![]() |
| Bersama Selvi (paling kanan) dan Denni (kedua dari kanan) di Hangzhou, China. |
| Bersama Selvi (ketiga dari kanan berkerudung) & Denni (di belakang berkaca mata hitam), di The Bund Shanghai, China |
Denni, anak pertama dari dua
bersaudara, lahir di Magelang pada 11 Juni 1980. Ayahnya, Delyandri Rasyid (58
tahun), adalah seorang pensiunan PT Telkom. Sedangkan ibunya, Zul Eni (57
tahun) seorang Pensiunan Muda Guru SMU. Ayahnya adalah seorang pekerja keras
dan sosok yang bertanggung jawab di mata seorang Denni. Ibunya sangat penyabar,
yang selalu mendoakan kesuksesan anak-anaknya, dan selalu memotivasinya agar
menjadi yang terbaik dalam hal apapun yang dipilihnya. Ibunya juga selalu
mengingatkan dia agar tidak lupa berbagi kepada yang membutuhkan.
Bakat kepemimpinannya sudah
tampak sejak Denni masih duduk di Taman Kanak-kanak. Denni kecil selalu menjadi murid pilihan guru-gurunya ketika sekolah membutuhkan komandan upacara, ketua regu untuk Pramuka, atau mewakili
sekolah untuk membawa bendera. Denni mudah bergaul dengan
teman-temannya. Dia sangat menyukai kegiatan mendaki gunung. “Saya pencinta alam,
gunung-gunung di Sumatera Barat
hampir semua pernah saya daki. Sangat senang rasanya ketika bisa melihat matahari
terbit (sunrise) di puncak gunung-gunung
tersebut”, ujarnya.
Sumatera Barat. Ya, di Sumatera Barat, tepatnya di Universitas Andalas di kota
Padang Denni bertemu dengan Selvi, yang sekarang menjadi istrinya. Mereka
berdua sama-sama menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Elektro dan sama-sama
lulus menjadi Sarjana Teknik.
Selvi merupakan anak ke-5 dari
6 bersaudara. Lahir pada 11 Agustus 1980 di Tanjung Uban, Pulau Bintan. Ayahnya
adalah pegawai BUMN, yang mendidik anaknya dengan keras. Ayahnya mendedikasikan
waktu dan pikirannya agar keenam anaknya mendapatkan pendidikan hingga sarjana.
Bagi ayahnya, pendidikan adalah yang terutama yang harus diupayakan. Walaupun
untuk mencapai hal itu, ayahnya harus secara efektif membagi waktu antara
bekerja dan berdagang. Dari ibunya, Selvi mendapatkan pelajaran agama. “Ibu mengajarkan saya tentang
agama yg kuat, taat kepada Allah, sholat tepat waktu, puasa dan berdoa.
Bagaimana mengatur waktu dengan baik, sehingga semua
pekerjaan selaras dengan waktu kita”, ujarnya
Selvi.
Selvi kecil adalah anak yang pemalu, meski kerap mengikuti berbagai kompetisi,
baik yang bersifat formal seperti cerdas cermat maupun yang informal seperti lomba lari, acara kesenian, dan lain-lain. Masa remaja Selvi dilalui tanpa banyak hal yang berkesan.
Semua berlalu secara biasa saja karena tinggal di kota kecil di Bintan. Semua perhatian tercurah pada pelajaran. Namun saat itu Selvi sudah membangun mimpi. Mimpinya adalah suatu saat dapat menghajikan orangtuanya, tidak terbelenggu pekerjaan tetapi dapat sesuka hati melancong keluar
negeri. Berkeliling dunia, bukan untuk belajar atau
bekerja tapi hanya untuk menikmati hidup. “Aku tidak pernah membayangkan akan bekerja
dengan berbusana rapi, seperti wanita modern saat ini,
dan duduk di belakang meja sambil
memegang komputer”, ujarnya. Mimpi itu mungkin karena pengaruh televisi di
lingkungan tempat tinggal Selvi saat itu, yang hanya dapat menangkap siaran dari Singapura dan Malaysia saja. Minat Selvi terhadap kuliner tergali melalui acara televisi
Malaysia, yang merupakan acara favorit saat itu, yaitu “Cooking
with Wan Muhammad”.
Kehidupan pasangan Denni dan
Selvi sudah dirancang sejak mulai berpacaran di bangku kuliah. Mereka
menargetkan lulus kuliah secepatnya.
Dan berharap mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi sehingga dengan setahun bekerja dapat menikah dan mempunyai rumah. Menjelang
kelulusan mereka, sebuah perusahaan
elektronik di Batam membuka
lowongan pekerjaan di kampus mereka. Denni dan Selvi sama-sama
mendaftar. Namun,
hanya Denni yang diterima bekerja di Batam. “Merantaulah
Denni ke Batam”, ujar Selvi. “Saya
kembali ke rumah orangtua saya di Pulau Bintan”,
lanjutnya. ”Tak lama kemudian saya mendapat pekerjaan.
Kami bertemu setiap dua minggu, karena Batam-Bintan
berbeda pulau dan harus menggunakan speed boat untuk ke Bintan”,
jelas Selvi.
Semua berjalan sesuai harapan. Tidak lama bekerja mereka memberanikan diri mengambil kredit
rumah sederhana type 36 di kawasan Mukakuning, Batu Aji, Batam. Tepat setahun bekerja mereka memutuskan menikah, sesuai rencana awal mereka. “Setelah menikah saya memutuskan keluar dari
perusahaan tempat saya bekerja dan mengikuti suami ke Batam. Inilah awal
kehidupan berumah tangga yang kami lalui”, kenang Selvi.
Di Batam, Selvi mencoba
mencari-cari pekerjaan. Akhirnya dia diterima bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat infus dan sejenisnya. “Sejujurnya
saya tidak begitu suka rutinitas selama bekerja. Rasa bosan selalu melanda saya.
Di perusahaan itu saya hanya bertahan dua
bulan saja. Akhirnya saya memutuskan keluar.
Kabar gembiranya saya positif hamil”, ujar Selvi sambil mengucap syukur. “Setelah tidak lagi bekerja,
seharian di rumah membuat saya bosan”,
lanjutnya. “Ditambah penghasilan suami
yang pas-pasan. Bila suami lembur paling banyak hanya mendapat Rp 3
juta-an. Belum lagi harus membayar cicilan
rumah dan biaya hidup di Batam yang tinggi. Inilah awalnya kami
memutuskan untuk mencoba-coba berjualan
kecil-kecilan”, tutur Selvi.
Usaha pertama mereka adalah
menjual kerupuk udang yang digoreng dan dikemas sendiri. “Akhirnya saya punya kesibukan ketika sendirian di rumah,
yaitu menggoreng kerupuk”, ujar Selvi sambil tersenyum. “Semua
kami lakukan dengan semangat”, tambah Selvi. Malam
harinya mereka mengemas kerupuk-kerupuk
itu agar pagi hari sebelum
bekerja Denni bisa memasarkan
kerupuk tersebut. Denni menitipkannya di warung-warung pinggir jalan, rumah makan padang yang kecil, warung sembako,
dan sebagainya. “Kami mempunyai lebih dari 20 titik lokasi
penitipan. Sebenarnya hasilnya lumayan untuk menambah
penghasilan kami, tapi terasa sangat berat dalam kondisi triwulan
pertama kehamilan”, jelas Selvi. Kebetulan kegiatan Denni di pabrik kembali padat. Akhirnya setelah 3 bulan berjualan kerupuk udang mereka memutuskan berhenti.
Untuk sementara mereka cooling down. Selvi hanya istirahat dan fokus pada kehamilan pertamanya. Tapi, kondisi
itu tidak bertahan lama. Rasa suntuk dan bosan yang dirasakan
Selvi mendorong mereka untuk memulai usaha lagi. Kali ini mereka menjual kue klepon. Selvi yang membuatnya di rumah dan Denni yang
memasarkan di pabrik-pabrik. Satu demi satu usaha mereka coba agar
mendapatkan penghasilan tambahan,
termasuk berjualan makanan
untuk sarapan pagi. Ketika bayi pertama
mereka, Faza Mutiara Denni, lahir keadaan
bertambah berat karena biaya perawatan bayi yang luar biasa mahal. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk membuka rumah makan
padang dengan uang hasil
pinjaman ke beberapa pihak. “Kami menerapkan sistem bagi hasil kepada
karyawan kami”, kata Selvi.
Usaha rumah makan tidak berjalan mulus seperti
harapan mereka. Rumah makan,
yang mereka namakan Tanamo hanya
bertahan dua bulan saja
karena kekurangan modal dan tidak
fokus dalam mengelolanya. “Inilah kerugian pertama kami yang
alhamdulillah cukup besar”, tutur Selvi. Lagi-lagi mereka mengalami kegagalan. “Tapi semua itu tidak melunturkan niat kami
untuk berhenti berusaha. Saya memberi dua pilihan ke suami saya;
ingin terus bekerja ya jadi manager yang baik atau jika ingin
memiliki usaha sendiri maka tinggalkan pekerjaan, bersama-sama
kita fokus menjalani bisnis kita”, kata Selvi saat itu. Selvi meyakini bahwa pada dasarnya setiap kegiatan yang dilakukan
dengan tidak sungguh-sungguh maka hasil yang didapat juga tidak akan maksimal.
“Kami berdua mempunyai cita-cita
yang sangat tinggi. Jika hanya menjadi karyawan, maka cita-cita
ini kemungkinan besar akan hanya menjadi mimpi. Kami memiliki
keinginan yang sama, yaitu bagaimana di hidup yang
sekali ini benar-benar bisa bermanfaat buat banyak orang”, kata
Denni. “Berawal dari kegelisahaan itulah
saya mulai mencari jalan, karena saya paham pasti ada sesuatu yg salah
dalam hidup saya ketika itu (cita-cita semakin jauh dari
kenyataan). Saya mulai mencari jawaban melalui buku, teman, dan
sebuah organisasi yang dapat dikatakan mengubah pola
pikir saya dari sebagai karyawan menjadi seorang pengusaha. Organisasi itu
bernama Entrepreneur Association (EA)”, jelas Denni. “Saya bergabung di sana. Teman-teman
saya berubah, yang dulunya kebanyakan teman-teman
karyawan, sekarang saya punya banyak teman di kalangan pengusaha. Itulah
yang membuat saya bercita-cita, suatu saat saya harus
bisa menjadi seperti mereka, bahkan lebih”, jelas Denni dengan
antusias.
Akhirnya di tahun 2006, Denni memilih untuk sama-sama fokus berwirausaha. Langkah awal mereka adalah mendirikan usaha event organizer, dengan
pertimbangan usaha EO tidak memerlukan modal yang besar. “Karena
kami memang tidak punya cukup uang saat itu”, kata Selvi. “Semua kami pelajari secara
otodidak”, lanjut
Selvi. Dia membeli buku dengan judul
“Cara Berbisnis
EO Dengan Mudah”. “Hanya itu yang kami miliki”, aku Selvi. Event
pertama mereka adalah seminar
motivasi. “Itulah
pengalaman pertama kami yang sangat lucu. Kami belum pernah mengikuti seminar,
konsep riil suatu acara tidak tergambar detail. Alhamdulillah acara kami sukses
walaupun secara financial kami rugi besar. Lagi-lagi pembelajaran
bermanfaat bagi kami”.
Acara demi acara mereka adakan. Ada yang berhasil dan ada yang sepi peserta. Semua dilaluinya dengan suka cita. “Pagi-pagi saat selesai berbenah menyiapkan
segala keperluan si kecil Iara, kami bergegas untuk mencari sponsor dan
update acara kami. Si kecil Iara kami titipkan sementara di penitipan
anak. Akhirnya rutinitas ini membuat kami kewalahan juga,
karena ternyata tidak berbeda dengan kerja
di kantoran, bahkan yang
lebih susahnya lagi harus menitipkan anak”, tutur Selvi.
![]() |
| Gerai pertama di Batu Aji masih eksis hingga saat ini. |
Alih-alih putus asa, mereka
tetap gigih dalam berusaha. Mimpi mereka merupakan sumber energi yang tak ada
habisnya untuk terus berikhtiar. “Allah
Maha Adil ketika kita tetap fokus dan menyakini impian kita jawaban-Nya
selalu ada”, tutur Selvi.
“Suatu hari ada pelanggan
kami yang hendak berangkat ke Medan. Dia membeli 4 loyang banana
cake. Ia minta dibungkus yang rapi agar mudah dibawa karena dia menjadikan
cake kami sebagai oleh-oleh di
kampungnya. Inilah awal terlintas mempopulerkan banana cake kami sebagai
oleh-oleh khas Batam. Nama banana cake kami ganti dengan kek pisang sesuai dengan bahasa
melayu. Lahirlah Kek Pisang Villa Oleh-oleh
Khas Batam”.
Denni dan Selvi mencoba menembus pasar dengan cara memposisikan kek pisang sebagai buah
tangan atau oleh-oleh khas yang
harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Mereka berpikir jika bika ambon,
yang bukan makanan asli Medan, bisa menjadi makanan khas Medan mengapa mereka
tidak bisa menjadikan kek pisang menjadi makanan khas Batam? “Kami berusaha bagaimana
agar masyarakat dan pendatang di kota Batam
aware terhadap produk kami, Kek Pisang Villa sebagai
oleh-oleh khas kota Batam”, tutur Selvi. Serangkaian aktifitas komunikasi
dipergencar. “Awalnya masyarakat Batam memandang ini hanya
reka-rekaan saja. Bahkan ada yang datang khusus untuk mencacimaki
produk kami”, lanjut Selvi. Namun, Denni dan Selvi
bergeming. Sedikit demi sedikit
kepercayaan mulai tumbuh kepada Kek Pisang Villa. Dengan perubahan positioning
akhirnya penjualan Kek Pisang Villa mulai bergairah kembali. Melihat respon pelanggan yang cukup bagus dan keunikan produk
mereka memberanikan diri untuk
membuka 3 cabang lagi di daerah Batam
Centre, Nagoya, dan Penuin di tahun 2008. Ekspansi
mereka dapat dilakukan dengan
bantuan pihak Bank yang telah mulai percaya kepada mereka. “Tiga gerai bisa kami buka dalam waktu 3 bulan”, tutur
Selvi. “Tantangan dan resiko yang
kami ambil semakin besar”, imbuhnya. Belum genap sebulan sambutan pasar sangat bagus. “Alhamdulillah prestasi pertama yang kami
ukir adalah sebagai Pemenang III Wirausaha Muda Mandiri 2008”, ujar
Selvi. “Perkembangan pesat usaha kami rasakan setelah
mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan. Kami banyak berkenalan dengan
teman-teman dari seluruh Indonesia yang seirama sehingga
momentum positif tetap terjaga. Ini juga yang membawa saya akhirnya masuk
sebagai member dari Women Entreprenuer Club ( WEC)”, tutur Selvi.Tahun 2009 mereka membuka oulet ke-5 di Bandara Hang Nadim. Gerai
ke-6 dibuka awal tahun 2010
di kawasan Sei Panas.
Perpaduan pasangan Denni dan
Selvi dengan nilai-nilai yang dianutnya memang menghasilkan sinergi yang luar
biasa. “Sinergi saya dan istri
membuat usaha kami cepat berkembang. Strategi kami rancang bersama agar
usaha kami layak naik kelas, dari usaha rumahan menjadi bisnis yang patut
diperhitungkan. Tapi inilah tantangan kami bagaimana produk kami
layak dan patut diperhitungkan”, tutur Denni. “Ketika awal kami mulai membangun sistem, saya
memang agak kerepotan mengatur waktu antar pekerjaan rumah, mengurus
anak dan berusaha. Bahkan ketika saya sedang hamil
anak kedua kami. Tapi saya tetap menikmatinya, karena pada dasarnya
segala sesuatu yang kita kerjakan sesuai passion kita hasilnya adalah sukacita.
Saya masih melobi klien saya, ketika hamil besar.
Saat pengantaran kek keesokan harinya saya malah melahirkan”, kenang
Selvi.
Denni dan Selvi terus
mengembangkan usaha mereka. Tahun 2011 mereka melebarkan usahanya ke Pakanbaru
dengan mengembangkan merek dagang Viz Cake, yang mengolah durian
menjadi aneka jenis kue. Kegigihan dan kerja keras pasangan muda Denni dan
Selvi saat ini telah berbuah manis. Saat saya menulis artikel ini, gerai Kek
Pisang Villa telah tumbuh menjadi 10 gerai di penjuru Batam, yaitu di Batu Aji,
Batam Center, Tiban, Nagoya (2 gerai), Penuin, Botania, Bandara Hang Nadim (2 gerai),
dan Sei Panas. Dan dua gerai baru Kek Pisang Villa di Tanjung Pinang. Merek Viz Cake yang baru digarap sejak Mei
2012 untuk pasar Pekan Baru pun telah hadir di 4 gerai. “Kami merancang usaha
ini dengan sistem dimana kami tidak
masuk di dalamnya, bahkan kami tidak mempunyai ruangan khusus sendiri.Kami memposisikan
diri kami sebagai konseptor, selebihnya dijalankan oleh professional”,
ujar Selvi.
Sederet
penghargaan pun telah diraihnya. Tercatat penghargaan yang telah mereka raih; ASEAN
Business Award Kategori SME (2011), Marketing Award (Market Driven
Company, 2011), 1st
Winner Indonesia Future Woman Business Leader (2011), Rekor Bisnis sebagai Pelopor dan Produsen
Terbesar Makanan Oleh-oleh Khas Batam (2011), 1st Winner Ernst &
Young Entrepreneurial Winning Woman (2010), Asia Pasific Entrepreneurship (2010), The Indonesia Small & Medium
Business Entrepreneur Award (2010), Siddhakarya (2010), Entrepreneurship UKM Award (2010), 2nd
Winner Young Marketer Championship (2009), dan Pemenang III Wirausaha Muda Mandiri (2008). Sebagian mimpi mereka
pun sudah diraihnya. Mereka sudah menunaikan ibadah haji pada tahun 2011 yang
lalu. Mimpi untuk menghajikan kedua orangtuapun sudah tercapai. Kedua orangtua
Selvi menunaikan ibadah haji pada tahun 2010, sedangkan kedua orangtua Denni
dijadualkan di tahun 2013. Melancong ke beberapa negara pun sudah mereka
nikmati, walaupun sampai artikel ini ditulis tercatat mereka sudah melancong ke
19 negara di Asia dan Eropa.
![]() |
| Denni & Selvi bersama karyawannya |
Prinsip
berbagi kepada mereka yang membutuhkan, yang didapat dari ibunda Denni
sungguh-sungguh diterapkan oleh Denni dan Selvi. Banyak hal yang dilakukan
mereka, antara lain kegiatan Peduli Dhuafa dengan membagi-bagikan sembako
kepada kaum Dhuafa, kegiatan Nikah Massal, Anak Asuh, Sunat Massal, dan sederet
kegiatan sosial lainnya. “Perbanyaklah
berbagi kepada sesama, jangan kikir. Sedekah mengurangi bala. Itu
yang kami lakukan ketika mulai usaha hingga saat ini”, ujar Selvi.
Selvi selalu ingat pada pesan
ibunya untuk mengatur waktu dengan baik. “Walau bagaimanapun keluarga, anak-anak menjadi prioritas utama. Memantau
perkembangan anak-anak, sehingga jangan sampai mereka kehilangan sosok kita
yang melahirkan mereka. Meluangkan waktu untuk bisa berdiskusi dengan mereka
dengan penuh kehangatan dan kasih sayang itu adalah hal yang penting dalam
keseharian. Karena saya suka memasak, saya luangkan waktu untuk bisa memasak
makanan kesukaan anak-anak dan suami tentunya. Mencoba menu-menu baru adalah
hobi saya”, lanjut Selvi.
Denni dan Selvi adalah Sang
Pemenang. Dengan keuletan, kegigihan, pengorbanan, dan usaha keras serta
kepedulian terhadap sesama telah mengangkat kehidupan mereka dari seorang Denni
berstatus karyawan dengan gaji Rp 2,5 juta/bulan menjadi pengusaha muda dengan
omzet mencapai Rp 3 milliar per bulan, from
nothing to something. “Jangan
berharap keadaan menjadi lebih baik, namun berharaplah kita yang menjadi lebih
baik, maka segalanya akan jauh lebih mudah. Selalu belajar, berikthiar dan
berdoa. Man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”,
pesan Denni. “Kalau
gagal anggap saja kita belum pantas untuk naik kelas sehingga masih harus
belajar banyak. Jangan stress dan mati gaya. Lihat,
masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Keep moving dan imani bahwa
usaha kita pasti akan ada hasilnya. Just FIGHT tidak ada kata menyerah untuk
berhenti belajar”, tambah Selvi.
Dan perjalanan kesuksesan Sang
Pemenang adalah perjalanan tak berujung hingga Tuhan memanggil kita kembali ke
haribaan-NYA. Demikian juga pasangan Denni dan Selvi. Mereka terus bergerak memajukan
usaha dan berbagi. “Visi kami di tahun 2015 adalah VILLA INDONESIA hadir di 40 kota di Indonesia, dengan tetap fokus di bidang makanan khas
daerah atau oleh-oleh”, ujar Selvi. “Insya Allah. Amin ya robbalalamin”,
tutup Denni.
Salam Pemenang!
Catatan
- Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
- Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.
































