Kamis, 30 Mei 2013

Dennis: It Is Not The End of The World



Deborah adalah seorang ibu yang sangat luar biasa. Luar biasa bagaimana dia berdamai dengan dirinya menerima kenyataan yang tidak bisa ditolaknya dan mendidik anaknya yang kekurangan menjadi anak yang hebat. Kami bersyukur, Deb berkenan membagi kisahnya ini.

Ketika usia kandungan Deb, begitu biasa dia dipanggil, memasuki bulan kesembilan dan masa persalinan sudah semakin dekat, dokter mengharuskan pemeriksaan rutin dan melakukan USG. Saat dokter mengamati layar monitor, Deb melihat wajah kaget dokter yang memeriksa USG. Dokter melakukan pemeriksaan berulang kali, dan terkesan tidak percaya dengan apa yang dilihat. Pada saat itu rasa kecurigaan Deb semakin menjadi karena dokter melakukan USG dengan lebih detail lagi dengan mengukur panjang seluruh tubuh bayi yang ada dalam kandungannya.

Setelah pemeriksaan USG selesai dokter menjelaskan bahwa bayi dalam kandungannya tidak normal struktur tulangnya. Otaknya normal namun tinggi badan akan berbeda dengan anak lainnya. Bagai disambar petir Deb kaget luar biasa. Deb tidak siap mendengar penjelasan dokter atas kondisi bayinya. Deb sempat marah kepada dokter karena tidak yakin dengan analisis dokter atas hasil pemeriksaan USG.

Deb dan Dennis
Hari persalinan pun tiba. Saat itu, secara psikologis Deb sudah lebih siap menerima kelahiran bayinya, apa pun kondisinya. Akhirnya sang bayi lahir pada tanggal 4 Mei 1995, dengan berat badan 3,8 kg dan panjang 49 cm. Bayi itu diberi nama Dennis Yobel Fredrick Parlindungan. Nama Dennis dipilih karena pada saat mengandung, Deb suka sekali menonton film Dennis the Manage, yang menceritakan anak kecil yang aktif, kreatif, banyak ide, dan menyenangkan banyak orang.
Dennis terlahir dengan kondisi berbeda. Ukuran panjang tangan dan kakinya lebih pendek dari ukuran anak normal. Dan yang lebih menyedihkan ternyata di kepala Dennis ada penyumbatan (hydrocephalus). Menurut dokter, harus dilakukan tindakan operasi tiga kali sampai Dennis dewasa. Jika tidak di operasi akan beresiko, dan menyebabkan kepala Dennis membesar. Pada waktu itu Deb hanya pasrah kepada Tuhan, karena tidak mungkin Dennis yang masih bayi harus di operasi. Deb memutuskan untuk tidak mengikuti saran dokter. Dia hanya percaya bahwa kuasa Tuhan dan mukjizat Tuhan masih ada.

Setiap ibadah hari Minggu, Deb minta didoakan oleh Pendeta Yesaya Pariadji. Puji syukur kepada Tuhan kondisi kepala Dennis berangsur-angsur pulih, tidak membesar dan normal. Bahkan dokter anak yang menanganinya kelahiran Dennis, dr. Nana Karnaen di R.S. Bunda, Menteng, sempat terkejut dengan perkembangan kepala Dennis yang ternyata normal.

Deb menyadari bahwa dengan kondisi pertumbuhan Dennis yang tidak normal maka Deb harus mempersiapkan mentalnya menghadapi tantangan demi tantangan untuk membesarkan anaknya, dimana akan ada banyak mata yang akan memandang sinis maupun reaksi dari lingkungan sekitar yang tentunya akan membuat down. Deb bertekad memperlakukan Dennis seperti anak normal, tidak memberikan ekstra proteksi tapi malah sebaliknya memberikan support supaya Dennis kuat, tidak mudah menangis, tidak mudah menyerah bahkan percaya diri dan humble. Deb berusaha tegar menghadapi kenyataan, dan selalu berfikir positif.

Deb selalu mengatakan bahwa Dennis adalah anak yang normal, selalu mengajak dia kemana pun pergi tanpa ada perasaan malu. Dia tahu bahwa banyak orang menganggap Dennis anak yang aneh. Tapi Deb tidak peduli, karena Dennis luar biasa dan sangat spesial untuknya. Di balik kekurangan yang dia dimiliki, Tuhan memberi kelebihan yang luar biasa yang tidak di miliki anak lain.

Masa kecil Dennis bersama orangtua dilaluinya dengan keceriaan. Dennis anak yang sangat aktif, dan memiliki rasa ingin tahu yang begitu kuat terutama dalam hal elektronik. Dennis anak yang pantang menyerah. Dia selalu berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Di usia yang masih belia, yaitu dua tahun, Dennis sudah pandai men-setting home theatre dan memasang laser disc sendiri. Waktu itu belum ada VCD/DVD. Dennis juga sangat suka musik terutama yang beatnya keras.

Berbeda saat-saat bersama orangtuanya yang dilalui dengan keceriaan, ternyata tantangan demi tantangan harus Dennis hadapi di masa awal sekolah. Inilah proses awal perjalanan hidup Dennis yang sesungguhnya. Dennis harus menghadapi tantangan itu sendirian, tidak ada yang mendampingi. Dennis bersekolah di T.K. Mutiara Indonesia, sekolah asuhan Kak Seto. Keceriaan di rumah belum tentu menjadi keceriaan di sekolah. Hampir setiap pulang sekolah Dennis menangis dan bertanya kepada Deb, Mami mengapa saya seperti ini?.

Mendengar pertanyaan seperti itu, ingin rasanya Deb menggantikan penderitaan Dennis. Tapi Deb sadar, dia harus kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihan di depan Dennis. Deb selalu menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan beragam bentuk tubuh. Ada yang tinggi, pendek, kurus, gemuk. Bahkan ada yang tidak sempurna.

Tantangan Dennis tidak hanya itu saja. Dennis juga sering harus menerima hinaan dan disingkirkan teman-temannya. Bahkan, tidak sedikit dari orang tua murid yang memandang sinis terhadap Dennis setiap melihatnya di setiap kegiatan sekolah. Sepertinya mereka malu untuk melibatkan Dennis.

Namun, Dennis sama sekali tidak membalas perlakuan teman-temannya. Bahkan, Dennis sangat sosial. Dia sangat sayang pada teman-temannya dan selalu ingin berbagi. Dia tidak tega melihat temannya menangis. Dengan sikap Dennis seperti itu, perlahan-lahan sebagian temannya mulai dapat menerima kehadiran Dennis yang “berbeda” dengan mereka. Dennis memiliki banyak teman. Akhirnya, teman-temannya juga menyayangi Dennis dan tidak memandang lagi kekurangan Dennis.

Sejak kecil talenta Dennis adalah di bidang musik, maka sejak kelas 1 SD Dennis belajar musik di Nuansa Musik untuk alat musik keyboard. Dennis selalu rajin berlatih dan mengikuti konser demi konser yang diadakan. Gurunya berkata bahwa bakat Dennis untuk memainkan alat musik keyboard sangat besar, dan dia memiliki talenta yang luar biasa.

Suatu ketika pihak Yamaha Music akan mengadakan konser di Nuansa Musik Kelapa Gading, Jakarta. Melihat talenta Dennis yang luar biasa, gurunya memberikan materi lagu untuk ukuran anak SMA (pada waktu itu Dennis masih kelas 5 SD). Dennis berusaha keras berlatih bahkan memainkan lagu tersebut dengan kecepatan oktaf yang lebih tinggi/maksimal. Saat konser, Dennis maju untuk memainkan keyboard. Awalnya tidak terlihat antusias penonton dan tidak ada yang memberikan tepuk tangan. Tetapi, pada waktu Dennis sudah memainkan alat musik tersebut, hadirin tidak berhenti-hentinya memberikan tepuk tangan hingga lagu tersebut selesai dimainkan dan Dennis turun dari panggung. Pemilik Nuasa Musik Kelapa Gading merasa perlu memberikan ucapan selamat kepada Dennis karena tidak menyangka dengan usia Dennis yang begitu muda dan tubuh yang kecil dia bisa memainkan keyboard dengan sangat baik. Konser demi konser dilalui Dennis dengan sangat baik dan selalu mendapatkan pujian dari penonton maupun penyelenggara.

Dennis lulus SD dengan nilai yang memuaskan, dan kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP. Di SMP tersebut, Dennis aktif mengikuti berbagai kegiatan-kegiatan positif seperti pramuka, bakti sosial, dan band sekolah. Dennis juga terpilih menjadi pemain musik di sekolah.

Dengan berjalannya waktu cara berpikir Dennis sudah semakin matang dan dewasa. Dia tidak merasa sedih lagi dengan kondisi tubuhnya, bahkan Dennis menjadi lebih bijak. Suatu hari Deb sengaja memancing dia dengan pertanyaan, Bagaimana perasaan kamu ketika menerima hinaan dari teman-teman di sekolah karena melihat kondisi tubuh kamu?. Dengan santai Dennis menjawab,Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda Mi, aku tidak mau perhatikan mereka, abaikan saja, karena Tuhan sudah memberi aku kelebihan melebihi mereka”. Dengan  perkembangan pola  berpikir Dennis seperti itu artinya dia sudah siap secara mental, dia sudah kuat dan siap menghadapi tantangan demi tantangan di tahap berikut dalam kehidupannya.

Dennis anak yang selalu berpegang teguh pada ajaran Tuhan, maupun nasehat orang tua. Dia selalu aktif dengan kegiatan-kegiatan di sekolah maupun gereja. Rasa percaya dirinya semakin tinggi, dan dia bergaul dengan siapa saja. Dennis pun tidak pernah memandang status sosial dalam bergaul.

Dennis melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Katholik Budhaya PSKI di Buaran, Jakarta Timur. Masa-masa SMA dia lalui dengan baik. Dennis terpilih menjadi pemain musik (keyboard) di sekolah tersebut. Suatu hari diadakan pertandingan band antar sekolah yang di adakan oleh SMA Belarminus Menteng, Jakarta Pusat. Dennis giat berlatih, hasilnya tim Dennis meraih  peringkat tiga. Dengan pencapaian tersebut semangat berlatih Dennis untuk menjadi pemain musik yang handal semakin tinggi.

Selain aktif di sekolah, Dennis juga aktif di Sekolah Minggu sejak kecil. Suatu hari pada acara Natal, Dennis menyumbangkan beberapa lagu Natal dengan permainan keyboardnya. Hal itu membuat semua jemaat terkejut, karena mereka sendiri tidak menyangka Dennis memiliki talenta di bidang musik. Bahkan koordinator Tiberias Center Kelapa Gading, Jakarta juga terkejut dan memberikan tepukan meriah untuk Dennis.

Suatu hari gereja mengadakan audisi untuk mencari pemain musiik. Dennis tertarik dan mendaftar. Puji syukur kepada Tuhan dia diterima dan diarahkan menjadi pemain musik untuk sekolah minggu. Awalnya Dennis sempat ragu, karena sebenarnya Dennis ingin menjadi pemain musik di ibadah umum. “Tapi, saya memberikan pengertian bahwa untuk melayani Tuhan harus dari dasar dulu yaitu menjadi guru sekolah minggu, selanjutnya meningkat di ibadah umum, ujar Deb. Dennis mau mengerti dan mau menerima pendapat saya. Dennis terus maju dan menjadi salah satu tim guru sekolah minggu di Tiberias Center Kelapa Gading, Jakarta”, lanjut Deb.

Sejalannya dengan waktu tanpa terasa sudah dua tahun Dennis menjadi guru sekolah minggu. “Saya tahu bahwa Dennis memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi pemain musik di ibadah umum. Saya terus memberi support dan memotivasi dia untuk terus setia dan tulus dalam melayani Tuhan, tutur Deb lebih lanjut. Puji Tuhan! Keinginan Dennis terkabul. Tiba-tiba Dennis dihubungi koordinator musik Tiberias yang memintanya menjadi pemain musik di tim Boaneges (ibadah kaum muda) setiap hari sabtu di Plaza Metro Sunter, ujar Deb. Dennis pun setia dan konsisten serta memiliki semangat yang tinggi dalam melayani Tuhan. Tanpa terasa waktu berlalu dan oleh karena anugerah Tuhan, kini Dennis dipercayakan oleh koordinator musik melayani full time di ibadah umum setiap minggu di Tiberias Cempaka Mas, Jakarta”, tutur Deb.

Beberapa waktu lalu, Deb mampir  ke Plaza Metro Sunter, tempat Dennis melayani. Dia sengaja ingin melihat permainan keyboard Dennis sambil menunggu pulang. Pada waktu selesai Firman Tuhan disampaikan dan dilanjutkan doa penutup, tiba-tiba hamba Tuhan berdoa khusus untuk Dennis dan berbicara bahwa “Tuhan akan memakai Dennis dengan luar biasa menjadi hamba-NYA. Deb sangat terkejut karena tidak menyangka Dennis didoakan seperti itu.

Selesai ibadah, Deb menjumpai hamba Tuhan tersebut dan memperkenalkan diri sebagai orang tua Dennis. Pendeta David Sumual mengatakan bahwa Dennis anak yang luar biasa, dan sejak berjumpa dengan Dennis, Tuhan langsung berbicara akan memakai Dennis dengan luar biasa. Tuhan itu baik. DIA sangat baik, dan kasih setia-Nya tidak berkesudahan. Apapun yang terjadi dalam hidup ini Tuhan tetap baik untuk selama-lamanya, Deb mengucap syukur.

Tanggal 3 mei 2012, kami dikejutkan oleh kejadian yang menimpa orang yang kami kasihi, yaitu papinya Dennis tiba-tiba terserang stroke mendadak hingga pendarahan di otak. Kondisinya langsung koma/kritis karena pendarahan di otak yang sangat hebat/banyak, Deb melanjutkan ceritanya. Dokter mengatakan bahwa kondisi seperti ini apabila tidak di operasi akan lewat meninggal, dan bila di operasipun akan meninggal juga (tidak menjanjikan akan selamat tapi mungkin bertahan untuk sementara waktu). Saya memutuskan dilakukan tindakan operasi, dan berharap mujizat terjadi. Operasi berjalan dengan lancar, tapi dr. Jana (dokter bedah) mengatakan kondisi sudah kritis, tingkat kesadarannya 4 (minimal 3), tutur Deb. Mendengar penjelasan dokter, saya cuma bisa pasrah pada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan sudah tahu sebelum hal ini terjadi dan Tuhan juga tahu solusinya, lanjut Deb.

Setiap hari kami berdoa bersama untuk kesembuhan papinya anak-anak, dan pasrah total kepada Tuhan. Saya juga menjelaskan kepada anak-anak bahwa Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Apabila Tuhan menghendaki papi pulang ke rumah Bapa jangan pernah kita marah kepada Tuhan, karena Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, ujar Deb mempersiapkan mental anak-anaknya atas kondisi terburuk yang bisa terjadi kepada ayah mereka.

Suatu hari setelah berdoa, saya bertanya kepada Dennis apakah dia memiliki keyakinan bahwa papinya akan sembuh. Dengan tenang dia menjawab bahwa papi tidak akan kembali”. Saya kaget, dan lalu bertanya pada Dennis kenapa bicara seperti itu. Dennis berkata, Aku seperti diberi tahu di telinga aku seperti itu, bahwa papi tidak akan kembali lagi ke rumah”. Ucapan yang polos tapi penuh arti yang besar. Saya seperti tidak percaya, karena masih memiliki keyakinan bahwa papinya anak-anak akan sembuh dan kembali berkumpul kepada kami, cerita Deb.

Waktu pun berlalu dengan cepat, dan tanpa terasa apa yang Dennis ucapkan terbukti. Tanggal 6 Juni 2012 pukul 09.40, papinya Dennis menghembuskan nafas yang terakhir. Jujur, hal itu sangat menyakitkan bagi kami sekeluarga. Tetapi, kami sudah serahkan semua kepada Tuhan, karena Tuhan yang mempunyai kedaulatan atas hidup kami. Kami percaya Tuhan tahu yang terbaik untuk kami, ujar Deb.

Ibadah penghiburan di Rumah Duka Cikini, tanggal 6 Juni 2012 pukul 19.00, dilayani oleh Pendeta Christian Ibrahim dari Gereja Tiberias. Selesai ibadah Deb memperkenalkan anak-anaknya kepada pendeta. “Tiba-tiba pendeta berkata, Ibu, pada waktu sedang membacakan Firman Tuhan tiba-tiba Tuhan bicara bahwa Dennis akan dipakai Tuhan dan akan menjadi hamba Tuhan yang besar dan Ibu harus sekolahkan Dennis ke Sekolah Tingi Teologi/Sekolah Thelology’. Saya cukup kaget karena bukan satu atau dua orang pendeta yang berkata hal yang sama, tapi sudah ada beberapa yang mengatakan hal yang sama sejak Dennis masih kecil. Dan saya percaya bahwa memang Tuhan telah bicara melalui hamba-Nya berulang kali kepada kami untuk mengkonfirmasikan rencana-Nya kepada kami. Dan saya percaya Tuhan punya rencana yang indah untuk Dennis, tutur Deb.

Acara di rumah duka hingga penguburan berjalan lancar. Kembali Deb agak bingung karena sikap Dennis yang sangat tenang tidak menunjukkan rasa duka sama sekali. Setibanya mereka di rumah, Deb menanyakan hal itu kepada Dennis, mengapa Dennis tidak menangis bahkan dia mendokumentasikan semua acara dari rumah duka sampai dengan penguburan dengan kameranya. Dengan tenang Dennis berkata, “Aku memang sedih, tapi aku bisa tahan karena aku sudah tahu sebelumnya bahwa papi memang tidak akan kembali lagi, jadi aku sudah siap, ujar Deb.

Dennis berbagi kisah hidupnya pada acara talkshow di Gramedia Matraman
Deb melihat penyertaan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya hingga saat ini, khususnya terkait dengan kehidupan Dennis. Dennis telah melalui masa proses kehidupan yang begitu menyakitkan sejak dia kecil. Dia dihina, dipandang aneh, dikucilkan, bahkan pernah di sakiti.  Tetapi, Dennis menyikapi situasi itu dengan sikap pemenang. Sifat generosity menjadi kekuatannya, yang kemudian menentukan respon balik teman-temannya. Dennis adalah Sang Pemenang, yang mampu mengatasi situasi sulit yang dihadapinya sejak dia masih kecil, dan terus menjalani kehidupannya. Dengan respon yang tepat terhadap sikap teman-temannya Dennis mampu memenangkan sikap teman-temannya.

Deb sangat bersyukur kepada Tuhan, dimana Dennis bisa menghadapi itu semua dengan senyum, kesabaran, dan percaya diri. Kini Dennis bertumbuh menjadi sosok yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, humble, ceria dan ingin menyenangkan orang lain. Saat ini, Dennis juga adalah salah satu murid dari sekolah musik FARABI milik musisi Dwiki Darmawan. Dennis ingin mendalami permainan musiknya, dia sangat menyukai musik Jazz.

Dennis adalah Sang Pemenang.

Salam Pemenang!

Catatan

  • Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung.

  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.

  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar