Tampilkan postingan dengan label BCA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BCA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2013

Wani Sabu: “Jiwa berani dan petarung saya terbentuk sejak kecil”



Mungkin Anda adalah salah satu nasabah Bank Central Asia (BCA). Mungkin Anda pernah complain mengenai pelayanan BCA dan menghubungi call center BCA, yang dikenal dengan nama Halo BCA. Anda pasti mendapat pelayanan yang cepat, ramah dan menawarkan solusi terbaik atas keluhan Anda. Itulah gambaran pelayanan Halo BCA saat ini, yang sangat berbeda dibanding kondisi tahun 2004.

Maka tidaklah heran kalau Halo BCA telah berkali-kali meraih penghargaan, baik Nasional maupun Internasional. Bahkan, tepat pada 11-11-11 (triple 11), yang maksudnya tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, Halo BCA membawa Indonesia menjadi Grand Champion di ajang World Class Contact Center. Prestasi itu diulang kembali pada tahun 2012. Bahkan ditambah dengan gelar juara di kategori yang paling prestisius, yaitu The Best Contact Center in The World pada acara yang berlangsung di Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Suatu prestasi yang luar biasa, karena untuk dapat tampil di tingkat dunia harus melalui kemenangan-kemenangan di tingkat regional dahulu, bersaing dengan contact center lainnya di seluruh dunia.

Kesuksesan demi kesuksesan itu tidak diraih dengan mudah. Ada perjuangan yang luar biasa, jatuh bangun, tangisan, celaan bahkan pembicaraan yang tidak menyenangkan. Namun, itu semua berhasil ditaklukan oleh seorang wanita yang bernama Wani Sabu, Head of Halo BCA. Di sela-sela kesibukannya yang luar biasa, Wani menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dan menceritakan bagaimana ia mengubah dan membesarkan Halo BCA.

Perbincangan dengan Wani selalu menarik, karena wanita yang satu ini adalah sosok yang memiliki antusiasme yang tinggi, terutama pada hal-hal yang masih baru bagi dia, hal-hal yang dapat meningkatkan pengetahuannya dan wawasannya. Antusiasme yang menjadi salah satu sifat Sang Pemenang. Wani Sabu, lahir di kota Jambi, 43 tahun yang lalu. Sejak awal Wani sudah memiliki DNA Sang Pemenang. Sejak sekolah dia sudah sering menjadi juara. Mulai dari perlombaan menari, menyanyi, ataupun membaca puisi. Bahkan, di sekolah Wani selalu mendapat ranking.

Wani lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya. “Papa merupakan orang yang paling saya kagumi. Papa memberikan nama Wani (Wan Ik), yang berarti ‘One’ adalah satu (dalam bahasa Inggris) dan ‘I’ adalah satu (dalam bahasa Mandarin). Ternyata papa ingin saya selalu menjadi orang nomor satu. Sedangkan, arti kata ‘wani’ dalam bahasa Jawa adalah berani”, tuturnya menjelaskan arti dari namanya. Nama Wani membawa anugrah, saya selalu berani bertarung dan juara, ujarnya sambil tersenyum. Sejak kecil Wani dididik untuk mandiri. “Saya tidak pernah disuruh harus belajar, harus ini atau harus itu. Papa membebaskan saja. Namun, justru dibiarkan begitu saya menjadi bertanggung jawab, belajar sendiri tanpa disuruh. Saya mengurus semua keperluan saya sendiri”, ungkapnya. “Karakter mandiri, bertanggung jawab, jiwa berani dan petarung saya terbentuk sejak kecil”, tambahnya lagi.

Lulus S1 di bulan September 1991, Wani langsung bekerja di BCA melalui program ODP (Officer Development Program). Awalnya, Wani ditempatkan di operasional Cabang, kemudian dia dimutasikan ke Divisi Audit. “Di Divisi Audit, saya benar-benar ditempa dan banyak belajar. Dari belajar product knowledge perbankan sampai pembentukan karakter”, ujarnya. “Tingkat kesabaran saya di sini benar-benar teruji. Banyak suka duka di Divisi Audit, tapi lebih banyak dukanya”, kenang Wani. “Namun, duka inilah yang membuat diri saya memperolah banyak pembelajaran. Dari menghadapi auditee yang selalu tak mau disalahkan sampai atasan yang sulit saya pahami”, ujarnya. “Waktu di Divisi Audit saya kurang bahagia. Saya merasa sangat tertekan”, ungkapnya. “Tetapi, saya selalu berprinsip bahwa semua hal pasti ada positifnya, jika kita mau melihat dari sisi positif”, ujarnya. “Memang ada saat ketika otak mengatakan saya harus resign dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya mempunyai IPK tinggi, punya banyak referensi kerja. Dengan bekal itu pasti mudah masuk kerja di mana pun yang saya suka. Jangan bertahan di kondisi yang tertekan seperti ini, karena bisa mematikan karier dan tak bisa menjadi diri sendiri”, ungkapnya. “Namun, suara hati berkata lain. Saya harus bertahan. Saya harus membuktikan prestasi saya, pekerjaan saya jangan dilihat sebelah mata. Kemampuan bertahan adalah DNA Sang Pemenang”, lanjut dia.

“Saya mengambil keputusan yang tepat, saya tetap bertahan, tidak pindah ke perusahaan lain”, ujarnya. “Sekarang saya baru tahu bahwa kemampuan bertahan itu disebut Adversity Quotient (AQ), yang merupakan indikator kemampuan bertahan seseorang dalam menghadapi kesulitan. Dan AQ adalah prediktor yang lebih efektif dibanding IQ dan EQ dalam memprediksi kesuksesan”, jelasnya. “Saya sekarang baru mengerti, inilah jalan yang Tuhan siapkan buat saya, agar saya semakin tangguh. Tuhan mempersiapkan diri saya untuk menuju karier yang lebih tinggi lagi”, tutur Wani.

Akhir 2004, Wani dimutasi ke call center Halo BCA. Awalnya, Wani sempat minder. Dia berpikir apakah prestasi kerja dia di Divisi Audit dinilai buruk. “Pada masa itu, orang yang bekerja di Divisi Audit dianggap sebagai karyawan pada kasta tertinggi. Sebaliknya, Halo BCA adalah tempat buangan bagi karyawan yang kurang berprestasi”, tuturnya.

“Kalau ada customer service di kantor cabang yang tidak bisa senyum atau senyumnya pahit, maka orang tersebut akan dimutasi ke Halo BCA, karena di Halo BCA kan tidak terlihat senyum atau tidak senyum”, ujar Wani sambil tersenyum. Jadi kalau ada yang bertanya kepadanya kerja di bagian apa, maka Wani akan menjawab, ‘saya di consumer banking’. “Kan, Halo BCA juga bagian dari consumer banking”, katanya mengelak. “Saat itu saya malu kalau orang tahu saya di Halo BCA”, akunya. Wani punya alasan malu karena memang pada masa itu tidak banyak yang bisa dibanggakan dari Halo BCA.           

Sekalipun, kondisi Halo BCA belum dapat dibanggakan Wani tetap antusias. Bekerja di Halo BCA, harus siap membantu dan menyelesaikan keluhan para nasabah. Orang yang bekerja di Halo BCA selain harus orang yang sabar, menahan emosi, juga harus orang yang tepat. Orang tersebut sebaiknya tidak ada masalah, supaya tidak menumpuk masalah di dirinya. “Saya memang orang yang tepat di Halo BCA, karena saya seorang problem solver.  Saya bisa menjadi tempat ‘curhat’ banyak orang, dari keluarga, teman sampai staff sekalipun”, tuturnya. “Saya jarang mempunyai masalah, karena Tuhan memberikan keluarga yang  harmonis. Suami saya, Budi Wijaya, juga seorang Banker, jadi sangat mengerti kesibukan dan pekerjaanku. Kami mempunyai seorang anak remaja putri, Brilliant Dennise, yang sangat menonjol di sekolah, dan sangat penurut sehingga jiwa saya sangat damai. Terima kasih Tuhan atas semua karunia-Mu, ujar Wani.

Tahun 2006, ketika perusahaan rokok Djarum membeli BCA, adalah tahun dimana Wani secara bersemangat membenahi Halo BCA. Dia melakukan benchmarking dengan call center perusahaan-perusahaan lain. Dia antusias belajar dan menekuni dunia call center. Dan Wani semakin menemukan passion-nya. “Dunia service adalah jiwaku. Aku suka membuat orang lain bahagia, suka melayani orang. Jika bisa membuat orang lain tertawa, itulah kebahagiaanku”, ujarnya. 

Apa yang dilakukan Wani dengan antusias selama lima tahun terakhir telah menunjukkan hasil yang nyata. Wani berhasil memimpin timnya dalam proses transformasi Halo BCA dari sekedar call center menjadi contact center dan saat ini menjadi solution center. Posisi Halo BCA yang sebelumnya adalah cost center saat ini telah menjadi profit center. Dari posisi yang “tidak berharga” dan tidak memiliki wewenang dalam transaksi produk-produk perbankan menjadi penting keberadaannya dan beberapa transaksi perbankan sekarang bisa dilakukan melalui Halo BCA. Keberadaan Halo BCA juga sudah diakui baik di tingkat Nasional, Regional, dan Dunia. “Bahkan, saat ini setiap minggu pasti ada dari perusahaan lain yang datang berkunjung ke Halo BCA untuk melakukan benchmarking”, ujar Wani. “Kunci sukses Halo BCA adalah di team engagement”, ujar Wani. Kami bekerja di Halo BCA seperti kami bekerja di toko kami sendiri. Semua orang memiliki sense of belonging yang sangat kuat”, ungkapnya.

Wani Sabu tidak berhenti pada pencapaian saat ini. Jiwanya terus bergolak mencari pencapaian-pencapaian berikutnya. Maka, jiwa petarungnya, yang telah terbentuk sejak kecil, telah memilih untuk mengikuti kompetisi yang diselenggarakan Contact Center World untuk kategori Best Leader in the World 2013, kategori yang dapat diikuti oleh para direktur atau manajemen eksekutif. Dan Wani Sabu sangat antusias mempersiapkan diri untuk ajang kompetisi bergengsi tersebut.

Wani sadar bahwa kesuksesan tidak pernah berdiri sendiri. Dalam kesuksesan seseorang pasti ada banyak pihak yang mendukung sukses itu terjadi. Demikian juga dalam kesuksesan Halo BCA. Selain timnya yang mencapai sekitar seribu frontliner, kesuksesan Wani juga atas peran para coach yang mendampingi dan membimbingnya. “Banyak orang yang berperan di balik kesuksesan saya. Bapak Armand Hartono, yang juga direktur saya, adalah coach yang luar biasa. Beliaulah yang menemukan talenta saya sehingga menjadi leader dan Pemenang”, ungkapnya mengenai Armand Hartono. “Pak Jahja Setiaatmadja (Presiden Direktur BCA) dan Bu Winny Setiaatmadja sudah seperti orang tua saya sendiri. Mereka selalu meluruskan saya ketika mulai sedikit menyimpang, dan menguatkan saat saya lemah dan mulai mengendur semangatnya”, ujarnya. “Selain keluarga, saya sangat bersyukur atas dukungan my amazing team, dan atasan saya yang luar biasa, yaitu Ibu Ina Suwandi, Sunandar, Sugito Lie dan (Alm) Hisar Pasaribu”, tutur Wani.  “Untuk sukses kita perlu pandai bergaul dan mudah masuk ke berbagai lingkungan. Saya bergaul dengan berbagai kalangan, dari banker, motivator, konsultan, seleberiti sampai polisi”, ujarnya menyampaikan tipsnya. 

Mengenai prestasi, Wani punya pandangan tersendiri. “Bagi saya, bukan berapa banyak piala yang berhasil saya kumpulkan. Tetapi, keberhasilan membawa tim saya ke arah kehidupan, karakter, karier yang lebih baik itulah prestasi yang sesungguhnya. Piala itu hanyalah sebuah simbol keberhasilan”, ujarnya. “Melihat tim kita berdiri di panggung menerima medali dan piala itu lah kebanggaan saya”, ujar Wani menutup perbincangan. 
Wani Sabu adalah Sang Pemenang.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung.
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Senin, 18 Maret 2013

Benny Purnomo: Menari Dalam Badai


Istri saya sangat mengenal sosok Sang Pemenang yang satu ini. PasaInya, istri saya mengenal dia sejak awal kuliah di Universitas Atmajaya, Jakarta. Dan mereka sama-sama aktif di kegiatan bela diri Tae Kwon Do, dan sempat juga untuk beberapa lama bekerja di perusahan yang sama, sebuah bank swasta terbesar di Indonesia.

Benny, Lilian, Valerie, ibunya, dan Felicia (dari kiri ke kanan)
Sosok itu adalah Benny Purnomo. Pria kelahiran 18 September 1967 ini, Direktur Distribution Network Bank Mutiara. Benny, begitu biasa dia dipanggil, lahir dari seorang ayah, almarhum Urip Herman Purnomo, dan ibu, yang bernama Maria Lucia Widya Purnomo, 73 tahun. Ibunya dulu adalah seorang guru yang telah mengajar selama 41 tahun. Totalitas dan loyalitas atau kesetiaan ibunya yang luar biasa terhadap pekerjaannya tanpa terasa menurun kepada diri Benny. Kesetiaan yang terbentuk karena sikap antusias terhadap setiap tantangan yang dihadapi dalam perjalanan kehidupannya.
            “Ada dua peristiwa dari sekian banyak peristiwa yang membentuk karakter saya, ujarnya memulai penuturannya. Pertama terjadi saat Benny lulus SMA, ketika dia akan meneruskan pendidikan ke universitas di tahun 1985. Saat itu terjadi kebakaran yang menghanguskan semua harta milik keluarganya.
Yang tersisa hanyalah pakaian yang menempel di badan, tuturnya. “Saat itu, ibu meminta bantuan seseorang yang kebetulan menjadi petinggi agar uang kuliah dapat diberi keringanan, lanjut Benny. Petinggi itu mengatakan, Saya tidak percaya seorang guru dapat menyekolahkan anaknya sampai ke universitas. Kalimat ini begitu menyakitkan, kenang Benny. Betapa tidak, kalimat itu diucapkan di tengah musibah kebakaran yang sedang kami alami, sambung cerita Benny. Namun justru kalimat itu yang membuat saya menjadi pantang menyerah terhadap kesulitan, ujarnya.

Peristiwa kedua terjadi pada tahun 1994. Bulan April tahun itu terjadi lagi kebakaran di rumahnya. Atap rumah keluarganya habis terbakar. Semua perabot basah terkena siraman air dari pemadam kebakaran. Bulan Nopember, suami kakak perempuan ibunya meninggal. Seminggu kemudian, kakak ibunya juga meninggal. Dan puncak kesedihannya adalah tepat pada tanggal 31 Desember, ayahnya pulang menghadap Sang Pencipta.
Bisa dibayangkan, pada saat itu ketika semua orang merayakan pergantian tahun, saya menangis di samping jenasah papa tercinta, kenangnya sedih. Satu hal yang saya sesalkan adalah papa tidak sempat melihat saya menikah, lanjutnya. Benny menikah pada tangal 15 Oktober 1995, dengan Liliana, yang dua tahun lebih muda dari Benny, yang telah memberinya dua orang putri, Felicia Purnomo dan Valerie Purnomo yang keduanya masih duduk di bangku SMA.
Saya bertanya kepada Tuhan mengapa hal ini terjadi?, ujarnya dengan nada tanya. Hanya sepuluh bulan sebelum hari pernikahan kami”, tuturnya. Tetapi justru dengan kedua peristiwa itu, Tuhan mau mengasah ketahanan saya terhadap badai kehidupan. Tuhan mengajarkan bahwa kesedihan dan kebahagiaan itu adalah paket yang membuat kehidupan ini menjadi indah dan bermakna, ungkapnya.

Benny memulai karir dari bawah. Setelah lulus universitas, dia diterima sebagai manajemen trainee di PT Inti Salim Corpora, dan ditempatkan sebagai programmer. “Kuliah ekonomi kok jadi programmer, ya?, kenangnya sambil tersenyum. Tiga tahun kemudian, Benny dipindahkan ke PT Bank Central Asia (BCA). Jabatan saya keren, Kepala Bagian, tetapi pekerjaan saya adalah pengisi uang di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) sekaligus membersihkan ruang ATM”, ungkapnya sambil tertawa.

Terkait pekerjaannya saat itu, ada satu cerita yang menunjukkan kesetiaan, komitmen, dan tangungjawabnya kepada pekerjaannya. Saat itu, tahun 1998 saat BCA di rush habis-habisan. Waktu itu sudah lewat tengah malam. Istri saya, yang sedang berada di jalur antrian untuk mengambil uang di ATM di jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, melihatnya dengan antusias masih sibuk mengatur antrian. Tidak sedikit pun terlihat rasa lelah di wajah Benny. Walaupun pasti saat itu dia bekerja dengan tingkat stres dan kelelahan yang tinggi.       

Seiring berjalannya waktu, dengan kerja kerasnya karirnya meningkat hingga menjabat sebagai Kepala Biro di BCA. Pada tahun 2006, saya ditawari untuk membantu Bank NISP yang pada waktu itu baru dibeli sahamnya oleh Bank OCBC Singapura, Benny melanjutkan ceritanya. Selama tiga tahun di OCBC NISP, Benny berhasil menambah 170 kantor cabang baru. Keberhasilannya mengundang tantangan yang lebih besar dan lebih sulit.
Tahun 2009, saya ditantang untuk membantu menyehatkan Bank Century yang baru saja diselamatkan oleh pemerintah. Pada saat saya menerima tantangan ini, semua orang bilang saya bodoh dan gila, karena saat itu tingkat kepercayaan orang kepada Bank Century hampir tidak ada. Padahal dalam mengembangkan suatu bank, kepercayaan adalah modal dasar yang paling utama”, ujarnya.
Pada saat itu saya berprinsip bahwa, hidup itu bukan menunggu badai berlalu, tetapi bagaimana kita dapat menari di dalamnya, papar Benny lebih lanjut. Tepat pada tanggal 1 Mei 2009 Benny bergabung dengan Bank Century.
Pada saat itu jika saya datang dengan membawa nama Bank Century ke nasabah, saya diusir dan tidak mau diterima, ungkapnya. Akhirnya yang saya lakukan adalah “menjual diri” saya, dalam artian mengunjungi nasabah dengan membawa nama sendiri, mengandalkan hubungan pribadi di masa sebelum saya di Bank Century, lanjutnya. Saya meminta nasabah untuk mencoba kembali menaruh uangnya di Century selama seminggu dengan jaminan diri saya (semacam garansi personal), dengan jangka waktu mulai harian. Artinya, kalau mereka takut, mereka dapat menarik uangnya kapan saja. Saya menganjurkan nasabah untuk tidak membaca koran dan menonton televisi”, paparnya.
“Pada tanggal 3 Oktober 2009, Bank Mutiara lahir menggantikan Bank Century. Bank Mutiara sangat berbeda jauh dengan Bank Century. Setidaknya ada tiga hal dasar yang membedakan Bank Mutiara dengan Bank Century”, tutur Benny.
“Pertama, soal kepemilikan. Bank Century dimiliki oleh orang-orang yang sekarang menjalani hukuman. Pemilik Bank Mutiara adalah pemerintah Republik Indonesia. Kedua, perbedaan manajemen. Manajemen Bank Century adalah orang-orang yang menjalani hukuman sedangkan manajemen Bank Mutiara terdiri atas orang-orang profesional. Dewan Komisaris Bank Mutiara terdiri atas eks wakil BPKP, bankir Bank Niaga, dan Pemimpin Redaksi Majalah Perbankan terkemuka. Dewan Direksi terdiri atas para bankir profesional yang berpengalaman di bidang perbankan lebih dari sepuluh tahun di bank-bank besar seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Lippo. Ketiga, Bank Century tidak mempunyai budaya perusahaan, sedangkan Bank Mutiara memiliki budaya perusahaan yang disingkat dengan SPIRIT (Service Excellence, Profesionalism, Integrity, Relationship, Innovative, Trust)”, papar Benny menjelaskan perbedaan Bank Century dan Bank Mutiara.

Paska penggantian nama dari Bank Century menjadi Bank Mutiara, tidak mereduksi tantangan yang harus dihadapi Benny dan seluruh karyawan Bank Mutiara. Saat itu kasus dana talangan yang dikucurkan pemerintah kepada Bank Century justru sedang gencar menjadi bahan berita seluruh media. Tetapi, Benny dan seluruh karyawan tetap memiliki antusiasme yang tinggi untuk bersama-sama bahu membahu bagaimana memompa kinerja Bank Mutiara. Para Insan Mutiara, demikian Benny menyebut karyawan Bank Mutiara, sadar bahwa mereka tidak boleh menyerah. Mereka tetap berusaha untuk meyakinkan semua nasabah bahwa kemelut politik yang terjadi tidak akan membuat Bank Mutiara dilikuidasi.

Mereka mengemukakan dua alasan kuat mengapa Bank Mutiara tidak akan dilikuidasi. Alasan pertama adalah, jika Bank Mutiara dilikuidasi maka dana talangan senilai triliunan rupiah yang telah dikucurkan pemerintah itu bukan saja hilang, malah pemerintah harus menambah dana talangan baru. Suatu hal yang amat sangat tidak boleh terjadi. Alasan kedua adalah, Bank Mutiara kini adalah bank yang sehat, jika suatu bank yang sehat dilikuidasi maka akan dapat terjadi ketidakpercayaan kepada perbankan Indonesia. Jika hal ini terjadi maka akan merusak perekonomian Indonesia. Suatu hal yang amat sangat tidak boleh terjadi juga. “Saya merasa bahwa dua alasan itu sangat valid. Hal ini yang secara terus menerus dijelaskan kepada nasabah. Nasabah tidak perlu ragu untuk melakukan transaksi perbankan dengan Bank Mutiara”, ujar Benny. Sekarang Bank Mutiara sudah menjadi bank yang normal, lanjut Benny tersenyum puas.

Perjuangan Benny menari dalam badai saat itu sungguh sangat berkesan bagi dia. “Di tahun 2009 dan awal 2010, saya dan anggota tim direksi yang lain beserta beberapa kepala divisi, selama enam bulan rata-rata hanya tidur 2-3 jam per hari termasuk hari sabtu dan minggu, kenangnya. Pada saat Ramadhan 2009, saya ikut berpuasa. Kami sahur dan buka puasa di kantor, lanjutnya. “Yang lucu lagi, kalau ada undangan pernikahan dari nasabah, kami mandi di kantor, pergi ke undangan, dan kembali ke kantor. Seluruh aktivitas saya di gereja terpaksa saya hentikan sementara. Hanya mengajar di Unika Atma Jaya yang saya teruskan”, ungkapnya.

Benny adalah Sang Pemenang, antusiasme yang tinggi terhadap tantangan dan tanggungjawab atas situasi sulit yang dihadapi telah menjadi sumber energi yang besar bagi dia untuk mampu menari dengan baik dalam terpaan badai yang dahsyat. “Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana bagaimana meningkatkan value Bank Mutiara sehingga bisa dijual dengan harga Rp 6,7 triliun”, ujar Benny.
“Kunci sukses saya cuma tiga hal”, katanya. “Pertama, jangan takut. Jangan takut tantangan, jangan takut hambatan, jangan takut perubahan. Jangan tunggu badai berlalu, tapi bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada dalam badai itu. Hidup itu memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa, jelasnya.
“Kedua, lakukan seluruh pekerjaan dengan pikiran bahwa hasilnya akan diberikan kepada orang yang paling kita kasihi. Dengan demikian kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sepenuh hati, lanjutnya.
“Dan terakhir, jangan lupa berserah dan meminta pertolongan Tuhan untuk setiap aktifitas kita, tutur Benny menutup kisahnya. Benny adalah Sang Pemenang.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Kisah di atas adalah satu dari tiga puluh kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi dengan para sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Buku tersebut telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di seluruh Gramedia.
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.