Sabtu, 12 Mei 2012

Satu Cerita Dalam Musibah Sukhoi Superjet 100


Foto: sukhoi.org
Dunia penerbangan saat ini kembali dirundung duka. Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan demo terbang jatuh menabrak tebing Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat pada hari Rabu, 9 Mei 2012. Pesawat produksi Rusia yang terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma itu mengangkut sekitar 50 penumpang dan awak pesawat. Penerbangan yang rencananya menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga para korban. Saya sendiri dapat merasakan bagaimana kesedihan para keluarga korban yang tiba-tiba harus kehilangan orang yang dicintainya. Dan melalui blog ini saya mengucapkan rasa bela sungkawa kepada keluarga para korban yang mungkin kebetulan membaca artikel ini. Semoga Allah memberi kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan para korban.

Selain rasa simpati, saya juga kagum atas respon yang ditunjukkan oleh salah satu keluarga korban. Dia adalah Michael Arcy, putra salah satu penumpang yang bernama Rossy Witham yang turut tewas dalam kecelakaan udara itu. Rossy Witham adalah pramugari Sky Air, satu dari sekitar empat puluhan undangan untuk ikut dalam penerbangan demo itu. Michael Arcy, yang baru berusia 19 tahun,  harus merelakan kepergian ibunya yang meninggalkan dia dan adiknya, Kevin yang baru berusia 14 tahun. Tetapi, respon dia sungguh membuat saya kagum. Michael sadar bahwa kepergian ibunya adalah suatu fakta yang tidak bisa dia ubah. Dia sadar larut dalam kesedihan dan penyesalan tidak akan mengubah keadaan itu. Sikap yang ditunjukkan Michael yang mampu dengan tabah dan ikhlas menerima keadaan dan mengambil tanggung jawab sebagai pengganti ibunya membesarkan adiknya, dalam usianya yang masih sangat muda, sungguh mengagumkan. Itulah sikap Sang Pemenang yang dimilikinya. Michael adalah calon pilot. Kecelakaan yang menimpa ibunya tidak menyurutkan niatnya untuk berkarir sebagai pilot yang beresiko tinggi dan menuntut disiplin dan tanggung jawab besar. "Show must go on", katanya seperti ditulis Kompas, 11 Mei 2012. Saya percaya ketegaran yang ditunjukkan Michael adalah pengaruh ibunya, yang menjadi orangtua tunggal (single parent) saat berusia 31 tahun, yang harus membesarkan dia dan adiknya yang saat itu baru berusia 7 dan 2 tahun.

Saat saya menulis artikel ini, seorang kawan mengirim sebuah cerita melalui BlackBerry Messenger. Mungkin sebagian dari Anda juga mendapat kiriman cerita itu. Namun, akan saya tuliskan cerita itu disini. Ada seorang wanita yang merasa sangat kehilangan saat ditinggal mati suami yang sangat dicintainya. Demikian besar rasa cintanya, sehingga ia memutuskan untuk mengawetkan jasad suaminya, dan meletakkannya di dalam kamarnya. Setiap hari, wanita itu menangisi suaminya yang telah menemaninya bertahun-tahun. Wanita itu merasa dengan kematian suaminya, tidak ada lagi makna atas hidup yang dijalaninya. Cerita tentang wanita itu terdengar oleh seorang bijak. Didatanginya wanita itu, dan orang bijak itu mengatakan dapat menghidupkan kembali suaminya, dengan suatu syarat. Orang bijak itu meminta disediakan beberapa bumbu dapur yang hampir setiap rumah memilikinya. Syaratnya, bumbu-bumbu dapur tersebut harus diminta dari rumah yang anggota keluarganya belum ada yang meninggal. Mendengar hal itu, muncul semangat dalam diri wanita itu. Wanita itu berkeliling ke seluruh tetangganya dan berbagai penjuru tempat. Setiap rumah memiliki bumbu dapur yang diminta orang bijak itu. Tetapi, setiap rumah mengaku pernah mengalami musibah ditinggal mati oleh anggota keluarganya. Entah itu orangtua, suami, istri, nenek, kakek, adik, kakak, bahkan ada yang anaknya sudah meninggal. Waktu terus berlalu, dan tidak ada satupun rumah yang didatangi wanita itu bisa memenuhi syarat yang diminta orang bijak tersebut. Hal itu membuat si wanita sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami ditinggal mati oleh orang yang disayangi. Akhirnya, dia kembali mendatangi orang bijak itu dan menyatakan pasrah atas kematian suaminya. Kemudian wanita itu menguburkan jasad suaminya, dan melanjutkan hidupnya yang sempat terpuruk.    

Beberapa waktu yang lalu, di suatu siang, seorang direktur salah satu BUMN dipanggil ke Kementrian BUMN. Direktur itu sama sekali tak memiliki prasangka. Dia berpikir itu adalah panggilan rapat seperti biasanya. Ternyata, setibanya di sana dia baru tahu bahwa kedatangannya adalah untuk melakukan acara serah terima jabatan dengan penggantinya, saat itu juga. Malam itu mantan direktur itu kembali ke kantornya untuk mengemas barang-barang pribadinya. Dan esok harinya dia sudah tidak muncul lagi di kantornya, karena penggantinya sudah langsung bertugas hari itu juga.

Dalam kehidupan kita pasti pernah mengalami situasi seperti yang dialami oleh Michael Arcy, dan keluarga para korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 itu, dalam berbagai macam bentuk. Apakah itu kehilangan anggota keluarga, kehilangan jabatan dan karir, kehilangan harta benda, dan lain-lain. Jika Anda saat ini sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan terasa begitu menghempas hidup Anda ke titik paling nadir, segeralah bangkit. Dimulai dari sikap pasrah dan ikhlas menerima situasi yang tidak bisa kita ubah itu. Dunia Anda belum kiamat. Jadi, lanjutkan hidup Anda. Ambil tanggung jawab, dan bertindak saat ini juga. Perasaan sedih, kecewa, marah adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tetapi, meratapi dan tenggelam dalam kekecewaan, kesedihan, kemarahan tidak akan membawa kita kemana-mana. Sikap seperti itu justru akan semakin menenggelamkan kita ke dalam keterpurukan yang lebih dalam. Sesungguhnya kualitas Sang Pemenang diuji ketika menghadapi situasi yang sulit, dan keberhasilan mengatasinya.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Senin, 07 Mei 2012

Ketika Sesuatu Terjadi Tidak Sesuai Rencana


Tuhan,
Berikanlah kekuatan agar kami berani mengubah apa yang bisa kami ubah
Berikanlah keikhlasan untuk menerima apa yang tidak bisa kami ubah
Dan berikanlah kebijaksanaan untuk dapat membedakan keduanya

Sore hari itu, Jum’at, 04 Mei 2012, saya masih menunggu di Garuda Executive Lounge Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar. Hingga saatnya boarding call untuk penumpang Garuda dengan nomor penerbangan GA-643. Saya melirik jam di pergelangan tangan kiri saya. Hmm.....tepat sesuai dengan rencana. Saya memasukkan iPad ke dalam tas, dan bergegas memasuki pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta. Perjalanan selama dua jam saya isi dengan membaca surat kabar Kompas, dan masih sempat menikmati film laga Jet Li yang disediakan dalam pesawat Boeing 737-800. “Flight attentands, prepare for landing”, terdengar instruksi dari kokpit pesawat. Kembali saya melirik jam di pergelangan tangan saya. Tepat sesuai dengan perkiraan, pesawat akan menyentuh landasan Bandara Soekarno-Hatta pada jam 17.15 WIB. Biasanya, tidak berapa lama sesudah intruksi pertama akan ada instuksi berikutnya, “Flight attendants, landing position”, sebelum akhirnya pesawat menyentuh landasan. Namun, yang ada adalah pengumuman bahwa pesawat belum bisa mendarat karena masih menunggu izin dari otoritas bandara, dan pesawat kemudian berputar-putar di atas langit Jakarta. Hampir 30 menit berputar-putar, akhirnya terdengar pengumuman dari kokpit bahwa berhubung izin dari otoritas bandara belum juga keluar, dan pesawat sudah cukup lama berputar-putar maka diputuskan untuk mendaratkan pesawat di bandara terdekat, yaitu di Palembang. Pesawat akan mengisi bahan bakar di sana sebelum terbang kembali ke Jakarta.

Terdengar reaksi penumpang saling memandang dan bertanya-tanya apa penyebab Bandara Soekarno-Hatta tidak dapat didarati oleh pesawat saat itu. Waktu menunjukkan hampir jam 19.00 ketika pesawat GA-643 mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. Segera terlihat pertugas bandara setempat masuk ke dalam kokpit pesawat dan berbicara dengan pilot. Cukup lama kami menunggu, informasinya simpang siur. Di awal ketika mendarat, diumumkan bahwa penumpang tidak perlu turun karena hanya untuk mengisi bahan bakar kemudian akan terbang kembali. Tetapi, akhirnya diumumkan bahwa seluruh penumpang diminta turun dengan membawa bagasi kabin, masuk ke ruang tunggu bandara, dan menunggu pengumuman boarding berikutnya tanpa ketegasan sampai berapa lama penumpang harus menunggu. Setiba di terminal, banyak penumpang mengakses situs berita detik.com. Barulah diketahui bahwa situasi tersebut diakibatkan oleh pesawat Singapore Airline SQ-232 yang terbang dari Sydney, Australia dengan tujuan bandara Changi, Singapura, yang meminta ijin mendarat di bandara Soekarno-Hatta karena ada kondisi darurat, dimana seorang penumpang mengalami serangan jantung sehingga harus diturunkan di bandara Soekarno-Hatta. Berhubung pesawat tersebut adalah pesawat super jumbo Airbus A-380, pesawat berhenti di landas pacu. Itulah yang menyebabkan banyak pesawat yang akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta pada saat itu terpaksa harus berbelok ke Palembang. Demikian juga pesawat yang akan lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta juga terhambat.

Setelah lama menunggu tanpa ada kepastian, akhirnya saya mendengar pengumuman bahwa pesawat GA-643 akan diberangkatkan lagi ke Jakarta pada pukul 21.40, karena harus menunggu pilot dan cabin crew dari Jakarta. Ternyata, pilot dan cabin crew yang membawa kami dari Makassar hari itu sudah 3 kali bertugas sehingga harus diistirahatkan. Situasi tersebut mengakibatkan jadual banyak penumpang menjadi berantakan. Ada seorang berkewarganegaraan asing rencananya dari Jakarta akan langsung terbang ke Amsterdam. Ada lagi yang rencananya dari Jakarta terus ke Semarang. Mereka semua malam itu terpaksa harus menginap dulu di Jakarta untuk keesokan harinya baru terbang ke tujuannya. Saya sendiri, sebenarnya sudah merencanakan untuk menonton film ke bioskop bersama anak-anak saya. Tetapi, kenyataannya terjadi tidak sesuai dengan rencana. Kecewa sudah pasti, demikian juga dengan penumpang lainnya. Tetapi, saya menyadari bahwa yang terjadi adalah sesuatu yang tidak dapat saya ubah sehingga saya harus bisa menerima kenyataan tersebut. Demikian pula saya perhatikan mereka yang malam itu terpaksa gagal tiba di tujuan akhirnya, bersikap pasrah menerima kenyataan itu. Namun, bagi beberapa penumpang situasi itu malah berdampak positif. Penumpang yang duduk di kursi seberang saya, dan beberapa lainnya, ternyata tujuan akhirnya adalah Palembang. Bagi mereka waktu tiba di Palembang menjadi lebih cepat, karena tidak perlu menunggu waktu transit di Jakarta sebelum terbang ke Palembang. Bagi saya, walaupun saya gagal memenuhi janji untuk menemani anak-anak saya menonton film di bioskop tetapi saya mendapat kesempatan langka untuk berbincang-bincang dan berdiskusi dengan mantan atasan saya di perusahaan yang saya tinggalkan delapan tahun yang lalu. Saya katakan kesempatan langka karena walau kami sama-sama di Jakarta, tetapi untuk mencari waktu khusus berjam-jam untuk berbincang-bincang banyak hal merupakan kesempatan yang hampir-hampir langka karena kesibukan masing-masing.

Respon kita ketika menghadapi suatu situasi jauh lebih penting daripada situasi itu sendiri. Kemampuan membedakan situasi yang bisa kita ubah dan yang tidak bisa kita ubah merupakan hal yang sangat penting. Bertindaklah untuk mengubah situasi yang bisa kita ubah. Tetapi, jika memang tidak bisa kita ubah terimalah situasi itu dengan lapang dada. Sang Pemenang, seringkali menemui situasi-situasi yang tidak bisa diubah. Hasil pencapaian bulan ini yang sudah terjadi adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah, jadi terimalah situasi tersebut dan berpikir jernih untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di bulan berikutnya. Dengan menerima situasi yang tidak bisa kita ubah maka kita tidak perlu menghabiskan energi untuk ngotot mengubahnya. Dengan menerima situasi yang tidak bisa kita ubah maka pikiran kita akan tetap jernih dan menikmati hidup dengan lebih baik. Daripada marah tidak karuan, saya menikmati 3 jam waktu bincang-bincang dengan mantan atasan saya. Keterlambatan 6 jam tiba di Jakarta menjadi sesuatu yang tidak membuat hari saya menjadi kacau. Demikian juga halnya, respon mendiang Endang Rahayu Sedyaningsih ketika mengetahui dirinya menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Alih-alih “menggugat” Tuhan atas penyakit yang dideritanya, beliau mensyukurinya dan menerima dengan ikhlas. Dengan respon seperti itu beliau mampu menjalani sisa waktu hidupnya dengan produktif dan memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih giat. Beliau berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk tidak merespon situasi sulit tersebut secara destruktif. Sesungguhnya Sang Pemenang sejati adalah mereka yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri.

Salam Pemenang!
                            
Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Minggu, 29 April 2012

Hidupnya Tinggal Tiga Hari


Adalah seorang eksekutif muda dan sukses, sebut saja namanya Andrew. Segala simbol kesuksesan yang kita bayangkan sudah dimilikinya. Istri yang baik, anak-anak yang lucu, rumah dengan segala isinya serta mobil yang berderet. Namun, hidupnya terasa kering dan tidak bahagia. Andrew merasa istrinya terlalu cerewet, setiap pagi selalu mengingatkan dia untuk tidak lupa sarapan, setiap siang BBM (BlackBerry Messenger) istrinya selalu mengingatkannya untuk tidak lupa makan, dan minum supplemen. Andrew merasa anaknya yang sulung terlalu menuntut, merajuk minta ditemani saat akan tampil dalam acara di sekolah. Ketika dengan semangat anak-anaknya menceritakan kejadian-kejadian di sekolah bersama teman-temannya, Andrew merasa anak-anaknya terlalu mengganggunya, menyita waktu istirahatnya. Andrew merasa para pemegang saham perusahaan tempat dia bekerja terlalu menuntut. Andrew merasa staffnya di kantor selalu tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Dia merasa selalu jadi bahan gunjingan staffnya di kantor. Dia merasa semua karyawannya mengkorupsi waktu kerja sehingga pekerjaan menjadi terbengkalai. Dia merasa tetangga-tetangganya sinis karena iri atas keberhasilan dia. Dia merasa berada pada lingkungan yang tidak mampu membuat dia bahagia. Dia merasa sia-sia dan putus harapan, karena hubungan dengan istri menjadi kering, hubungan dengan anak-anak selalu tegang, hubungan dengan tetangga pun sama saja, hubungan dengan para pemegang saham dan staf di kantor sangat menekan dia. Dalam perasaan kesia-siaan Andrew memutuskan untuk menyudahi hidupnya, tetapi dia ingin dengan cara yang  tidak menyakitkan. Dia tidak mau menggantung dirinya, dia tidak ingin memutus urat nadinya, dia tidak ingin menusuk jantungnya dengan pisau. Andrew ingin cara mati yang perlahan dan tidak terasa.

Akhirnya, Andrew datang berkonsultasi kepada seorang “Guru”. Dia ceritakan semua persoalannya, dan keinginannya mati secara perlahan dan tidak menyakitkan. Sang “Guru” hanya menanyakan satu pertanyaan, "Apakah sudah bulat dengan keinginan kamu, Nak?" Dengan mantap Andrew menjawab, "Ya". Tapi sang “Guru” menyuruh dia untuk pulang dan memikirkannya matang-matang dalam waktu tiga hari, setelah itu Andrew diminta datang kembali. Tiga hari kemudian, Andrew kembali datang menemui sang “Guru”, dan menyatakan kebulatan tekadnya. Akhirnya sang “Guru” memberikan sebotol cairan kepada dia untuk diminum selama tiga hari berturut-turut. “Pada hari ketiga keinginan kamu untuk meninggal tanpa rasa sakit akan terpenuhi”, demikian ujar sang “Guru”. Malam di hari pertama, Andrew meminum 1/3 cairan yang diberikan sang “Guru”. Dia merenung, dan merasa sedikit tenang membayangkan penderitaannya akan segera berakhir. Akhirnya malam itu dia tertidur dengan nyenyak. Malam di hari kedua, Andrew kembali meminum 1/3 cairan itu. Dia kembali merenung, dan merasa lebih tenang dibanding kemarin. Dia tersenyum dalam hati membayangkan besok adalah hari terakhir dia hidup. Hari terakhir dia merasakan penderitaan batinnya. Sebelum dia terlelap, dia memutuskan untuk berbuat yang terbaik bagi istrinya, bagi anak-anaknya, bagi tetangganya, bagi stafnya, bagi semua orang dalam lingkungannya hanya sekali saja sebelum nantinya dia benar-benar mati. Dan satu-satunya kesempatan itu adalah besok.

Andrew terbangun pada pagi harinya, dan merasakan hatinya begitu ceria. Dia keluar dari kamar tidur dan melihat istrinya sedang menyiapkan sarapan pagi. Dia menghampiri istrinya, memeluknya dan mengecup kening istrinya, seraya menyapanya, “Selamat pagi, sayang. Aku sangat mencintai kamu, dik”, bisiknya di telinga istrinya. Istrinya terkejut dan keheranan, namun merasakan kebahagiaan yang sangat indah. Seperti hari-hari sebelumnya, istrinya melayani dia dengan penuh kasih. Ketika anak-anaknya hadir menghampiri meja makan, Andrew melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. Anak-anaknya pun terkejut dan keheranan, namun rasa senang segera menghapus keterkejutan anak-anaknya dan berganti dengan keriangan dan semangat yang pada hari-hari sebelumnya telah lama menghilang. Andrew pergi ke kantor dengan perasan yang berbeda. Sepanjang perjalanan dia berpikir mengapa baru hari ini dia merasakan perasaan yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dia merasakan istri dan anak-anaknya begitu mencintai dia. Perasaaan yang telah lama hilang dari dirinya. Begitu turun dari mobil dia menyapa petugas satpam yg menyambutnya. Satpam yang terselimut rasa heran atas perubahan sikap Andrew dengan sigap memberi hormat dan tersenyum kepada Andrew sama seperti hari-hari sebelumnya. Demikian pula staf Andrew. Dan kembali Andrew merasa heran mengapa hari itu perasaanya berbeda? Mengapa stafnya menjadi begitu baik? Apa yang terjadi????

Sore, ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, dia kembali merenung mengapa semua orang dalam lingkaran kehidupannya hari itu begitu tampak baik, sayang, dan hormat  kepada dia, padahal hari itu dia hanya ingin melakukan hal-hal baik kepada mereka semua karena hari itu adalah hari terakhir dia hidup. Besok dia akan meninggalkan semuanya dengan tenang. Dalam kekhusukannya dia merenung tiba-tiba dia merasa begitu indahnya hidup ini. Dia merasa sayang meninggalkan keluarganya. Dia merasa sayang meninggalkan semua orang dalam lingkaran kehidupannya. Tapi......bagaimana?? Hidupnya tinggal hari itu. Cairan di botol tinggal sepertiganya, tenggakkan terakhir sebelum hidupnya berakhir.Dengan seketika, Andrew meminta sopirnya memutar arah menuju rumah sang “Guru”. Dia ceritakan semua yang dialami selama tiga hari ini dan memohon kepada sang “Guru” untuk menetralkan dua pertiga cairan yg sudah dia minum. Sang “Guru” kembali bertanya kapada Andrew, "Apakah sudah bulat dengan keinginan kamu, Nak?" Dengan mantap Andrew menjawab, "Ya". "Baiklah", kata sang “Guru”, "Kamu tidak butuh apa-apa dari saya karena cairan yang saya berikan hanyalah air minum biasa. Yang kamu butuhkan adalah sikap seperti yang kamu tunjukkan pada hari ini. Pulanglah dan nikmati hari-hari indahmu seperti hari ini", tutup sang “Guru” seraya masuk ke dalam meninggalkan Andrew.

Sebagian dari kita mungkin mengalami situasi mirip Andrew. Kita merasa lingkungan kita, lingkungan keluarga di rumah dan di tempat kerja ataupun lingkungan lainnya, begitu menekan, selalu membuat kita jengkel dan memicu amarah kita. Kita mengharapkan orang-orang di lingkungan kita memahami kita dan mau berubah sesuai dengan keinginan kita. Tapi, kenyataannya adalah bahwa Anda tidak dapat mengubah orang-orang dalam lingkungan hidup Anda, sekalipun itu adalah suami / istri atau anak-anak Anda. Semakin keras Anda berusaha mengubah mereka maka Anda akan semakin merasa tertekan, bahkan depresi. Perubahan selalu dimulai dari diri kita, karena hanya kitalah yang bisa mengubah diri kita. Jadi, jika Anda mau orang-orang di lingkungan hidup Anda berubah, ubahlah dulu diri kita. Sang Pemenang hidup seakan-akan hari ini adalah hari terakhirnya, sehingga dia akan bersikap baik dan bertindak dengan benar hari ini, bukan esok. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Mungkin esok kita sudah tidak punya kesempatan lagi.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Minggu, 22 April 2012

Generalis atau Spesialis?


Sumber foto: generalspecialist
Kita mengenal istilah generalis dan spesialis umumnya dalam konteks karir. Entah itu karir di bidang penjualan, di bidang pendidikan, di bidang keuangan, di bidang seni, ataupun di bidang-bidang lainnya. Generalis merujuk pada kemampuan seseorang yang memahami banyak bidang, tetapi pengetahuannya terhadap bidang-bidang tersebut tidak begitu mendalam. Sebaliknya, spesialis adalah mereka yang memiliki pengetahuan pada bidang tertentu saja, tetapi para spesialis menguasai bidang tertentu tersebut secara mendalam. Mana yang lebih baik, menjadi generalis atau spesialis?

Dalam pandangan saya, spesialis dan generalis bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Terutama jika kita melihatnya dalam konteks perjalanan Sang Pemenang. Perbedaan utama antara keduanya adalah pada masalah fokus. Spesialis menguasai secara mendalam karena mereka fokus mempelajari dan menekuni bidang tertentu saja. Sedangkan para generalis membagi fokusnya ke beberapa bidang sehingga tahu banyak bidang tetapi tidak sedalam para spesialis. Kita menyadari bahwa perjalanan Sang Pemenang adalah perjalanan yang tak pernah berujung, dari satu tahapan ke tahapan berikutnya. Istilah yang digunakan dalam setiap tahapan adalah “moving to the next level” dan “keep going forward”. Mari kita renungkan sejenak, masa kita belajar di sekolah dasar hingga tingkatan SMP kita belajar menjadi generalis. Suka atau tidak kita harus belajar dan melewati ujian semua mata pelajaran untuk bisa moving to the next level. Pada tingkatan SMA, kita masih belajar menjadi generalis, namun sekaligus juga belajar menjadi spesialis dengan kadar yang belum tinggi. Itulah sebabnya ada pembagian jurusan IPA atau IPS. Ketika memilih jurusan IPA atau IPS minat kita diuji dengan mata pelajaran yang dikhususkan untuk tiap-tiap jurusan. Sekali lagi suka atau tidak suka kita harus belajar semua mata pelajaran sesuai dengan jurusan kita agar bisa moving to the next level. Di jenjang perguruan tinggi strata pertama, kita belajar menjadi lebih spesialis dengan memilih salah satu jurusan dari sekian banyak jurusan. Namun, sesungguhnya kita juga masih belajar menjadi generalis dengan kadar yang lebih sedikit. Dan semua mata kuliah harus kita pelajari untuk bisa moving to the next level. Demikian seterusnya pada strata selanjutnya, kadar spesialis terus meningkat. Itulah sebabnya ada dokter spesialis, ada notaris, ada dokter gigi, ada ahli ekonomi pembangunan, ada pelukis surealis, pelukis naturalis, post-modern, dan lain-lain. Jadi, agar Sang Pemenang dapat terus menyusuri setiap tahapan rute perjalanan dia harus belajar menjadi spesialis-generalis-spesialis-generalis-spesialis, dan seterusnya.

Bagaimana dengan dunia kerja? Sama saja, Anda mulai dari level pertama belajar menjadi spesialis. Misalnya Anda adalah staf akunting, maka Anda harus menguasai sedalam-dalamnya mengenai akunting. Ketika Anda ingin moving to the next level ke level koordinator atau supervisor, Anda mulai belajar lagi menjadi generalis, yaitu mengelola dan memimpin anggota tim dan bidang yang lebih luas, yaitu bidang perpajakan atau keuangan, kemudian fokus lagi menjadi spesialis di bidang keuangan. Demikian pula Jika Anda memulai dari seorang tenaga penjualan, Anda harus menjadi spesialis dalam bidang penjualan. Ketika Anda ingin moving to the next level, Anda perlu menjadi generalis dengan mempelajari bidang pemasaran. Demikian seterusnya dalam tahapan-tahapan selanjutnya. Itulah sebabnya dalam salah satu level ada istilah general manager, manajer umum. Manajer yang agak generalis tapi spesialis, karena menguasai banyak bidang tapi sangat menguasai satu bidang. Seorang pemimpin perusahaan pasti berangkat dari seorang spesialis, sejalan dengan perkembangan karirnya dia belajar menjadi seorang generalis. Seorang pemimpin perusahaan yang memulai karir di bidang penjualan memahami bidang keuangan, perpajakan, sumber daya manusia, operasional. Tetapi coba minta dia untuk melakukan audit forensik keuangan, pasti dia akan angkat tangan.

Denny Delyandri & Selvi Nurlia
Bagaimana dengan seorang pengusaha? Juga tidak berbeda. Ketika seseorang mau memulai usaha, pastilah dia seorang spesialis. Dia sangat menguasai hal yang menjadi bidang usahanya. Sebagai contoh adalah teman saya yang berusaha di bidang oleh-oleh makanan di Batam. Anda mungkin pernah mendengar Kek Pisang Villa (www.kekpisangvilla.com). Pada awal usahanya, suami istri Denny dan Selvi fokus pada keahlian mereka yaitu membuat cake pisang. Sejalan dengan pertumbuhan usahanya mereka sudah harus belajar menjadi generalis dengan mempelajari jenis oleh-oleh lainnya, mengembangkan varian rasa lainnya, mereka belajar bagaimana mengelola bisnis oleh-oleh, mereka belajar tentang keuangan, mereka belajar menjaga cash-flow, mereka belajar pemasaran, mereka belajar aspek-aspek pelanggan, dan mereka belajar banyak hal. Hal-hal tersebut dibutuhkan ketika Anda ingin moving to the next level dalam artian usaha Anda berkembang dan terus berkembang melalui setiap tahapan perkembangan. Saat ini sudah ada 7 cabang Kek Pisang Villa.

Archimedes
Jadi, sekali lagi, dalam menyusuri perjalanan Sang Pemenang Anda harus menjadi spesialis di salah satu bidang dan generalis untuk bidang-bidang lainnya. Prof. Yohanes Surya adalah seorang spesialis di bidang fisika. Apakah dia mengerti ilmu ekonomi? Saya yakin jawabannya adalah “Ya”. Tapi, apakah pemahamannya terhadap ilmu ekonomi sama baiknya dengan pemahamannya terhadap ilmu fisika? Kali ini, pasti jawabannya adalah “Tidak”. Prof. Yohanes Surya adalah spesialis dan generalis. Demikian pula Tony Prasetiantono adalah spesialis di bidang ekonomi dan generalis di bidang-bidang lainnya. Konsultan adalah seorang generalis karena harus memahami banyak industri kliennya, tapi juga spesialis di salah satu bidang. Makanya kita mengenal konsultan pemasaran, konsultan strategi, konsultan pajak, konsultan ISO, konsultan HRD, dan lain-lain. Apakah ada spesialis di beberapa bidang, yaitu orang yang sangat menguasai beberapa bidang sekaligus? Mungkin saja ada, tapi sangat sedikit. Dari yang sangat sedikit itu di antaranya adalah Archimedes (287-212 SM) dan Leonardo da Vinci (1452-1519). Archimedes adalah ahli matematika, fisika, enjinering, dan astronomi. Leonardo da Vinci adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, pelukis renaisans. Tetapi, baik Archimedes ataupun Leonardo da Vinci sama-sama tidak menguasai ilmu ekonomi, bukan?

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.