media dan entertainmen yang menuntut perhatian dan fokus yang besar dari dirinya, Farhan mendedikasikan waktu dan perhatian bagi terapi Ridzky. Tidak ada ketakutan pada dirinya untuk terbuka bagi publik bahwa ia memiliki seorang putra dengan spektrum autistik. Ia membuktikan bahwa kelangsungan karirnya adalah karena kompetensi dan profesionalitasnya. 

Farhan kini menjadi Duta Autistik. Tugas ini datang dari sahabat-sahabat komunitas orang tua dengan anak-anak autistik, setelah Farhan sering mengajak mereka mengisi acara radio sepanjang tahun 2008-1011 untuk memberi edukasi dan awareness tentang autism bagi masyarakat luas.

“Saya dan sahabat saya, almarhum Jefrey Dompas, memang punya visi untuk mengedukasi dengan menggunakan pendekatan yang lebih ringan, jauh dari kesan rigid dan akademik. Contohnya adalah, kami selalu berkata - yang paling menderita dalam keluarga dengan individu autistik, bukanlah individu autistik itu sendiri, tapi orang tuanya. Kalimat yang untuk sementara orang cukup mengagetkan ini sebetulnya mengandung makna - jangan anggap spektrum autistik sebagai penderitaan, tapi justru persepsi kita yang salah tentang autistik yang membuat kita menderita!”, jelas Farhan.

Untuk menyampaikan informasi tentang autism secara fun kepada masyarakat luas, Aya juga menciptakan Au-Tees By-Ridzky. Maka hadirlah T-shirt dengan desain yang seru dan tulisan seperti AUTISTIC KIDS-ROCK! atau LOVE – PEACE – AUTISM. “Saya dan Aya ingin ada keterbukaan tanpa stigma kepada individu autistik. Tidak mudah. Dan jalan masih panjang, tapi perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil dulu. Kami tidak kecil hati, karena di Amerika Serikat (AS), yang punya sistem sosial yang lebih terbuka sekalipun, stigmasasi masih sering terjadi. Keinginan ini bermuara pada harapan, bahwa suatu hari nanti individu autistik seperti Ridzky dan teman-temannya sesama individu berkebutuhan khusus, akan punya kesempatan yang sama untuk berkarya dan berprestasi”, ungkap Farhan mengenai harapannya.

Dengan segala tantangan yang dihadapi, tak ada penyesalan sama sekali terhadap hidup yang dijalaninya. “Kalaupun saya terlahir kembali, I WANNA BE ME all over again, with knowledge & wisdom I have now, plus the eagerness to learn for the NEW ME…”, tutur Farhan dengan antusias.

Perjuangan Farhan dan Aya belum usai. Sejauh ini sikap no-compromise yang dominan telah membawa mereka melalui saat-saat sulit di awal-awal kelahiran Ridzky. Sikap optimis terhadap hidup, antusiasme yang terus mengalir, pantang menyerah dan semangat pemenang adalah modal yang luar biasa dalam diri mereka berdua untuk tetap memupuk cinta dan kebersamaan sambil menyiapkan masa depan yang terbaik bagi kedua putra mereka, Ridzky dan Bisma.
Farhan adalah Sang Pemenang.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung atau di amazon.com (search “ANGEL & DEMON Indonesia edition”).
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar