Selasa, 20 Agustus 2013

Jeannetta: Membebaskan dan Mengoptimalkan Potensi Pelajar Indonesia

Jeannetta (paling kiri depan) bersama penerima bea siswa 2013
Jeannetta L. Suhendro, yang biasa dipanggil Jeannetta adalah sosok seorang ibu yang luar biasa. Di tengah kesibukannya di berbagai bisnisnya, ia masih menyempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada para scholars, yang mendapatkan beasiswa ke Singapura. Kenapa ia sangat peduli dengan para scholars tersebut?

Wanita energik, kelahiran 3 September 1959, ini awalnya membantu usaha suaminya, Herman Sarwono, di bidang sipil/kontraktor. “Saya memegang Divisi Interior Design, bidang yang khusus saya pelajari setelah kuliah, agar bisa mendukung pekerjaan suami. Di samping itu, saya tetap menjalankan pelayanan di bidang konseling, sesuatu yang saya lakukan sejak masih SMA. Saya juga terus menambah ilmu di bidang Psikologi dan  Pendidikan”, tuturnya. “Hingga sekitar tahun 2000 saya masih membantu kantor suami sambil melakukan pelayanan di bidang konseling ini”, ujar lulusan S1 Universitas Indonesia sambil tersenyum.

Lebih lanjut Jeannetta menuturkan apa yang dia amati selama ini, “Saat melakukan konseling, saya menemukan banyak sekali pelajar yang bermasalah dalam sekolah. Banyak dari mereka merasakan sekolah sebagai ‘beban’. Untuk mendapatkan nilai yang bagus, mereka harus rela menghabiskan sangat banyak waktu (+ energi + biaya) mengikuti berbagai macam les. Tuntutan dari orang tua agar anak bisa masuk di sekolah-sekolah dan universitas favorit menambah berat ‘beban’ mereka, dan kondisi seperti inilah yang banyak memicu terjadinya konflik antara anak dengan orang tuanya. Suatu saat, saya sempat memperhatikan bahwa ternyata universitas-universitas  terbaik di Indonesia ‘hanya’ menduduki peringkat ke sekian ratus dunia. Hati sayapun bertanya-tanya: apa yang membuat pelajar kita kalah dari pelajar banyak negara lain (termasuk dari negara tetangga kita Jepang, Singapura, dan lain-lain)? Bukankah ada harga yang sangat mahal yang sudah dikorbankan oleh mereka agar bisa diterima di universitas-universitas terbaik tersebut? Bukankah waktu yang dimiliki oleh semua pelajar di belahan dunia manapun adalah sama-sama 24 jam sehari?”, ujarnya dengan nada tanya.

Rasa penasaran saya ‘menggiring’ saya pada beberapa temuan, Jeannetta menjawab sendiri pertanyaan itu. “Pertama, potensi pelajar Indonesia ternyata belum digarap secara optimal. Lebih banyak sekolah yang hanya fokus pada pembinaan akademis saja, dimana hal-hal non-akademis hanya mendapatkan porsi seadanya. Kedua, kerjasama antara sekolah dan orang tua masih banyak pada hal-hal yang ‘seremonial’ sifatnya. Potensi orang tua belum banyak diberdayakan untuk menunjang program-program sekolah dalam hal meningkatkan potensi siswa secara lebih spesifik. Ketiga, cara penanganan siswa yang kurang tepat seringkali hanya membuat mereka merasa dijadikan ‘OBYEK’, sehingga hasil yang diraih siswa acapkali bukan muncul dari kesadaran diri si siswa sendiri. Banyak siswa pintar secara akademis, namun seringkali seperti ‘ROBOT’ dan banyak kekurangan di hal-hal non-akademis, tuturnya. “Terakhir, saya menemukan bahwa sangat banyak siswa Indonesia terkondisikan untuk ‘manja’ dan terbiasa dilayani, seperti saat belajar harus ditunggu dan ditemani, mengerjakan tugas kliping/ kerajinan  dibantu dibuatkan oleh Ibu atau pembantu, membereskan buku dilakukan oleh orang lain. Akibatnya, pada banyak kondisi, seringkali mereka kehilangan rasa percaya dirinya. Mereka sering merasa tak mampu menyelesaikan kendala yang mereka hadapi seorang diri, lanjutnya.

Sekitar tahun 2004 mulailah saya mendirikan training motivasi bagi pelajar dengan nama PLUS & PLUS. Saya mencoba untuk mengolah potensi diri yang dimiliki oleh murid-murid saya, juga membangun rasa percaya diri mereka. Saya mencoba untuk selalu menyediakan ‘ruang’ bagi mereka untuk berekspresi, dan juga melatih mereka agar bisa berpikir ‘out of the box’ serta tidak gampang menyerah. Training ini juga selalu terbuka dan menyediakan tempat bagi anak-anak putus sekolah maupun tak mampu yang punya semangat untuk meningkatkan dirinya. Mereka ini tak perlu membayar apapun kecuali dengan semangat dan tekad untuk menjadi lebih baik, tuturnya menjelaskan.

Saya semakin mantap menekuni dunia training ini saat mempersiapkan anak saya ke Singapura. Saya melihat, belajar dan akhirnya menyimpulkan bahwa sampai kapanpun anak-anak kita akan ketinggalan, jika kita tidak mau belajar apa yang positif dari sistem pendidikan di negara lain. Bila sebelumnya langkah saya agak ragu-ragu karena merasa sangat ‘kecil’ dalam menghadapi ‘sistem’ yang sudah berakar di bidang pendidikan di negara kita, maka akhirnya, dengan dukungan suami dan anak-anak tentunya, saya mantapkan langkah saya  dengan satu tekad: sekecil apapun ‘sumbangsih’ saya di bidang pendidikan, paling tidak akan tetap ada hasilnya, ujar Jeannetta menjelaskan latar belakang keputusannya. Puji Tuhan, murid-murid saya saat ini sudah menjadi juara-juara di dalam maupun di luar negri. Yang lebih penting dari itu: mereka berprestasi atas keinginan yang tumbuh dari dalam hati mereka sendiri, tuturnya sambil tersenyum.

Jeannetta bersama suami dan kedua anaknya
Sejak 7 tahun terakhir ini, Jeannetta  membantu memberikan outbound dan motivasi kepada para scholars yang mendapatkan beasiswa ke Singapura. Awalnya adalah di tahun 2005, saat itu anak sulung saya, Henry William dipilih oleh sekolahnya, SMP Kanisius, sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa. Saya segera mencari berbagai informasi tentang pelaksanaan program ini, kenangnya.

Hal yang mengejutkan saya, ternyata banyak scholars Indonesia yang memiliki citra yang kurang bagus di sana (tentu saja tidak semuanya seperti itu). Dari segi IQ mereka tidak kalah dari scholars negara lain, namun scholars Indonesia (saat itu) dikenal kurang memiliki etos belajar yang baik, kurang percaya diri, gampang menyerah saat ada kendala, kurang bisa berpikir out of the box dan lain-lain”, ungkapnya.

Jeannetta menyampaikan 'temuan'-nya itu pada Tyson Sutardi selaku representative dari program scholarship ini. “Ternyata, beliau mempunyai concern yang sama. Atas inisiatifnya maka dibentuklah Paguyuban Scholar, yang anggotanya adalah para scholars dan orangtua mereka. Paguyuban ini menjadi sarana bagi anggotanya untuk saling sharing dan saling mendukung, tuturnya

Jeannetta mempersiapkan para scholars yang akan berangkat dengan cara memfasilitasi mereka dengan kegiatan akademis, yaitu mempelajari mata pelajaran yang akan mereka terima di Singapura nanti, dan memberikan kesempatan pada mereka untuk mengikuti training motivasi + metode belajar ‘Otak Kanan’ di tempatnya. Puncaknya, mereka dikumpulkan dan dibina dalam outbound agar bisa lebih saling mengenal. Pembinaan di outbound ditekankan pada kerjasama dan penguatan mental mereka sebelum berangkat.

Hasil dari outbound  ini sangat nyata. Jika sebelumnya cukup banyak scholars yang ‘stress’ karena tidak biasa dengan cara belajar di Singapura, maka sejak 2006 para scholars sudah jauh lebih siap mentalnya, dan sudah tidak terkejut lagi dengan situasi belajar di sana, ungkapnya. Anak-anak penerima scholarship ini adalah anak-anak pilihan, yang sayangnya seringkali belum terlalu tergali potensi pribadinya. Mereka lebih banyak tergarap 'Otak Kiri'nya. Penggarapan ‘Otak Kanan’ masih kurang sebanding dengan penggarapan 'Otak Kiri', ujarnya.

Selain itu, seperti yang saya katakan di atas, sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang masih terlalu fokus pada hal-hal yang sifatnya akademis semata. Sementara, paling tidak di Singapura, saya perhatikan para pelajar ditempa baik di bidang akademis maupun non-akademis secara lebih seimbang. Selain hal-hal akademis, mereka juga diajar berbagai jenis kecerdasan lainnya, seperti emosional, kreatif, sosial, spiritual, dan lain-lain, secara terpadu dan dalam porsi yang signifikan untuk mendidik mereka menjadi anak-anak yang 'balance'. Berbagai jenis kecerdasan inilah yang saya ajarkan di dalam kelas, ditambah dengan 'public speaking' dan 'leadership'. Selain itu mereka juga diajari metode belajar dengan ‘Otak Kanan’ serta diajak mengenal perbedaan-perbedaan akademis antara di Singapura dan di Indonesia, tutur Jeannetta.

Jeannetta dan kedua anak didiknya sharing dalam seminar motivasi
ANGEL & DEMON di Solo, 13 Maret 2013
Menurut Jeannetta, anak-anak yang sudah ‘diisi’ dan disiapkan mentalnya saat masih di Indonesia, bukan hanya akan 'survive' di Singapura. Beberapa tahun belakangan ini mereka bahkan banyak yang berhasil  menjadi  juara-juara se-Singapura (Singapore Top Scorers), serta banyak yang memiliki prestasi Internasional. Hebatnya lagi, anak-anak itu justru lebih terpupuk rasa nasionalismenya dibandingkan dengan saat masih di Indonesia. Saat ada libur akhir tahun yang panjang misalnya, mereka bisa pulang sekitar tiga mingguan ke Indonesia. Namun, waktu yang dua minggu biasanya mereka habiskan dengan mengajar anak-anak di daerah terpencil atau di kota-kota kecil di Indonesia. Mereka bahkan rela kerja sosial di sela-sela kesibukan mereka di Singapura, agar bisa membelikan kebutuhan dari sekolah yang akan mereka kunjungi, termasuk perangkat komputer. Semua biaya tak ada yang mereka minta dari orangtuanya, ungkapnya.

Sebagai seorang ibu yang banyak memiliki anak-anak didik, tentu Jeannetta juga bangga kepada anak kandungnya yang berprestasi. Bahkan  momen paling membahagiakan dalam hidupnya adalah saat melahirkan kedua putranya, Henry William (1990, saat ini di NUS Pharmacy) dan James Alexander (1993, saat ini tahun terakhir di Raffles Institution). Mereka berdua adalah KARUNIA luar biasa dari Tuhan yang selalu memunculkan energi luar biasa dalam hidup saya dan suami. Walaupun keduanya laki-laki, namun mereka tak pernah menyusahkan kami orangtuanya. Hubungan kami berempat sangat erat, saling terbuka dan saling mendukung. Saya sangat mensyukuri hal tersebut, ungkap Jeannetta.

Jeannetta bukanlah wanita ibu rumah tangga biasa. Dia adalah wanita yang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan. Selain menjadi Managing Director/Interior Designer INTERAMA (Galeri Selaras), dia juga terlibat di berbagai kegiatan, antara lain; sebagai konselor masalah anak dan keluarga, presenter Acara Rohani Katholik (sejak 1996) untuk media TV, Anggota Dewan Pengurus Komsos KAJ, Direktris & Pengajar pada “Plus & Plus” (Motivation Training, MC, Public Speaking), memberikan pelatihan motivasi untuk staf perusahaan-perusahaan, anak-anak sekolah maupun guru-guru, memberikan pelatihan motivasi serta pendampingan bagi ’scholars’ (penerima beasiswa dari Pemerintah Singapura), memberikan pelatihan Public Speaking untuk perusahaan- perusahaan, pelajar, maupun masyarakat umum.

Jeannetta juga sudah banyak meraih prestasi dan menerima berbagai penghargaan, antara lain; Srikandi-Srikandi Terbaik Indonesia 2008 (Versi Smart Naco Indonesia & PT Citra AksaraKomunika), The Most Favorite Leadership 2006 (Versi Pusat Prestasi Indonesia), Best Professional Figure, Public, Educator,Enterpreneur Award 2005 (Versi Indonesia Achievement Association & South East Asian Achievement Association), Golden Trophy 2005 (Versi WAA), Business Indonesian Award 2004 (Versi International Achievement Foundation & Pusat Prestasi Indonesia), International Professional of the Year 2003 (Versi International Achievement Foundation).
               
Jeannetta adalah Sang Pemenang, yang memiliki loyalitas/kesetiaan. Kesetiaan kepada keluarga, kesetiaan kepada anak-anak, kesetiaan kepada dunia pendidikan. Kesetiaan yang menjadi sumber energi bagi dia dalam menjalankan sederet aktifitas. Jeannetta mengakui bahwa kesuksesan Sang Pemenang tidak pernah berdiri sendiri. Suami dan anak-anaknyalah yang menjadi salah satu kekuatan Jeannetta dalam meraih pencapaian-pencapaiannya. Jeannetta adalah Sang Pemenang.

Di akhir perbincangan dengannya, Jeannetta menyampaikan pesannya: “Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang besar. Sumber daya manusia kita tidak kalah dari bangsa lain, asalkan kita mau terus meningkatkan ‘kualitas diri’ kita. Dalam menghadapi kekurangan yang ada, cobalah untuk tidak hanya mengkritik. Lakukan KARYA NYATA yang bisa memperbaiki keadaan. Sekecil apapun sumbangsih kita, jauh lebih baik berbuat nyata!

Akhirnya, Jeannetta sangat meyakini kebenaran kalimat-kalimat berikut:
“We ourselves feel that what we are doing is just a drop in the ocean. But the ocean would be less because of that missing drop” – Mother Teresa
“What I can do, you cannot. What you can do, I cannot. But together we can do something beautiful for God” – Mother Teresa
“It is not how much you do, but how much love you put into the doing that matters” – Mother Teresa

Salam Pemenang!

Catatan
  • Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah InspiratifSang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung atau di amazon.com (search “ANGEL & DEMON Indonesia edition”).
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar