Senin, 03 September 2012

Man Jadda Wa Jada: Kisah Denni dan Selvi Kek Pisang Villa Batam


Bersama Selvi (paling kanan) dan Denni (kedua dari kanan) di Hangzhou, China.
Sebagian besar Anda, khususnya Anda yang tinggal di Batam atau pernah ke Batam, kemungkinan besar pernah mendengar Kek Pisang Villa Oleh-oleh Khas Batam atau bahkan sudah pernah membeli kek pisang yang diproduksi dan dipasarkan oleh pasangan muda Denni Delyandri dan Selvi Nurlia itu. Mereka berdualah yang pertama kali berani menyebutkan produk yang dijualnya sebagai Oleh-oleh Khas Batam. Kisah pasangan Denni & Selvi dalam membangun usahanya merupakah kisah perjuangan yang sarat dengan kegigihan, pengorbanan, dan usaha keras serta kepedulian terhadap sesama. Bermula dari usaha yang dimulai saat dia berusia 26 tahun, di sebuah rumah type 36, hingga saat ini mereka telah membuka 12 gerai di Batam dan 4 gerai di Pakan Baru dengan total omzet harian mencapai Rp 100 juta.

Bersama Selvi (ketiga dari kanan berkerudung) & Denni (di belakang berkaca mata hitam), di The Bund Shanghai, China
Saya mengenal mereka di musim panas 2010 dalam perjalanan wisata selama 8 hari mengunjungi kota Shanghai dan obyek-obyek wisata di kota-kota kecil sekitarnya. Mereka adalah pasangan muda yang sangat ramah, mudah bergaul, dan enerjik. Walaupun mereka berdua merupakan pasangan termuda dalam rombongan kami, tetapi mereka tidak mengalami kesulitan berkomunisasi dalam kelompok. Hal tersebut menandakan mereka adalah pasangan muda yang sudah matang kepribadiannya. Mereka cepat beradaptasi namun tetap memegang erat kepatutan yang sesuai dengan agama yang dianutnya. Suhu di siang hari yang mencapai 40 derajat Celcius tidak menggoyahkan Selvi untuk tetap berpakaian selayaknya seorang muslimah.

Denni, anak pertama dari dua bersaudara, lahir di Magelang pada 11 Juni 1980. Ayahnya, Delyandri Rasyid (58 tahun), adalah seorang pensiunan PT Telkom. Sedangkan ibunya, Zul Eni (57 tahun) seorang Pensiunan Muda Guru SMU. Ayahnya adalah seorang pekerja keras dan sosok yang bertanggung jawab di mata seorang Denni. Ibunya sangat penyabar, yang selalu mendoakan kesuksesan anak-anaknya, dan selalu memotivasinya agar menjadi yang terbaik dalam hal apapun yang dipilihnya. Ibunya juga selalu mengingatkan dia agar tidak lupa berbagi kepada yang membutuhkan.

Bakat kepemimpinannya sudah tampak sejak Denni masih duduk di Taman Kanak-kanak. Denni kecil selalu menjadi murid pilihan guru-gurunya ketika sekolah membutuhkan komandan upacara, ketua regu untuk Pramuka, atau mewakili sekolah untuk membawa bendera. Denni mudah bergaul dengan teman-temannya. Dia sangat menyukai kegiatan mendaki gunung. Saya pencinta alam, gunung-gunung di Sumatera Barat hampir semua pernah saya daki. Sangat senang rasanya ketika bisa melihat matahari terbit (sunrise) di puncak gunung-gunung tersebut, ujarnya. Sumatera Barat. Ya, di Sumatera Barat, tepatnya di Universitas Andalas di kota Padang Denni bertemu dengan Selvi, yang sekarang menjadi istrinya. Mereka berdua sama-sama menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Elektro dan sama-sama lulus menjadi Sarjana Teknik.

Selvi merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Lahir pada 11 Agustus 1980 di Tanjung Uban, Pulau Bintan. Ayahnya adalah pegawai BUMN, yang mendidik anaknya dengan keras. Ayahnya mendedikasikan waktu dan pikirannya agar keenam anaknya mendapatkan pendidikan hingga sarjana. Bagi ayahnya, pendidikan adalah yang terutama yang harus diupayakan. Walaupun untuk mencapai hal itu, ayahnya harus secara efektif membagi waktu antara bekerja dan berdagang. Dari ibunya, Selvi mendapatkan pelajaran agama. Ibu mengajarkan saya tentang agama yg kuat, taat kepada Allah, sholat tepat waktu, puasa dan berdoa. Bagaimana mengatur waktu dengan baik, sehingga semua pekerjaan selaras dengan waktu kita”, ujarnya Selvi.

Selvi kecil adalah anak yang pemalu, meski kerap mengikuti berbagai kompetisi, baik yang bersifat formal seperti cerdas cermat maupun yang informal seperti lomba lari, acara kesenian, dan lain-lain. Masa remaja Selvi dilalui tanpa banyak hal yang berkesan. Semua berlalu secara biasa saja karena tinggal di kota kecil di Bintan. Semua perhatian tercurah pada pelajaran. Namun saat itu Selvi sudah membangun mimpi. Mimpinya adalah suatu saat dapat menghajikan orangtuanya, tidak terbelenggu pekerjaan tetapi dapat sesuka hati melancong keluar negeri. Berkeliling dunia, bukan untuk belajar atau bekerja tapi hanya untuk menikmati hidup. “Aku tidak pernah membayangkan akan bekerja dengan berbusana rapi, seperti wanita modern saat ini, dan duduk di belakang meja sambil memegang komputer, ujarnya. Mimpi itu mungkin karena pengaruh televisi di lingkungan tempat tinggal Selvi saat itu, yang hanya dapat menangkap siaran dari Singapura dan Malaysia saja. Minat Selvi terhadap kuliner tergali melalui acara televisi Malaysia, yang merupakan acara favorit saat itu, yaitu Cooking with Wan Muhammad.

Kehidupan pasangan Denni dan Selvi sudah dirancang sejak mulai berpacaran di bangku kuliah. Mereka menargetkan lulus kuliah secepatnya. Dan berharap mendapat pekerjaan dengan gaji yang tinggi sehingga dengan setahun bekerja dapat menikah dan mempunyai rumah. Menjelang kelulusan mereka, sebuah perusahaan elektronik di Batam membuka lowongan pekerjaan di kampus mereka. Denni dan Selvi sama-sama mendaftar. Namun, hanya Denni yang diterima bekerja di Batam. “Merantaulah Denni ke Batam, ujar Selvi. “Saya kembali ke rumah orangtua saya di Pulau Bintan, lanjutnya. Tak lama kemudian saya mendapat pekerjaan. Kami bertemu setiap dua minggu, karena Batam-Bintan berbeda pulau dan harus menggunakan speed boat untuk ke Bintan, jelas Selvi.

Semua berjalan sesuai harapan. Tidak lama bekerja mereka memberanikan diri mengambil kredit rumah sederhana type 36 di kawasan Mukakuning, Batu Aji, Batam. Tepat setahun bekerja mereka memutuskan menikah, sesuai rencana awal mereka. “Setelah menikah saya memutuskan keluar dari perusahaan tempat saya bekerja dan mengikuti suami ke Batam. Inilah awal kehidupan berumah tangga yang kami lalui, kenang Selvi.

Di Batam, Selvi mencoba mencari-cari pekerjaan. Akhirnya dia diterima bekerja di sebuah perusahaan Jepang yang memproduksi alat-alat infus dan sejenisnya. Sejujurnya saya tidak begitu suka rutinitas selama bekerja. Rasa bosan selalu melanda saya. Di perusahaan itu saya hanya bertahan dua bulan saja. Akhirnya saya memutuskan keluar. Kabar gembiranya saya positif hamil, ujar Selvi sambil mengucap syukur. Setelah tidak lagi bekerja, seharian di rumah membuat saya bosan, lanjutnya. Ditambah penghasilan suami yang pas-pasan. Bila suami lembur paling banyak hanya mendapat Rp 3 juta-an. Belum lagi harus membayar cicilan rumah dan biaya hidup di Batam yang tinggi. Inilah awalnya kami memutuskan untuk  mencoba-coba berjualan kecil-kecilan, tutur Selvi.

Usaha pertama mereka adalah menjual kerupuk udang yang digoreng dan dikemas sendiri. “Akhirnya saya punya kesibukan ketika sendirian di rumah, yaitu menggoreng kerupuk”, ujar Selvi sambil tersenyum. Semua kami lakukan dengan semangat, tambah Selvi. Malam harinya mereka mengemas kerupuk-kerupuk itu agar pagi hari sebelum bekerja Denni bisa memasarkan kerupuk tersebut. Denni menitipkannya di warung-warung pinggir jalan, rumah makan padang yang kecil, warung sembako, dan sebagainya. Kami mempunyai lebih dari 20 titik lokasi penitipan. Sebenarnya hasilnya lumayan untuk menambah penghasilan kami, tapi terasa sangat berat dalam kondisi triwulan pertama kehamilan, jelas Selvi. Kebetulan kegiatan Denni di pabrik kembali padat. Akhirnya setelah 3 bulan berjualan kerupuk udang mereka memutuskan berhenti.

Untuk sementara mereka cooling down. Selvi hanya istirahat dan fokus pada kehamilan pertamanya. Tapi, kondisi itu tidak bertahan lama. Rasa suntuk dan bosan yang dirasakan Selvi mendorong mereka untuk memulai usaha lagi. Kali ini mereka menjual kue klepon. Selvi yang membuatnya di rumah dan Denni yang memasarkan di pabrik-pabrik. Satu demi satu usaha mereka coba agar mendapatkan penghasilan tambahan, termasuk berjualan makanan untuk sarapan pagi. Ketika bayi pertama mereka, Faza Mutiara Denni, lahir keadaan bertambah berat karena biaya perawatan bayi yang luar biasa mahal. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk membuka rumah makan padang dengan uang hasil pinjaman ke beberapa pihak. Kami menerapkan sistem bagi hasil kepada karyawan kami, kata Selvi.

Usaha rumah makan tidak berjalan mulus seperti harapan mereka. Rumah makan, yang mereka namakan Tanamo hanya bertahan dua bulan saja karena kekurangan modal dan tidak fokus dalam mengelolanya. Inilah kerugian pertama kami yang alhamdulillah cukup besar, tutur Selvi. Lagi-lagi mereka mengalami kegagalan. Tapi semua itu tidak melunturkan niat kami untuk berhenti berusaha. Saya memberi dua pilihan ke suami saya; ingin terus bekerja ya jadi manager yang baik atau jika ingin memiliki usaha sendiri maka tinggalkan pekerjaan, bersama-sama kita fokus menjalani bisnis kita, kata Selvi saat itu. Selvi meyakini bahwa pada dasarnya setiap kegiatan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh maka hasil yang didapat juga tidak akan maksimal.

“Kami berdua mempunyai cita-cita yang sangat tinggi. Jika hanya menjadi karyawan, maka cita-cita ini kemungkinan besar akan hanya menjadi mimpi. Kami memiliki keinginan yang sama, yaitu bagaimana di hidup yang sekali ini benar-benar bisa bermanfaat buat banyak orang, kata Denni. “Berawal dari kegelisahaan itulah saya mulai mencari jalan, karena saya paham pasti ada sesuatu yg salah dalam hidup saya ketika itu (cita-cita semakin jauh dari kenyataan). Saya mulai mencari jawaban melalui buku, teman, dan sebuah organisasi yang dapat dikatakan mengubah pola pikir saya dari sebagai karyawan menjadi seorang pengusaha. Organisasi itu bernama Entrepreneur Association (EA)”, jelas Denni. “Saya bergabung di sana. Teman-teman saya berubah, yang dulunya kebanyakan teman-teman karyawan, sekarang saya punya banyak teman di kalangan pengusaha. Itulah yang membuat saya bercita-cita, suatu saat saya harus bisa menjadi seperti mereka, bahkan lebih, jelas Denni dengan antusias.

Akhirnya di tahun 2006, Denni memilih untuk sama-sama fokus berwirausaha. Langkah awal mereka adalah mendirikan usaha event organizer, dengan pertimbangan usaha EO tidak memerlukan modal yang besar. Karena kami memang tidak punya cukup uang saat itu, kata Selvi. Semua kami pelajari secara otodidak, lanjut Selvi. Dia membeli buku dengan judul “Cara Berbisnis EO Dengan Mudah. Hanya itu yang kami miliki, aku Selvi. Event pertama mereka adalah seminar motivasi. Itulah pengalaman pertama kami yang sangat lucu. Kami belum pernah mengikuti seminar, konsep riil suatu acara tidak tergambar detail. Alhamdulillah acara kami sukses walaupun secara financial kami rugi besar. Lagi-lagi pembelajaran bermanfaat bagi kami. Acara demi acara mereka adakan. Ada yang berhasil dan ada yang sepi peserta. Semua dilaluinya dengan suka cita. Pagi-pagi saat selesai berbenah menyiapkan segala keperluan si kecil Iara, kami bergegas untuk mencari sponsor dan update acara kami. Si kecil Iara kami titipkan sementara di penitipan anak. Akhirnya rutinitas ini membuat kami kewalahan juga, karena ternyata tidak berbeda dengan kerja di kantoran, bahkan yang lebih susahnya lagi harus menitipkan anak”, tutur Selvi.

Gerai pertama di Batu Aji masih eksis hingga saat ini.
Awal tahun 2007 mereka terpikir untuk membuat usaha yang pemasukannya harian. ”Prinsipnya, saya mencari usaha yang arus kasnya harian”, ujar Denni. Denni ingin membuka kursus yang akan diberi nama Entrepreneur Course atau e-course. Selvi memilih untuk membuat jajanan yang bisa dititipkan ke warung-warung di sekitar komplek perumahan. Selvi membuat banana cake yang dijual per porong 1000 rupiah. Melihat perputaran usaha banana cake ini bagus maka Denni memutuskan untuk sama - sama fokus membesarkan banana cake dengan merek VILLA, yang diambil dari nama perumahan tempat mereka tinggal. Setelah sama-sama terjun mengelola banana cake, mereka memutuskan untuk menjual dengan sistem kemitraan, setiap mitra yang menjual per loyang kue akan mendapat fee 3000 rupiah. Alhamdulillah, pesanan pertama kami 40 loyang dari tetangga sebelah rumah, kenang Selvi. Senang bercampur bingung, karena saat itu kapasitas produksi kami hanya 4 loyang sekali bakar dan prosesnya perlu waktu 1 jam. Pesanan kami kebut semalaman, berlangsung lebih kurang 2 mingguan sampai akhirnya kami memutuskan untuk mengutang oven berukuran besar ke pemilik toko sembako tempat kami mengambil barang dagangan. Kamipun merekrut karyawan, sampai akhirnya dalam rumah type 36, kami mempekerjakan 6 orang. Walaupun ramai dan keadaan rumah menjadi sumpek karena harus berbagi antara kerja dan anak, tetapi alhamdulillah semua berjalan lancar, si kecil Iara tetap dalam pengawasan, ujar Selvi. Setelah lebih kurang 3 bulan kami memutuskan untuk mengambil pinjaman ke Bank, kredit tanpa agunan sebesar Rp 40 juta. Uang itu yang kami pergunakan untuk menyewa sebuah ruko di depan perumahan kami Villa Mukakuning. Alhamdulillah keadaan bertambah baik. Setidaknya ketika itu banana cake kami telah menghasilkan omzet Rp 2 jt per hari. Tapi setelah 6 bulan pasar mulai lesu, minat terhadap banana cake kami mulai menurun sehingga omset kami turun drastis, bahkan ketika itu kami kekurangan dana untuk operasional membayar gaji karyawan dan sewa ruko. Akhirnya mobil butut kami yang kami pakai untuk berjualan ke instansi-instansi terpaksa kami jual dengan harga murah.

Alih-alih putus asa, mereka tetap gigih dalam berusaha. Mimpi mereka merupakan sumber energi yang tak ada habisnya untuk terus berikhtiar. Allah Maha Adil ketika kita tetap fokus dan menyakini impian kita jawaban-Nya selalu ada”, tutur Selvi. Suatu hari ada pelanggan kami yang hendak berangkat ke Medan. Dia membeli 4 loyang banana cake. Ia minta dibungkus yang rapi agar mudah dibawa karena dia menjadikan cake kami sebagai oleh-oleh di kampungnya. Inilah awal terlintas mempopulerkan banana cake kami sebagai oleh-oleh khas Batam. Nama banana cake kami ganti dengan kek pisang sesuai dengan bahasa melayu. Lahirlah Kek Pisang Villa Oleh-oleh Khas Batam.

Denni dan Selvi mencoba menembus pasar dengan cara memposisikan kek pisang sebagai buah tangan atau oleh-oleh khas yang harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Mereka berpikir jika bika ambon, yang bukan makanan asli Medan, bisa menjadi makanan khas Medan mengapa mereka tidak bisa menjadikan kek pisang menjadi makanan khas Batam? Kami berusaha bagaimana agar masyarakat dan pendatang di kota Batam aware terhadap produk kami, Kek Pisang Villa sebagai oleh-oleh khas kota Batam, tutur Selvi. Serangkaian aktifitas komunikasi dipergencar. Awalnya masyarakat Batam memandang ini hanya reka-rekaan saja. Bahkan ada yang datang khusus untuk mencacimaki produk kami, lanjut Selvi. Namun, Denni dan Selvi bergeming. Sedikit demi sedikit kepercayaan mulai tumbuh kepada Kek Pisang Villa. Dengan perubahan positioning akhirnya penjualan Kek Pisang Villa mulai bergairah kembali. Melihat respon pelanggan yang cukup bagus dan keunikan produk mereka memberanikan diri untuk membuka 3 cabang lagi di daerah Batam Centre, Nagoya, dan Penuin di tahun 2008. Ekspansi mereka dapat dilakukan dengan bantuan pihak Bank yang telah mulai percaya kepada mereka. “Tiga gerai bisa kami buka dalam waktu 3 bulan, tutur Selvi. Tantangan dan resiko yang kami ambil semakin besar, imbuhnya. Belum genap sebulan sambutan pasar sangat bagus. Alhamdulillah prestasi pertama yang kami ukir adalah sebagai Pemenang III Wirausaha Muda Mandiri 2008, ujar Selvi. Perkembangan pesat usaha kami rasakan setelah mengikuti pelatihan-pelatihan yang diberikan. Kami banyak berkenalan dengan teman-teman dari seluruh Indonesia yang seirama sehingga momentum positif tetap terjaga. Ini juga yang membawa saya akhirnya masuk sebagai member dari Women Entreprenuer Club ( WEC), tutur Selvi.Tahun 2009 mereka membuka oulet ke-5 di Bandara Hang Nadim. Gerai ke-6 dibuka awal tahun 2010 di kawasan Sei Panas.

Perpaduan pasangan Denni dan Selvi dengan nilai-nilai yang dianutnya memang menghasilkan sinergi yang luar biasa.Sinergi saya dan istri membuat usaha kami cepat berkembang. Strategi kami rancang bersama agar usaha kami layak naik kelas, dari usaha rumahan menjadi bisnis yang patut diperhitungkan. Tapi inilah tantangan kami bagaimana produk kami layak dan patut diperhitungkan, tutur Denni. Ketika awal kami mulai membangun sistem, saya memang agak kerepotan mengatur waktu antar pekerjaan rumah, mengurus anak dan berusaha. Bahkan ketika saya sedang hamil anak kedua kami. Tapi saya tetap menikmatinya, karena pada dasarnya segala sesuatu yang kita kerjakan sesuai passion kita hasilnya adalah sukacita. Saya masih melobi klien saya, ketika hamil besar. Saat pengantaran kek keesokan harinya saya malah melahirkan, kenang Selvi.

Denni dan Selvi terus mengembangkan usaha mereka. Tahun 2011 mereka melebarkan usahanya ke Pakanbaru dengan mengembangkan merek dagang Viz Cake, yang mengolah durian menjadi aneka jenis kue. Kegigihan dan kerja keras pasangan muda Denni dan Selvi saat ini telah berbuah manis. Saat saya menulis artikel ini, gerai Kek Pisang Villa telah tumbuh menjadi 10 gerai di penjuru Batam, yaitu di Batu Aji, Batam Center, Tiban, Nagoya (2 gerai), Penuin, Botania, Bandara Hang Nadim (2 gerai), dan Sei Panas. Dan dua gerai baru Kek Pisang Villa di Tanjung Pinang. Merek Viz Cake yang baru digarap sejak Mei 2012 untuk pasar Pekan Baru pun telah hadir di 4 gerai. Kami merancang usaha ini dengan sistem dimana kami tidak masuk di dalamnya, bahkan kami tidak mempunyai ruangan khusus sendiri.Kami memposisikan diri kami sebagai konseptor, selebihnya dijalankan oleh professional, ujar Selvi.

Sederet penghargaan pun telah diraihnya. Tercatat penghargaan yang telah mereka raih; ASEAN Business Award Kategori SME (2011), Marketing Award (Market Driven Company, 2011), 1st Winner Indonesia Future Woman Business Leader (2011), Rekor Bisnis sebagai Pelopor dan Produsen Terbesar Makanan Oleh-oleh Khas Batam (2011), 1st Winner Ernst & Young Entrepreneurial Winning Woman (2010), Asia Pasific Entrepreneurship (2010), The Indonesia Small & Medium Business Entrepreneur Award (2010), Siddhakarya (2010), Entrepreneurship UKM Award (2010), 2nd Winner Young Marketer Championship (2009), dan Pemenang III Wirausaha Muda Mandiri (2008). Sebagian mimpi mereka pun sudah diraihnya. Mereka sudah menunaikan ibadah haji pada tahun 2011 yang lalu. Mimpi untuk menghajikan kedua orangtuapun sudah tercapai. Kedua orangtua Selvi menunaikan ibadah haji pada tahun 2010, sedangkan kedua orangtua Denni dijadualkan di tahun 2013. Melancong ke beberapa negara pun sudah mereka nikmati, walaupun sampai artikel ini ditulis tercatat mereka sudah melancong ke 19 negara di Asia dan Eropa. 

Denni & Selvi bersama karyawannya
Walaupun mereka telah menikmati kesuksesan, mereka tetap rendah hati. Suasana kekeluargaan begitu kental terasa dalam hubungannya dengan karyawannya. “Hubungan emosional kami dengan karyawan begitu dekat. Bahkan mereka memanggil kami dengan sebutan umi-abi (sama seperti anak-anak kami memanggil kami). Saya lebih konsen membangun dan meningkatkan taraf hidup karyawan kami dan berusaha mensejahterakan mereka. Bagi saya, pemimpin adalah bagaimana cara kita melayani bawahan kita, bukan sebaliknya, ujar Selvi. Mereka berbagi dengan sekitar 225 karyawan dari berbagai latar belakang. Selain itu juga dalam usahanya mereka berbagi rejeki dengan lebih dari 100 UKM yang menitipkan produk dagangannya di gerai-gerai mereka.

Prinsip berbagi kepada mereka yang membutuhkan, yang didapat dari ibunda Denni sungguh-sungguh diterapkan oleh Denni dan Selvi. Banyak hal yang dilakukan mereka, antara lain kegiatan Peduli Dhuafa dengan membagi-bagikan sembako kepada kaum Dhuafa, kegiatan Nikah Massal, Anak Asuh, Sunat Massal, dan sederet kegiatan sosial lainnya. “Perbanyaklah berbagi kepada sesama, jangan kikir. Sedekah mengurangi bala. Itu yang kami lakukan ketika mulai usaha hingga saat ini”, ujar Selvi.  

Selvi selalu ingat pada pesan ibunya untuk mengatur waktu dengan baik. Walau bagaimanapun keluarga, anak-anak menjadi prioritas utama. Memantau perkembangan anak-anak, sehingga jangan sampai mereka kehilangan sosok kita yang melahirkan mereka. Meluangkan waktu untuk bisa berdiskusi dengan mereka dengan penuh kehangatan dan kasih sayang itu adalah hal yang penting dalam keseharian. Karena saya suka memasak, saya luangkan waktu untuk bisa memasak makanan kesukaan anak-anak dan suami tentunya. Mencoba menu-menu baru adalah hobi saya, lanjut Selvi.

Denni dan Selvi adalah Sang Pemenang. Dengan keuletan, kegigihan, pengorbanan, dan usaha keras serta kepedulian terhadap sesama telah mengangkat kehidupan mereka dari seorang Denni berstatus karyawan dengan gaji Rp 2,5 juta/bulan menjadi pengusaha muda dengan omzet mencapai Rp 3 milliar per bulan, from nothing to something. “Jangan berharap keadaan menjadi lebih baik, namun berharaplah kita yang menjadi lebih baik, maka segalanya akan jauh lebih mudah. Selalu belajar, berikthiar dan berdoa. Man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”, pesan Denni. Kalau gagal anggap saja kita belum pantas untuk naik kelas sehingga masih harus belajar banyak. Jangan stress dan mati gaya. Lihat, masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Keep moving dan imani bahwa usaha kita pasti akan ada hasilnya. Just FIGHT tidak ada kata menyerah untuk berhenti belajar, tambah Selvi.

Dan perjalanan kesuksesan Sang Pemenang adalah perjalanan tak berujung hingga Tuhan memanggil kita kembali ke haribaan-NYA. Demikian juga pasangan Denni dan Selvi. Mereka terus bergerak memajukan usaha dan berbagi. “Visi kami di tahun 2015 adalah VILLA INDONESIA hadir di 40 kota di Indonesia, dengan tetap fokus di bidang makanan khas daerah atau oleh-oleh, ujar Selvi. Insya Allah. Amin ya robbalalamin”, tutup Denni.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Senin, 13 Agustus 2012

Nguwongke Uwong ala Jokowi: Sepenggal Cerita Dari Solo


Wali Kota Solo Ir. H. Joko Widodo (Foto: www.surakarta.go.id)
Sejak pemungutan suara putaran pertama pilkada Gubernur DKI Jakarta, yang dilaksanakan tanggal 11 Juli 2012 yang lalu, nama pejabat daerah yang paling banyak dibicarakan baik oleh media konvensional maupun media sosial adalah Wali Kota Solo Ir. H. Joko Widodo, yang lebih dikenal dengan panggilan Jokowi. Mulai dari hasil pemungutan suara putaran pertama yang fenomenal, yaitu mengalahkan pasangan incumbent, isu-isu tidak berdasar yang ditujukan kepadanya, hingga posisinya saat ini yang hanya didukung oleh PDIP dan Gerindra. Sementara partai-partai besar lain, yang sebelumnya pendukung pasangan lain yang telah gugur di putaran pertama, semuanya merapat ke partai pendukung pasangan Foke-Nara sehingga menempatkan Jokowi bak David vs Goliath dalam putaran kedua 20 September 2012 mendatang.

Namun, disela-sela hiruk pikuk tersebut, pada hari Kamis, 9 Agustus 2012 tersiar kabar membanggakan dari Bangkok, Thailand. Jokowi mendapat penghargaan Best City Award dalam Konferensi Partnership for Democratic Local Governance in Southeast Asia (DELGOSEA) di Bangkok, Thailand. DELGOSEA diluncurkan pada Maret 2010 dan co-funded oleh the European Commission dan the Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) of Germany, dimana dana awal berasal dari German Ministry for Development Cooperation. Partnership yang dikembangkan bersama oleh the Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) of Germany, the Local Government Development Foundation (LOGODEF) Filipina, the United Cities and Local Governments for Asia and Pacific (UCLG-ASPAC) dan the Association of Indonesian Regency Governments (APKASI), the Thailand Environment Institute (TEI), the Association of Cities in Vietnam (ACVN), dan the National League of Communes/Sangkats of the Kingdom of Cambodia (NLC/S).

Gagasan utama DELGOSEA adalah menciptakan sebuah jaringan bagi replika kisah sukses pemerintah daerah kota dan kotamadya di Asia Tenggara. Kisah-kisah sukses (best practices) yang diidentifikasikan ke dalam “tempat-tempat sukses” akan direplikasi dalam “pilot cities/replication places” tanpa harus memulainya dari nol.

Penghargaan Best City Award diberikan karena Jokowi dinilai berhasil menerapkan kebijakan yang membuat masyarakat mau mendukung dan melaksanakannya. Peter Wood, Head of the United Cities and Local Government for Asia Pacific (UCGL-ASPAC), menyatakan bahwa Jokowi dinilai berhasil dalam melakukan pendekatan kepada rakyat agar memahami dan menaati kebijakan pemerintah kota. Pendekatan pembangunan yang pro-rakyat yang diadopsi Jokowi yang dipadu dengan manajemen yang transparan terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan dengan baik dan diakui dunia. Salah satu nilai yang menonjol adalah keberhasilan penerapan kebijakan penataan kota terhadap para pedagang kaki lima.

Kirab Boyongan PKL, 2006 (Foto: haxims.blogspot.com)
Kisah sukses yang menjadi pembicaraan secara meluas adalah keberhasilan Jokowi merelokasi para pedagang kakilima (PKL) Monumen Juang 45 Banjarsari ke Pasar Klithikan pada tahun 2006. Apa yang menonjol dari berita kesuksesan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah keberhasilan Jokowi mengubah sikap keras para PKL yang awalnya sangat menentang relokasi hingga akhirnya mendukung dengan sepenuhnya. Pendekatan yang dilakukan Jokowi bukanlah pendekatan kekuasaan tetapi justru pendekatan musyawarah. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan sebagai sesama manusia, bukan semata antara penguasa dan rakyat. Dengan pendekatan seperti itu maka Jokowi dapat memahami sepenuhnya keberatan para PKL dan melakukan terobosan sehingga semua persoalan dan kekuatiran para PKL mendapat solusinya. Solusi itu antara lain, setiap PKL yang sebelumnya memiliki kios di tempat lama akan mendapatkan kios secara gratis di tempat barunya. Infrastruktur di lokasi baru, termasuk pembukaan trayek baru yang melintasi Pasar Klithikan. Pemerintah Kota Solo juga mempermudah pengurusan izin usaha (SIUP), dan membantu mempromosikan lokasi baru selama beberapa bulan pertama. Puncaknya adalah prosesi perpindahan hampir seribu PKL dari lokasi lama ke lokasi baru dengan acara kirab budaya yang disaksikan ribuan warga di pinggir jalan utama. Itulah keberhasilan pendekatan Jokowi yang menganut prinsip nguwongke uwong, memanusiakan manusia atau menghargai martabat manusia.
Sosialisasi langsung ke warga Solo, 2009 (Dokumentasi pribadi)

Pendekatan pembangunan yang pro rakyat juga tercermin saat saya mendapat tugas melaksanakan program pemerintah pusat dalam konversi minyak tanah untuk memasak ke gas elpiji di Kota Solo, khususnya di Kecamatan Laweyan, Serengan, dan Pasar Kliwon pada awal 2009. Saat menghadap Jokowi, beliau meminta agar dilakukan sosialisasi kepada seluruh warga Solo dan tanyakan kesediaannya sebelum program dilaksanakan. Walaupun sosialisasi seperti yang diminta Jokowi tidak termasuk dalam rincian pekerjaan yang harus saya kerjakan, namun saya dapat memahami maksud permintaan Jokowi tersebut. Dan kami lakukan sosialisasi kepada warga di hampir 1.200 RT di tiga kecamatan. Tingkat kesetujuan warga mencapai 99.9%. Dan akhirnya program konversi minyak tanah untuk memasak ke gas elpiji di Kota Solo berjalan lancar tanpa ada sedikitpun gejolak.

Buku biografi Jokowi
Prinsip nguwongke uwong ala Jokowi tidak lepas dari pengalaman kehidupan pahit pada masa kecilnya yang hidup nomaden dari satu bantaran kali ke bantaran kali lainnya, seperti diceritakan oleh Yon Thayrun dalam buku biografi “Jokowi Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker”. Pada usia 5 tahun Jokowi dan keluarga menjadi penghuni liar di pasar kayu dan bambu Gilingan, yang berada di selatan bantaran Kali Anyar. Saat Jokowi duduk di kelas IV SD, bersama 3 adik perempuan dan kedua orangtuanya digusur oleh Pemerintah Kota Solo tanpa pemberitahua terlebih dahulu. Sikap sederhanya yang terekspos luas saat ini bukanlah sikap yang dibuat-buat. Yon juga menceritakan suatu saat, dimasa awal Jokowi menjabat sebagai Wali Kota, Jokowi bertugas ke Jakarta dan menginap di salah satu hotel bintnag lima di kawasan Senayan. Jokowi memilih memesan satu kamar untuk dia dan ajudannya. Selain alasan berhemat, dengan satu kamar koordinasi dengan ajudan akan lebih praktis karena handphone selalu dipegang oleh ajudannya.

Jokowi (duduk berkaos dan bertopi putih) dalam pembukaan car-free day Juanda 25 September 2011
Dengan sikapnya yang sederhana, prinsip nguwongke uwong yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan warga Solo menghasilkan kepemimpinan yang efektif dalam membangun kota Solo. Dan pada pemilihan kedua kalinya (periode 2011-2015) Jokowi mendapat kepercayaan warga secara mutlak dengan perolehan suara mencapai 91%. Cerita sukses Jokowi adalah cerita Sang Pemenang. Dari seorang anak kecil yang hidup nomaden dari satu bantaran kali ke bantaran kali lainnya menjadi seorang pengusaha sukses dan Wali Kota paling terkenal saat ini. Jokowi from zero to hero.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Senin, 06 Agustus 2012

Senantiasa Mengucap Syukur: Sebuah Kisah Dari Kupang


Saya mengenal sosok Mulyono Subroto secara “tidak sengaja” melalui pertemanan di facebook, kemudian bertukar no ponsel dan PIN BB. Setelah itu kami cukup sering berkomunikasi karena memiliki beberapa kesamaan pandangan. Walaupun hingga hari ini kami belum pernah bertatap muka, saya dapat merasakan sosok Mulyono adalah seorang yang rendah hati dan selalu berpikir positif. Sikap selalu mengucap syukur atas segala hal yang terjadi dalam kehidupannya, terlepas apakah itu hal baik atau buruk, merupakan kekuatannya dalam mengarungi perjalanan Sang Pemenang. Saya sengaja memberi tanda kutip pada kata tidak sengaja, karena saya percaya tidak ada yang kebetulan atas sesuatu yang terjadi dalam hidup ini. Ada maksud Tuhan di balik setiap hal yang terjadi dalam hidup ini. Tulisan ini didasarkan atas hasil wawancara jarak jauh saya bersama dia.

Terlahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, 8 Juni 1973, Mulyono tumbuh dalam sebuah keluarga yang sederhana. Ayahnya adalah pedagang yang membuka sebuah toko kecil, yang menjual barang kelontongan dan sembako. Dari ayahnya itulah Mulyono kecil sejak awal sudah dididik untuk siap menghadapi kehidupan yang keras. Anak ke- 5 dari 7 bersaudara itu selama tiga tahun, sejak kelas 1 hingga kelas 3 SMP (tahun 1986-1989) disuruh berjualan es balok dengan upah Rp 200,- per baloknya. Orang tuanya mendidik Mulyono agar tahu bagaimana rasanya bekerja untuk mendapatkan uang, dan juga mendidik kebiasaan menabung sejak dini. Saat itu Mulyono dapat menjual 20 sampai 30 balok es. “Jika ingin bertahan hidup harus terus berjuang tanpa henti”, demikian kata-kata ayahnya yang sangat membekas pada diri Mulyono.

Suatu ketika, saat duduk di bangku SMA, guru yang mengajar Kimia bertanya kepada Mulyono, “Apa cita-citamu, Mul?”. Spontan, Mulyono menjawab, “Jadi dokter, bu”. “Dengan nilai hasil ulanganmu yang selalu 3 atau 4, maka jika kamu jadi dokter pasti semua pasienmu malah bertambah parah sakitnya”, komentar ibu gurunya. Sejak kejadian itu, Mulyono belajar kimia dengan sungguh-sungguh. Dan hasilnya nilai Mulyono berubah tidak pernah kurang dari nilai 8 atau 9. Tidak hanya itu, Mulyono juga berubah sikap menjadi sungguh-sungguh dalam belajar dan berhasil menoreh prestasi sebagai juara 2 di kelas saat duduk di kelas 1 dan 2. Dari gurunya itu, Mulyono sadar bahwa di dunia ini orang gagal bukan karena tidak mampu atau bodoh. Kebanyakan penyebabnya adalah kemalasan, entah itu malas belajar, malas  bekerja, malas berubah, dan sederet kemalasan lainnya.

Kedua prinsip hidup yang didapat oleh ayah dan ibu gurunya menjadi bekal Mulyono dalam menyusuri rute Sang Pemenang. Selepas lulus SMA di tahun 1993, Mulyono bekerja sebagai salesman di sebuah perusahaan produk sanitary di Surabaya untuk menangani wilayah Jawa Timur. Kesungguhan hati dalam menekuni pekerjaannya yang ditunjukkan oleh Mulyono selama enam bulan pertama berbuah kinerja yang sangat baik, dan membuat ia dipercaya mendapat tambahan wilayah Bali dan Lombok. Tahun 1995, Mulyono kembali mendapat kepercayaan perluasan wilayah kerja meliputi Sulawesi, Maluku dan Kalimantan. Di penghujung tahun 2003, Mulyono memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Bekerja sama dengan beberapa temannya, Mulyono membuka toko bahan bangunan dan interior di Bali. Hasilnya sungguh membesarkan hati. Usaha berkembang dengan cepat dan peningkatan penghasilan terasa nyata sekali. Namun, hal yang menggembirakan itu hanya berjalan setahun. Usahanya mulai menurun dan akhirnya kerjasama dengan teman-temannya dibubarkan. Setelah itu Mulyono sempat setahun bekerja lagi di sebuah perusahaan bahan bangunan di Bali, untuk kemudian membuka usaha lagi bersama seorang temannya. Tapi, lagi-lagi usahanya gagal.

Saat itu, 2 Maret 2007, Mulyono termenung di sebuah terminal di kota Denpasar. Dia berdoa, kemana dia harus pergi. Suara dalam hatinya menyuruh dia naik bus pergi ke tempat yang paling jauh. Dia menemukan sebuah bus dengan tujuan sebuah desa kecil bernama Sappe di kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Setelah itu dia menunggu kapal yang akan membawanya ke sebuah daerah yang sama sekali belum pernah dia kunjungi, yaitu Labuan Bajo, Flores Timur. Sesampainya disana dia bertemu dengan seseorang yang memiliki sebuah usaha martabak, dan dia menumpang di rumah orang itu selama lima hari. Mulyono belum pernah kenal dengan si penjual martabak sebelumnya. Namun entah kenapa si penjual martabak itu tergerak untuk menolongnya. Mulyono percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua itu ada dalam rencana Tuhan. Pada malam hari ke empat, Mulyono kembali berdoa. Dorongan hatinya mengatakan pergilah ke kota yang lebih besar, dan itu adalah sebuah kota yang bernama Ruteng. Di sana juga Mulyono tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan uangnya mulai menipis. Akhirnya dia teringat seorang temannya yang pernah tinggal di daerah Timor. Dan setelah Mulyono menghubungi temannya itu, Mulyono di suruh ke ibukota Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur), yaitu Kupang. Selanjutnya, Mulyono bertemu dengan temannya dan menumpang menginap di tempat kos temannya itu. Uang di dompet Mulyono terus menipis hingga akhirnya tinggal tersisa Rp. 100.000,-.

Berbekal ijasah SMA dan beberapa sertifikat pendidikan non-formal, Mulyono mulai melamar di semua perusahaan di Kota Kupang, namun tidak satupun dari perusahaan-perusahaan di Kota Kupang yang menerimanya. Mulyono, terus berdoa. Doanya terjawab. Mulyono oleh temannya di kenalkan kepada salah satu pengusaha, dan akhirnya dia bekerja di sana. Selang satu tahun berlalu perusahaan itu juga sulit bertahan, dan akhirnya bubar. “Jika ingin bertahan hidup harus terus berjuang tanpa henti”, kata-kata ayahnya terus terngiang-ngiang. Mulyono kembali mencari kerja dan akhirnya mendapatkan pekerjaan menjadi sopir pribadi. Empat bulan dijalani Mulyono sebagai sopir pribadi. Namun, pada bulan kelima Mulyono harus kehilangan pekerjaannya karena fitnah rekan sekerja. Ia diberhentikan oleh majikannya.

Bersama James Gwee (kiri), 2010
Mulyono kembali tidak memiliki pekerjaan. Namun, dalam kondisi seburuk apapun Mulyono selalu mengucap syukur, berdoa dan terus berusaha. Dia kembali mencari lowongan kerja di koran dan hasilnya dia tidak menemukan lowongan juga. Saat dia membaca surat kabar harian terbitan kota Surabaya, dia melihat temannya sudah menjadi seorang pembicara yang sukses. Mulyono langsung menghubunginya dan meminta bantuan temannya. “Saya bisa menolong kamu, tetapi saya tidak akan memberi kamu uang. Kamu harus mengadakan seminar untuk mendapatkan uang”, demikian temannya berkata. Saat itu awal tahun 2009, Mulyono mengorganisasikan sebuah seminar di Kota Kupang yang pertama kali, dengan pembicaranya adalah temannya itu. Dia memulainya dengan berbekal uang hanya Rp 20.000,-. Dengan kemampuan pas-pasan di bidang disain grafis, Mulyono mendesain brosur seminar di tempat rental komputer. Master brosur itu kemudian difoto copy. Dengan menggunakan angkutan umum, Mulyono menemui beberapa pemilik perusahaan dan menawarkan sponsorship untuk acara seminar tersebut. "Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ternyata banyak perusahaan yang mau mensponsori seminarnya", ceritanya. Itulah awal Mulyono mendapatkan uang, yang kemudian digunakan untuk menyelenggarakan seminar berikutnya.

Acara "Sang Motivator" live di TVRI NTT
Mulyono memulainya dengan penuh keyakinan dan kepercayaan bahwa dia bisa dan harus berjuang untuk bertahan hidup. Alhasil, di kota Kupang Mulyono merupakan penyelanggara seminar publik yang pertama. Dari satu penyelenggaraan seminar ke seminar lainnya, Mulyono mulai berkenalan dengan beberapa pembicara taraf internasional. Dan Tuhan melapangkan jalan baginya. Dari beberapa pembicara ternama, Mulyono didorong untuk membagikan pengalaman hidupnya kepada masyarakat luas sehingga banyak orang dapat mengambil manfaat dari kisah perjuangannya. Mulyono mulai menulis di salah satu koran lokal, Timur Express, di kolom lifestyle sampai saat ini dan juga mengisi acara di TVRI NTT setiap hari Senin pukul 19.00 sampai 20.00 dalam acara Sang Motivator. Selain menyelenggarakan seminar, Mulyono juga menawarkan jasa motivasi ke perusahaan-perusahaan. Dan beberapa perusahaan mulai memakainya untuk memberikan motivasi kepada para karyawannya.

Tahun 2010, Mulyono menemukan jodohnya. Seorang gadis asal Jakarta bernama Sherly Halim, yang lebih muda dua tahun dari Mulyono, seorang sarjana ekonomi. “Saya memilih Mulyono karena dia adalah orang yang gigih dalam berjuang menghidupi dirinya”, ujar Sherly ketika ditanyakan kepadanya apa yang membuat dia terpikat dengan Mulyono.
Beberapa bulan setelah menikah, istrinya hamil. Sayangnya, janin buah cinta mereka keguguran. Selang lima bulan kemudian, istrinya kembali hamil. Namun, istrinya kembali keguguran. Beberapa bulan kemudian, kembali istrinya hamil. Kali ini Tuhan mengijinkan buah cinta mereka lahir ke dunia pada tanggal 15 Mei 2012. Seorang putri, yang mereka beri nama Cheryl Medelaine Subroto.

Usaha yang digeluti Mulyono dia beri nama Progresif Kupang. Visinya adalah sebagai motivator perubahan, yang mendorong orang untuk mau melakukan perubahan menjadi lebih baik. Sesungguhnya, banyak orang tidak bisa hidup berkemenangan karena enggan melakukan perubahan. Dengan progresif Kupang, Mulyono memberikan motivasi kepada karyawan-karyawan perusahaan-perusahaan dan instansi di Kupang, juga menjadi penyelenggara seminar di Kupang bagi pembicara-pembicara luar kota Kupang. Beberapa pembicara terkenal sudah memanfaatkan jasa Mulyono, seperti James Gwee, contohnya.
Progresif Kupang saat ini masih terus berjuang. Sama halnya dengan Mulyono yang berjuang untuk memperbaiki kehidupannya, menata ulang kehidupannya. Hidup ini adalah kesempatan yang perlu diisi dengan semangat, ketekunan, ketulusan dan kesetian. Dan Mulyono tahu bahwa hidup tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di jaman  modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Namun Mulyono sadar bahwa hidup ini adalah resiko yang harus dijalani, karena tanpa resiko kita tidak akan pernah maju. Dalam melakukan apa saja pasti ada resikonya. Entah resiko itu menguntungkan atau tidak menguntungkan. Namun, yang Mulyono yakini Tuhan tak pernah meninggalkan umatnya yang berserah kepada-NYA.

Bersama Wakil Gubernur NTT Ir Esthon Foenay (tengah) dan James Gwee (kanan), 2011
Kota Kupang adalah kota kecil. Dari sisi bisnis, potensi yang dapat digali dari kegiatan-kegiatan seminar motivasi tentulah tidak sebesar kota-kota besar lainnya. Namun, itulah pilihan Mulyono, berkarya dan berbagi mendorong perubahan-perubahan positif mental dan semangat masyarakat kota Kupang untuk bisa menikmati hidup yang berkemenangan. “Saya telah membuktkan, dari uang Rp. 20.000, saya bisa bertahan hidup hingga saat ini, maka saya percaya akan banyak orang-orang di Kupang akan menjadi lebih dari apa yang saya capai sebagai seorang pemenang”. Itulah keyakinan seorang Mulyono Soebroto. Kesempatan hari ini tidak akan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Oleh sebab itu, lakukanlah sesuatu dengan kualitas terbaik hari ini sebab kualitas yang bisa kita lakukan hari ini belumlah tentu akan sama dengan kualitas esok hari”, ujar Mulyono menutup pembicaraan kami.

Selamat berjuang Mulyono.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   
         

Sabtu, 28 Juli 2012

Kecerdasan Bukanlah Satu-satunya Faktor Penentu Kesuksesan


Hari Minggu, 22 Juli 2012 yang lalu, saya bersama keluarga menikmati film Batman The Dark Knight Rises. Dalam salah satu adegan, tampak di layar bioskop segerombolan orang dipimpin oleh penjahat yang bernama Bane masuk ke lantai bursa dan memberondongkan senapan mesin yang memuntahkan pelurunya secara membabi buta. Melihat adegan itu, saya teringat dengan kejadian memilukan yang terjadi pada Jum’at dinihari, 20 Juli 2012, pada pemutaran perdana film itu di bioskop Century 16 di Aurora Mall, Denver, Colorado.




Sumber: Waspada Online (www.waspada.co.id)
Saat itu film masih diputar, seseorang terlihat keluar, masuk kembali dan kemudian melempar bom asap disusul dengan berondongan peluru dari senapan mesin yang mengarah tempat duduk penonton. Jeritan tangis membahana dan kekakacauan pun terjadi, hingga akhirnya pria itu ditangkap oleh petugas di tempat parkir kompleks bioskop tersebut. Saat ditangkap pria itu menyebut dirinya sebagai The Joker, musuh bebuyutan Batman. Tercatat, korban meninggal mencapai 12 orang, termasuk anak kecil, dan korban luka-luka mencapai lebih dari 50 orang.

Pria itu masih muda, rambut dicat warna merah dan mengenakan rompi anti peluru. Dia memegang senapan serbu, senapan berburu, dan dua buah pistol. Di mobilnya juga ditemukan sepucuk pistol lainnya. Pria muda itu bernama James Eagan Holmes, berusia 24 tahun (lahir 13 Desember 1987 di San Diego), dan merupakan mahasiswa program doktoral untuk ilmu saraf (neuroscience) di Anschutz Medical School, Universitas Colorado. Holmes adalah seorang yang pemalu, namun rajin dan sangat cerdas. Holmes dibesarkan oleh keluarga yang kaya di San Diego, California. Selama ini Holmes bersih dari catatan kejahatan hingga kejadian tersebut.

Apartemen Holmes (Sumber: AP)
Hasil penyelidikan menemukan bahwa Holmes telah menimbun ribuan butir peluru, senjata, dan perlengkapan militer lainnya serta sejumlah bahan peledak yang dibelinya secara online. Holmes juga memasang berbagai perangkap dan jebakan di apartemennya. “Saya melihat banyak sekali kabel, stoples penuh dengan amunisi, juga stoples berisi cairan. Juga terlihat bendar yang terlihat seperti mortir”, kata Dan Oates, Kepala Kepolisian Aurora (Kompas, Minggu 22 Juli 2012). Semua jebakan mematikan itu tampak sengaja dipasang Holmes untuk membunuh siapapun yang masuk ke apartemennya. Diperkirakan Holmes telah menghabiskan uang sebesar 15.000 dollar AS untuk membeli senjata, amunisi, bahan kimia, dan perlengkapan lainnya secara online. Kabar terakhir, diduga Holmes telah mengirimkan paket berisi detail rencana penyerangan itu dalam bentuk tulsian dan gambar, jauh sebelum dia beraksi. Holmes mengirim paket itu kepada psikiater di Anschutz Medical School, Universitas Colorado.

James "The Joker" Holmes (Sumber: Reuters)
James “The Joker” Holmes, tampil pada sidang perdana kasusnya, Senin, 23 Juli 2012. Dengan kedua tangan dan kaki diborgol, dia duduk di kursi terdakwa. Wajahnya nyaris tanpa emosi dan tatapan matanya kosong. Holmes sama sekali tidak menunjukkan emosi. Dia terancam hukuman mati. Seorang pemuda yang hidup dalam keluarga yang berkecukupan, cerdas dan menikmati tingkat pendidikan yang tertinggi. Namun, hidupnya harus berujung pada tuntutan mati sebagai akibat tindakannya.     

Sidis saat wisuda di Harvard, 1914  (en.wikipedia.org)
Kecerdasan bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan seseorang. Anda pernah mendengar cerita tentang William James Sidis? Jika belum pernah mendengar tidak mengapa. Saya pun belum pernah mendengar, hingga beberapa waktu yang lalu guru Bahasa Inggris ketika saya SMA dulu bertanya kepada saya mengenai Sidis melalui BlackBerry Messenger. Segera saya tanya kepada “Paman Google” dan menemukan tentang Sidis pada laman Wikipedia.

William James Sidis (1 Apr 1898 – 17 Juli 1944) adalah anak Amerika yang sangat berbakat dengan kemampuan istimewa atas Matematika dan Bahasa. Selama hidupnya, IQ-nya diperkirakan antara 250 hingga 300, yang membuatnya menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat. Dia masuk Harvard pada usia 11 tahun, dan sebagai orang dewasa dikabarkan menguasai lebih dari 40 bahasa dan dialek. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa beberapa klaim dinilai berlebihan, dimana seorang periset menyatakan “Saya telah meriset kebenaran langsung dari sumber utama atas banyak subyek selama 28 tahun, dan belum pernah menemukan sebuah topik yang dipenuhi dengan kebohongan, mitos, kebenaran yang diragukan, berlebihan, dan bentuk-bentuk lain atas informasi menyesatkan seperti dalam sejarah di belakang William Sidis”. Sidis menjadi terkenal pertama kali untuk hal-hal yang dicapai mendahului usianya dan kemudian pada eksentriknya dan menarik diri dari kehidupan sosial. Akhirnya, dia menghindari semua yang berhubungan dengan matematika, dan menulis topik lain dengan sejumlah nama samaran.

Keluarga Sidis adalah keturunan Yahudi Ukraina. Orangtuanya meninggalkan negaranya untuk menetap di Amerika Serikat pada tahun 1887. Ayahnya, Boris Sidis, Ph.D., M.D., adalah seorang psikiater. Boris menguasai beberapa bahasa. Ibunya, Sarah Mandelbaum Sidis, M.D., lulusan Boston University, School of Medicine pada tahun 1897. Kedua orangtuanya memacu perkembangan intelektual Sidis mendahului kematangan usianya. Pada usia 18 bulan Sidis sudah bisa membaca surat kabar New York Times. Pada usia 8 tahun Sidis sudah belajar 8 bahasa, yaitu Latin, Yunani, Perancis, Rusia, Jerman, Ibrani, Turki, dan Armenia. Masuk Harvard pada usia 11 tahun, dan lulus sarjana dengan cum laude pada 18 Juni 1914, pada usia 16 tahun. Dia kemudian mendaftar di Harvard Graduate School of Arts and Sciences. Sidis melepas peluang mendapatkan gelar master dalam matematika, dia malah mendaftar ke Harvard Law School pada September 1916 dan mengundurkan diri pada Maret 1919. Sidis ditahan pihak berwenang atas partisipasinya dalam parade kaum sosialis di Boston, yang berakhir kacau. Dalam persidangan, Sidis menegaskan bahwa dia adalah seorang sosialis dan menentang Perang Dunia I. Orangtuanya menganggap Sidis terganggu jiwanya, dan Sidis dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sidis meninggal di tahun 1944 di Boston akibat pendarahan otak pada usia 46 tahun. Hal yang sama dialami ayahnya pada tahun 1923 pada usia 56 tahun.

Kisah Wiliam James Sidis adalah salah satu contoh lagi bahwa kecerdasan terbukti gagal memprediksi kesuksesan sesorang. Kecerdasan merupakan salah satu faktor penentu, namun bukan satu-satunya faktor, dalam kesuksesan seseorang. Kecerdasan intelektual (IQ) bersama kecerdasan emosional (EQ), dan daya tahan (AQ) akan menentukan kesuksesan seseorang. Dan di antara ketiganya, Adversity Quotient (AQ), yang merupakan daya tahan seseorang dalam menghadapi situasi sulitlah yang paling berperan (baca artikel saya sebelumnya “Adversity Quotient” di www.suhartono-chandra.blogspot.com/2011/12/adversity-quotient.html).

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Senin, 16 Juli 2012

Life Is Not All About Money


Sumartono Hadinoto & keluarga
Suatu pagi di bulan Mei 2008, saya baru saja mendarat di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, dengan pesawat Garuda Indonesia penerbangan pertama dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Setibanya di pintu keluar, saya menekan sebuah nama di ponsel saya. Tidak lama setelah terdengar nada sambung, sebuah suara terdengar begitu hangat menyapa. Sesaat kemudian kami saling berhadapan. Genggaman telapak tangan seorang pria paruh baya yang saya rasakan mencerminkan pribadi sosok yang terbuka. Saya duduk di samping pria itu yang duduk di belakang kemudi Honda Jazz. Selama perjalanan dari Bandara ke kota kami asyik mengobrol dengan selingan beberapa panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Dengan earphone yang terpasang di telinganya dia leluasa berbicara di ponselnya. Isi pembicaraan teleponnya lebih banyak terkait dengan kegiatan/urusan sosial. Seperti pagi itu, seorang warga memberitahukan dia bahwa baru saja suaminya meninggal dan membutuhkan bantuan. Saat itu juga beliau menghubungi beberapa pihak dan memberi instruksi-instruksi. Setelah itu beliau menghubungi kembali warga tersebut dan menginformasikan bahwa semua kebutuhannya sudah disiapkan. Bagi beliau urusan membantu warga yang sedang kesusahan harus segera dilaksanakan. Tidak boleh ditunda-tunda. Tanpa terasa kami sudah tiba di daerah Pasar Gede, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Sesaat kemudian kami menyantap Timlo Sastro, warung timlo yang pertama di Solo, yang sudah berjualan di samping Pasar Gede sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Selesai sarapan, saya diajak mampir ke rumah beliau. Itulah pertemuan pertama saya dengan sosok bernama Sumartono Hadinoto, yang terlahir dengan nama Khoe Liong Hauw.

Sumartono (kedua dari kanan) saat penyerahan bantuan untuk korban banjir, 29 Desember 2007
Martono, begitu dia biasa dipanggil, lahir, besar dan hingga saat ini tinggal di Solo. Nama beliau sangat lekat dengan aktifitas sosial di Solo. Tidak heran, karena dia memang begitu aktif di belasan organisasi sosial. Sebut saja, Perkumpulan Masyarakat Solo (PMS-Ketua Humas & Pelayanan), Lions Club Solo Bengawan (LCSB), Dewan Harian Cabang 1945 (DHC'45-Ketua Biro Sosial Budaya), Yayasan Kesejahteraan Tunanetra (Yaketuntra-Ketua), Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari-Ketua), Paguyuban Alumni Sekolah Warga, International Nature Loving Association (INLA-Ketua Kehormatan), Panti Asuhan Karya Rahayuning Anak (Karuna-Ketua), Asosiasi Pengusaha Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI-Ketua Umum) Solo, Palang Merah Indonesia (PMI-Sekretaris & Komandan Satgana) Kota Solo, Direktur Medical Action Team PMI Solo, Solo Emergency Response Unit (SERU-Ketua), dan beberapa lainnya. Solo Emergency Response Unit merupakan wadah penanganan bencana luar biasa yang merupakan gabungan dari berbagai elemen, seperti PMI, SAR (Search and Rescue) Unit UNS (Universitas Sebelas Maret), dan Orari. Untuk masalah yang berhubungan dengan kegawat-daruratan (emergency) dan penanganan bencana, seperti banjir yang (sering) melanda kota Solo, sosok Martono selalu hadir.

Sumartono (paling kanan) saat banjir di Solo, 6 Januari 2012
Seharian bersama beliau, memberi saya gambaran lebih jauh tentang beliau. Beliau, yang lahir pada tahun 1956, terlihat begitu gesit dan bersemangat. Energinya seperti tidak pernah habis. Sepanjang hari itu kegiatan beliau seluruhnya terkait dengan urusan sosial. Begitu besarnya kontribusi beliau dalam aktifitas sosial kepada masyarakat kota Solo sehingga dia dinobatkan sebagai satu dari 11 Tokoh Berpengaruh di Solo (www.kompasiana.com), urutan ketiga di belakang Joko Widodo (Walikota Solo) dan FX Hadi Rudyatmo (Wakil Walikota Solo). Aktifitas beliau dalam kegiatan-kegiatan sosial memancing acara Kick Andy untuk mengundangnya ke Jakarta. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah apa yang menjadi motivasi beliau sehingga begitu aktif dalam kegiatan sosial, padahal dia juga punya usaha yang cukup berhasil walaupun bukan usaha yang besar sekali. Saat saya pertama kali bertemu dengan beliau di tahun 2008, pengelolaan usahanya sudah diserahkan kepada istri, anak perempuan, dan calon menantunya (saat itu). Beliau hanya fokus mengabdikan waktunya bagi kegiatan-kegiatan sosial.     

Sumartono (kiri), Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo (kedua dari kiri) dalam reality show TATV Solo di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra, 25 Mei 2012
Menurut Martono, kehidupan yang sulit di masa kecil berperan besar dalam keputusannya mendedikasikan waktunya di bidang sosial. Ayahnya, yang pengusaha batik tulis kecil-kecilan, meninggal saat Martono kecil masih SMP. Kepergian ayahnya membuat rencananya untuk sekolah ke Belanda menjadi gagal total, karena dia merupakan anak lelaki satu-satunya. Martono mengambil tanggung jawab membantu ibunya dalam menopang ekonomi keluarga dengan berjualan batik setelah pulang dari sekolah. Suatu ketika, dia pernah tidak berhasil menjual selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya usaha batik ditutup. Setelah lulus SMA, Martono sempat bekerja sebagai asisten toko, dan bekerja di bengkel variasi mobil untuk waktu yang cukup lama.

Latihan SAR di Waduk Delingan, 9 Pebruari 2012
Suatu ketika di tahun 1986, seorang kenalannya, yang memiliki bisnis interior berbahan aluminium, akan pindah keluar negeri. Bisnis itu kemudian dikelola dan dibelinya. Hingga saat ini bisnis tersebut masih eksis. Sejak masa SMA, Martono memang senang bergaul. Dia aktif berorganisasi. Sifat Martono yang ringan bahu membantu siapapun tanpa pamrih menambah luas pergaulannya. Prinsip dia adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya dan berkontribusi bagi banyak orang, maka upaya menabur tidak akan pernah sia-sia. Suatu ketika ada seorang pengusaha dari Jakarta sedang berada di Solo untuk urusan pekerjaan interior dengan salah seorang kenalan Martono. Ternyata mobil pengusaha tersebut AC-nya mati dan oleh kenalannya dipanggillah Martono. Masalah AC mobil terpecahkan. Pertemanan dengan pengusaha terjalin. Dan selanjutnya hubungan pertemanan berlanjut menjadi hubungan bisnis. Martono mendapatkan keagenan bahan gypsum dari pengusaha tersebut.  

Walikota Solo Jokowi (duduk paling kiri berkaos dan bertopi putih), Sumartono (duduk tengah), dan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo (paling kanan duduk berkaos dan bertopi merah) dalam acara pembukaan Car-free Day Juanda 25 September 2011
Perkenalan saya dengan Martono tak terduga. Saat itu saya menghadapi kendala dalam suatu proyek di Solo. Saya mencari seseorang yang bisa membantu mengurai benang kusut dalam pekerjaan itu. Pencarian bergerak dari satu orang ke orang lain hingga pencarian saya beredar di PMS, dan akhirnya muncullah nama yang direkomendasikan, Sumartono Hadinoto. Selanjutnya seperti yang sudah saya tuliskan di atas bertemulah saya dengan beliau. Dengan bantuan beliau persoalan yang ada dalam pekerjaan dapat terpecahkan. Dan beliau benar-benar membantu tanpa pamrih. Dengan aktifitasnya di banyak organisasi sosial, Martono tentu memiliki akses ke penguasa. Saya tahu persis dia sangat dikenal oleh Walikota Solo Joko Widodo maupun Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo. Demikian pula pengusaha-pengusaha di Solo pasti mengenal Martono. Namun, tidak sekalipun dia memanfaatkan kedekatannya bagi keuntungan pribadi bisnisnya.

Sumartono bersama istri dan cucunya
Sikap yang ramah, terbuka, semangat, tulus dan tanpa pamrih, serta pergaulan yang luas merupakan modal yang luar biasa dalam memberi solusi bagi banyak persoalan. Contohnya adalah bagaimana strategi yang diterapkan oleh Martono berhasil membangkitkan sebuah radio yang sebelumnya sulit berkembang. Adalah Radio Metta FM Solo, yang sebelumnya merupakan radio yang dimiliki oleh sekitar 30 orang umat Katolik. Metta sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Marsudi Endah Tata Tentreming Ati. Martono didapuk menjadi Direktur Utama dengan tugas mengembangkan radio tersebut. Pertama-tama, Martono membuka sekat eksklusivisme. Kepemilikan radio dibuka tanpa batasan agama tertentu. Jumlah pemilik dimekarkan menjadi 120 orang yang masing-masing menyetor Rp 10 juta. Visi radio ditetapkan sebagai “Inspiring Family Radio Station”. Hingga 5 tahun berjalan, keuangan radio masih kembang kempis, namun perlahan tapi pasti kemajuan terus meningkat. Saat ini, yang merupakan tahun ke-9, keuangan radio sudah akan mencapai titik impas. Saya dapat membayangkan, tidak mudah mengelola sebuah bisnis dengan jumlah pemilik modal mencapai 120 orang. Namun, sosok Martono, yang hanya lulus SMA namun memiliki prinsip yang kuat mampu melakukannya.

Michael & Jason, cucu Sumartono
Prinsip itu pula yang membuatnya hingga saat ini menikmati aktifitasnya di belasan organisasi sosial tanpa beban. Prinsipnya dalam mengabdikan diri di setiap organisasi sosial adalah, “Bekerja dengan niat baik dan ikhlas. Tanpa pamrih. Dan jangan berambisi soal kedudukan atau mau memiliki organisasi, karena tujuan kita dalam organisasi sosial adalah melayani masyarakat luas”, katanya. Dia merasa kebahagiaan hidupnya sudah lengkap. Keluarga yang mencintainya. Istri yang setia mendampinginya. Anak yang hidup bahagia, yang sudah memberinya dua orang cucu laki-laki yang lucu-lucu, Michael dan Jason. Usaha yang berjalan dengan baik. Terlebih lagi, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk terus berkontribusi dalam perkara-perkara sosial, membantu banyak orang, mengatasi kelangkaan stok darah, menggalang bantuan makanan atau bea siswa bagi keluarga tidak mampu, dan tentunya teman-teman yang bahu membahu dalam kegiatan kemanusiaan.

Dan seperti yang sudah kita pahami, dalam pengabdian yang murni di setiap organisasi sosial alih-alih mendapatkan uang kita justru harus sering-sering mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Namun, Martono tetap menikmati itu, dari dulu hingga saat ini tidak pernah surut semangatnya untuk melayani banyak orang.  Life is not all about money. Hidup bukanlah melulu soal uang. Setidaknya, itulah yang menjadi prinsip Martono.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.   

Jumat, 06 Juli 2012

Helping People Is A Joyful Business: Kisah Seorang Aris Tarkus


Ditemui di perhelatan ulang tahun ketiga Bioaktiva, produk kesehatan yang mengandung 100% nutrisi rempah dan herbal terbaik Indonesia (www.bioaktiva.co.id), Aris Tarkus terlihat tenang namun penuh percaya diri. Wajahnya terlihat begitu bahagia, terlebih lagi karena dia hadir bersama Esther Yudiani, istri tercinta yang telah memberinya dua orang anak, Audrey Artha dan Peter Artha. Saya pertama kali bertemu dengan Aris Tarkus beberapa bulan yang lalu di Jakarta. Jika belum mengenalnya, Aris terlihat sebagai orang yang terlalu serius sehingga senyumnya hampir-hampir tidak pernah menghias wajahnya. Namun, jika kita sudah mengenalnya semuanya menjadi berbeda 180 derajat. Acara haul itu, yang diadakan selama dua hari, tanggal 3-4 Juli 2012 di Ballroom Hotel Peninsula Jakarta, memang merupakan acara pemberian penghargaan kepada mitra-mitra distributor Bioaktiva di seluruh Indonesia. Dan, Aris adalah distributor Bioaktiva yang tertinggi penjualannya secara nasional. Pada satu kesempatan dia pernah mengatakan “Sebelum saya menjalankan bisnis Bioktiva tidak pernah terbayang bahwa saya bisa membeli mobil walaupun dengan mengangsur. Namun, saat ini saya malah bisa membeli mobil dengan bayar cash”, katanya dengan rasa haru dan penuh rasa syukur. Dan tahun ini, atas prestasi pencapaiannya malah bonus yang didapatkan adalah sebuah Toyota Fortuner. Bonus itu di luar margin keuntungan yang dia dapatkan sebagai distributor. Namun, rute perjalanan kesuksesannya bukanlah rute jalan tol. Perlu kerja keras dan kerja cerdas. Komitmen yang tinggi, cucuran keringat, dan pantang menyerah adalah modal utama kesuksesannya. Aris membagi cerita kesuksesannya dalam tiga fase, yaitu fase belajar (Learn), fase melakukan (Do), dan fase mengajar (Teach).   

Momen bersejarah dalam kehidupan Aris adalah di bulan November 2009, saat dia memutuskan menjadi distributor Bioaktiva. Dia tidak pernah punya pengalaman berbisnis, karena dia adalah Station Manager di radio Heartline FM Lampung. Tiga bulan berlalu, hasil bisnisnya biasa-biasa saja. Saat itu, dia sempat berpikir bahwa memang dia tidak berbakat berbisnis. Bulan Juli 2010, Aris diundang ke acara ulang tahun pertama Bioaktiva yang saat itu diadakan di Semarang. Dalam acara itu tentu dia mendapat  kesempatan bertemu dengan distributor-distributor dari daerah lain, yang telah lebih dulu menjadi distributor. Aris melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk belajar dari distributor-distributor lain bagaimana bisa sukses menjalankan bisnis Bioaktiva. “Ada sebuah ungkapan berbunyi demikian; tidak belajar sehari adalah sebuah kesalahan, tidak belajar seminggu adalah sebuah kebodohan, tidak belajar setahun adalah sebuah kemiskinan dan kemelaratan, dan tidak belajar seumur hidup adalah sebuah warisan yang berbahaya buat keturunan”, ujarnya. Aris mau dengan rendah hati terus belajar dari mereka yang sudah sukses lebih dulu. Dan dia taat menjalankan kiat-kiat yang diberikan kepadanya.

Pulang dari Semarang, adalah waktunya untuk mengambil tindakan, action (Do). Melakukan strategi-strategi yang dia pelajari selama pertemuan dua hari di Semarang. Dia mulai mengundang teman-temannya, memaparkan dan menawarkan konsep bisnisnya. Dari sejumlah orang yang diundang, ternyata hanya lima orang yang datang menghadiri undangan. “Kami tidak berkecil hati. Kami harus tetap memulai perjuangan ini. Do Your Best, and GOD does the rest”, katanya dengan penuh semangat. Dari lima orang yang menjadi sub-distributor-nya satu persatu mundur. Hanya tersisa satu orang yang masih terus berjuang bersamanya. Dengan kerja keras dan melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan serta berlutut berdoa, akhirnya pelan tapi pasti bisnis Aris mulai bergerak naik. Banyak outlet sudah ikut menjual Bioaktiva. Pemasaran getuk tular atau bahasa kerennya word-of-mouth marketing dari para konsumen yang telah merasakan manfaat Bioaktiva merupakan pemasaran yang sangat efektif, yang memberikan akselerasi yang tinggi atas kinerja penjualan Aris.

Di tahun kedua, Aris telah memiliki 10 sub-distributor. Tidak semua sub-distributor bisnisnya berjalan mulus dalam memasarkan produk Bioaktiva. Saatnya dia untuk berbagi dan membantu sub-distributor-nya agar sukses seperti yang sudah dia alami. “Kalau kita sudah punya pengalaman jangan di simpan. Ajarkan dan tularkan kepada orang lain”, ujar Aris. Dengan tulus, Aris membantu dan menularkan strategi dan taktiknya. Faktor pemahaman terhadap produk, keterampilan menjual, dan didukung oleh kepribadian para penjual yang ramah, pelayanan yang berorientasi pada pelanggan terus ditingkatkan. “Kami tidak mau gagal dalam menjalankan bisnis ini”, tegas Aris. Dengan bahu membahu, saling tolong menolong dan semangat kebersamaan kesulitan demi kesulitan dapat dilalui bersama. Sebagian besar waktunya digunakan untuk membantu kesuksesan sub-distributornya. Hasilnya, pada perayaan ulang tahun Bioaktiva yang kedua di Surabaya tim Aris masuk kelompok 5 Besar nasional.

Momentum pertumbuhan telah didapat Aris. Berita kesuksesan tim Lampung, yang dengan cepat menyebar meningkatkan akselerasi perkembangan bisnisnya, seperti bola salju yang terus membesar. Dan di tahun ketiga ini, Aris dan sub-distributor-nya berhasil memecahkan rekor penjualan tertinggi secara nasional. Rasa optimis dalam menyongsong tahun keempat, yang dimulai dari bulan Juli, terpancar jelas pada wajah-wajah Aris dan timnya. Namun, keberhasilan tidak membuat Aris menjadi sombong, dia tetap rendah hati. Dalam kesempatan yang diberikan kepada dia untuk berbagi pengalaman kesuksesannya kepada distributor yang hadir, Aris tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada timnya yang telah bahu membahu mencapai prestasi tertinggi, dan last but not least Aris juga tidak melupakan dukungan yang luar biasa dari istrinya yang selalu mendampingi Aris sejak masa-masa sulit. Aris pun selalu mengucap syukur. “Mengucap syukur membuat kita tidak mudah kecewa, mudah mengeluh, mudah iri hati, mudah putus asa dan menyerah. Mengucap syukur akan membuat kita selalu berterima kasih, selalu berpengharapan, mudah memberi, merasakan kedamaian dan selalu membagikan cinta. Akhirnya  mengucap syukurlah dalam segala hal. Itulah yang di kehendaki Tuhan”, katanya. “Kalau kita mau menjadi tanah liat yang akan di bentuk menjadi tembikar yang indah, hal itu dapat menjadi kenyataan. Bagian pembentukan merupakan bagian yang menyakitkan, tetapi keindahan yang terpancar dari barang ciptaan-Nya itulah yang tidak dapat di bayar oleh uang”, lanjutnya.

Selain margin keuntungan dan bonus mobil Toyota Fortuner, PT Unimax Power, distributor nasional Bioaktiva, masih memberikan bonus tambahan lagi berupa tiket pergi pulang Jakarta-Singapura dan akomodasi selama 3 hari 2 malam. Saat saya menulis artikel ini Aris bersama keluarganya, istri dan kedua anaknya, sedang menikmati liburan di Singapura. Selamat berlibur Sang Pemenang.

Salam Pemenang!

Catatan
  • Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
  • Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.