Jeannetta (paling kiri depan) bersama penerima bea siswa 2013 |
Jeannetta L. Suhendro, yang biasa dipanggil
Jeannetta adalah sosok seorang ibu yang luar biasa. Di tengah kesibukannya di
berbagai bisnisnya, ia masih menyempatkan diri untuk memberikan motivasi kepada
para scholars, yang mendapatkan
beasiswa ke Singapura. Kenapa ia sangat peduli dengan para scholars tersebut?
Wanita energik, kelahiran 3
September 1959, ini awalnya membantu usaha suaminya, Herman Sarwono, di bidang
sipil/kontraktor. “Saya memegang Divisi Interior Design, bidang yang khusus
saya pelajari setelah kuliah, agar bisa mendukung pekerjaan suami. Di samping
itu, saya tetap menjalankan pelayanan di bidang konseling, sesuatu yang saya
lakukan sejak masih SMA. Saya juga terus menambah ilmu di bidang Psikologi
dan Pendidikan”, tuturnya. “Hingga sekitar tahun 2000 saya masih
membantu kantor suami sambil melakukan pelayanan di bidang konseling ini”,
ujar lulusan S1 Universitas Indonesia sambil
tersenyum.
Lebih lanjut Jeannetta
menuturkan apa yang dia amati selama ini, “Saat
melakukan konseling, saya menemukan banyak sekali pelajar yang bermasalah dalam
sekolah. Banyak dari mereka merasakan sekolah sebagai ‘beban’. Untuk
mendapatkan nilai yang bagus, mereka harus rela menghabiskan sangat banyak
waktu (+ energi + biaya) mengikuti berbagai macam les. Tuntutan dari orang tua
agar anak bisa masuk di sekolah-sekolah dan universitas favorit menambah berat
‘beban’ mereka, dan kondisi seperti inilah yang banyak memicu terjadinya
konflik antara anak dengan orang tuanya. Suatu saat, saya sempat memperhatikan bahwa ternyata
universitas-universitas terbaik di Indonesia ‘hanya’ menduduki peringkat
ke sekian ratus dunia. Hati sayapun bertanya-tanya: apa yang membuat pelajar
kita kalah dari pelajar banyak negara lain (termasuk dari negara tetangga kita
Jepang, Singapura, dan lain-lain)? Bukankah ada harga yang sangat mahal
yang sudah dikorbankan oleh mereka agar bisa diterima di
universitas-universitas terbaik tersebut? Bukankah waktu yang dimiliki oleh
semua pelajar di belahan dunia manapun adalah sama-sama 24 jam sehari?”,
ujarnya dengan nada tanya.
“Rasa penasaran saya ‘menggiring’ saya pada beberapa temuan”, Jeannetta menjawab sendiri pertanyaan itu. “Pertama, potensi pelajar
Indonesia ternyata belum digarap secara optimal. Lebih banyak sekolah yang hanya fokus pada pembinaan akademis saja,
dimana hal-hal non-akademis hanya mendapatkan porsi
seadanya. Kedua, kerjasama antara sekolah dan orang tua masih banyak pada hal-hal yang ‘seremonial’ sifatnya.
Potensi orang tua belum banyak
diberdayakan untuk menunjang program-program sekolah dalam hal meningkatkan
potensi siswa secara lebih spesifik. Ketiga, cara penanganan siswa
yang kurang tepat seringkali hanya membuat mereka merasa dijadikan ‘OBYEK’,
sehingga hasil yang diraih siswa acapkali bukan muncul dari kesadaran diri si siswa sendiri. Banyak siswa pintar secara
akademis, namun seringkali seperti ‘ROBOT’ dan banyak kekurangan di hal-hal non-akademis”, tuturnya. “Terakhir,
saya menemukan bahwa sangat banyak siswa Indonesia
terkondisikan untuk ‘manja’ dan terbiasa dilayani, seperti saat belajar harus ditunggu dan ditemani, mengerjakan tugas kliping/
kerajinan dibantu dibuatkan oleh Ibu atau pembantu, membereskan buku
dilakukan oleh orang lain. Akibatnya, pada banyak kondisi, seringkali mereka
kehilangan rasa percaya dirinya. Mereka sering merasa tak mampu menyelesaikan
kendala yang mereka hadapi seorang diri”, lanjutnya.
“Sekitar tahun 2004 mulailah saya mendirikan training motivasi bagi pelajar dengan nama ‘PLUS & PLUS’. Saya mencoba untuk mengolah
potensi diri yang dimiliki oleh murid-murid saya, juga membangun rasa percaya
diri mereka. Saya mencoba untuk selalu menyediakan ‘ruang’ bagi mereka untuk berekspresi, dan juga melatih mereka agar bisa
berpikir ‘out of the box’ serta tidak gampang
menyerah. Training ini juga selalu terbuka dan menyediakan tempat bagi anak-anak putus sekolah maupun tak mampu yang punya semangat
untuk meningkatkan dirinya. Mereka ini tak perlu membayar apapun kecuali dengan semangat dan tekad untuk menjadi lebih baik”,
tuturnya menjelaskan.
“Saya semakin mantap menekuni dunia training ini saat mempersiapkan anak saya ke Singapura. Saya melihat, belajar dan akhirnya menyimpulkan bahwa sampai kapanpun
anak-anak kita akan ketinggalan, jika kita tidak mau belajar apa yang positif
dari sistem pendidikan di negara lain. Bila sebelumnya langkah saya agak
ragu-ragu karena merasa sangat ‘kecil’ dalam
menghadapi ‘sistem’ yang sudah berakar di bidang pendidikan di negara kita,
maka akhirnya, dengan dukungan suami dan anak-anak
tentunya, saya mantapkan langkah saya dengan satu
tekad: sekecil apapun ‘sumbangsih’ saya di bidang pendidikan, paling tidak akan
tetap ada hasilnya”, ujar Jeannetta menjelaskan latar belakang
keputusannya. “Puji Tuhan, murid-murid saya saat ini sudah menjadi juara-juara di dalam maupun di
luar negri. Yang lebih penting dari itu: mereka berprestasi atas
keinginan yang tumbuh dari dalam hati mereka sendiri”, tuturnya
sambil tersenyum.
![]() |
Jeannetta bersama suami dan kedua anaknya |
Sejak 7 tahun terakhir ini, Jeannetta
membantu memberikan outbound dan motivasi kepada para scholars
yang mendapatkan beasiswa ke Singapura. “Awalnya adalah di tahun 2005, saat itu anak sulung
saya, Henry William dipilih oleh sekolahnya, SMP Kanisius, sebagai salah satu kandidat
penerima beasiswa. Saya segera mencari berbagai informasi tentang pelaksanaan
program ini”, kenangnya.
“Hal yang mengejutkan saya, ternyata banyak scholars Indonesia yang memiliki
citra yang kurang bagus di sana (tentu saja tidak semuanya seperti itu). Dari
segi IQ mereka tidak kalah dari scholars
negara lain, namun scholars
Indonesia (saat itu) dikenal kurang memiliki etos belajar yang baik, kurang
percaya diri, gampang menyerah saat ada kendala, kurang bisa berpikir out of the box dan lain-lain”,
ungkapnya.
Jeannetta menyampaikan 'temuan'-nya itu pada Tyson Sutardi selaku representative dari program scholarship
ini. “Ternyata, beliau mempunyai concern yang
sama. Atas inisiatifnya maka dibentuklah Paguyuban Scholar, yang anggotanya
adalah para scholars dan orangtua mereka. Paguyuban ini menjadi sarana bagi
anggotanya untuk saling sharing dan saling mendukung”, tuturnya.
Jeannetta mempersiapkan para scholars yang akan
berangkat dengan cara memfasilitasi
mereka dengan kegiatan akademis, yaitu mempelajari mata pelajaran yang akan mereka terima di Singapura nanti, dan memberikan kesempatan pada mereka untuk mengikuti training motivasi + metode belajar ‘Otak Kanan’ di tempatnya. Puncaknya, mereka dikumpulkan dan
dibina dalam outbound agar bisa lebih saling mengenal. Pembinaan di outbound
ditekankan pada kerjasama dan penguatan mental
mereka sebelum berangkat.
“Hasil dari outbound ini sangat nyata. Jika sebelumnya cukup
banyak scholars yang ‘stress’ karena tidak biasa dengan cara belajar di Singapura, maka sejak 2006 para scholars
sudah jauh lebih siap mentalnya, dan sudah tidak terkejut lagi dengan situasi
belajar di sana”, ungkapnya. “Anak-anak penerima scholarship ini adalah anak-anak
pilihan, yang sayangnya seringkali belum terlalu tergali potensi pribadinya.
Mereka lebih banyak tergarap 'Otak Kiri'nya. Penggarapan ‘Otak Kanan’ masih
kurang sebanding dengan penggarapan 'Otak Kiri'”, ujarnya.
“Selain itu, seperti yang saya katakan di
atas, sekolah-sekolah di Indonesia banyak yang masih terlalu fokus pada hal-hal
yang sifatnya akademis semata. Sementara, paling tidak di Singapura, saya perhatikan para
pelajar ditempa baik di bidang akademis maupun non-akademis secara lebih seimbang. Selain hal-hal akademis, mereka juga
diajar berbagai jenis kecerdasan lainnya, seperti emosional, kreatif, sosial, spiritual, dan
lain-lain, secara terpadu dan dalam porsi yang signifikan
untuk mendidik mereka menjadi anak-anak yang 'balance'. Berbagai jenis kecerdasan inilah yang saya ajarkan di
dalam kelas, ditambah dengan 'public
speaking' dan 'leadership'. Selain itu mereka juga diajari metode belajar dengan ‘Otak Kanan’ serta diajak mengenal
perbedaan-perbedaan akademis antara di Singapura dan di Indonesia”,
tutur Jeannetta.
Jeannetta dan kedua anak didiknya sharing dalam seminar motivasi ANGEL & DEMON di Solo, 13 Maret 2013 |
Menurut Jeannetta, anak-anak yang sudah ‘diisi’ dan disiapkan mentalnya
saat masih di Indonesia, bukan hanya akan 'survive' di Singapura. Beberapa tahun belakangan ini
mereka bahkan banyak yang berhasil menjadi juara-juara se-Singapura (Singapore Top Scorers), serta banyak yang memiliki prestasi Internasional. “Hebatnya lagi, anak-anak itu justru
lebih terpupuk rasa nasionalismenya dibandingkan dengan
saat masih di Indonesia. Saat ada libur akhir tahun yang panjang misalnya,
mereka bisa pulang sekitar tiga mingguan ke Indonesia. Namun, waktu yang dua minggu biasanya
mereka habiskan dengan mengajar anak-anak di daerah terpencil atau di kota-kota
kecil di Indonesia. Mereka bahkan rela kerja sosial di sela-sela kesibukan
mereka di Singapura, agar bisa membelikan kebutuhan
dari sekolah yang akan mereka kunjungi, termasuk perangkat komputer. Semua biaya tak ada yang mereka minta dari orangtuanya”,
ungkapnya.
Sebagai seorang ibu yang banyak memiliki
anak-anak didik, tentu Jeannetta juga bangga kepada anak kandungnya yang
berprestasi. Bahkan momen paling
membahagiakan dalam hidupnya adalah saat melahirkan kedua putranya, Henry
William (1990, saat ini di NUS Pharmacy) dan James Alexander (1993, saat ini
tahun terakhir di Raffles Institution). “Mereka berdua adalah KARUNIA
luar biasa dari Tuhan yang selalu memunculkan energi luar biasa dalam hidup
saya dan suami. Walaupun keduanya laki-laki, namun mereka tak pernah
menyusahkan kami orangtuanya. Hubungan kami berempat sangat erat, saling
terbuka dan saling mendukung. Saya sangat mensyukuri hal tersebut”,
ungkap Jeannetta.
Jeannetta bukanlah wanita ibu
rumah tangga biasa. Dia adalah wanita yang sangat sibuk dengan berbagai
kegiatan. Selain menjadi Managing Director/Interior Designer INTERAMA (Galeri
Selaras), dia juga terlibat di berbagai kegiatan, antara lain; sebagai konselor
masalah anak dan keluarga, presenter Acara Rohani Katholik (sejak 1996) untuk
media TV, Anggota Dewan Pengurus Komsos KAJ, Direktris & Pengajar pada
“Plus & Plus” (Motivation Training, MC, Public Speaking), memberikan
pelatihan motivasi untuk staf perusahaan-perusahaan, anak-anak sekolah maupun
guru-guru, memberikan pelatihan motivasi serta pendampingan bagi ’scholars’ (penerima beasiswa dari
Pemerintah Singapura), memberikan pelatihan Public Speaking untuk perusahaan-
perusahaan, pelajar, maupun masyarakat umum.
Jeannetta
juga sudah banyak meraih prestasi dan menerima berbagai penghargaan, antara
lain; Srikandi-Srikandi Terbaik Indonesia 2008 (Versi Smart Naco Indonesia
& PT Citra AksaraKomunika), The Most Favorite Leadership 2006 (Versi Pusat
Prestasi Indonesia), Best Professional Figure, Public, Educator,Enterpreneur
Award 2005 (Versi Indonesia Achievement Association & South East Asian
Achievement Association), Golden Trophy 2005 (Versi WAA), Business Indonesian
Award 2004 (Versi International Achievement Foundation & Pusat Prestasi
Indonesia), International Professional of the Year 2003 (Versi International
Achievement Foundation).
Jeannetta adalah Sang
Pemenang, yang memiliki loyalitas/kesetiaan. Kesetiaan kepada keluarga,
kesetiaan kepada anak-anak, kesetiaan kepada dunia pendidikan. Kesetiaan yang
menjadi sumber energi bagi dia dalam menjalankan sederet aktifitas. Jeannetta
mengakui bahwa kesuksesan Sang Pemenang tidak pernah berdiri sendiri. Suami dan
anak-anaknyalah yang menjadi salah satu kekuatan Jeannetta dalam meraih
pencapaian-pencapaiannya. Jeannetta adalah Sang Pemenang.
Di akhir perbincangan
dengannya, Jeannetta menyampaikan pesannya: “Bangsa
Indonesia adalah Bangsa yang besar. Sumber daya manusia kita tidak kalah dari bangsa
lain, asalkan kita mau terus meningkatkan ‘kualitas diri’
kita. Dalam menghadapi kekurangan yang ada,
cobalah untuk tidak hanya mengkritik. Lakukan KARYA NYATA yang bisa
memperbaiki keadaan. Sekecil apapun sumbangsih kita, jauh lebih baik berbuat
nyata!”
Akhirnya, Jeannetta sangat meyakini kebenaran
kalimat-kalimat berikut:
“We ourselves feel
that what we are doing is just a drop in the ocean. But the ocean would
be less because of that missing drop” – Mother Teresa
“What I can do, you
cannot. What you can do, I cannot. But together we can do something beautiful
for God” – Mother Teresa
“It is not how much
you do, but how much love you put into the doing that matters” –
Mother Teresa
Salam Pemenang!
Catatan
- Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah InspiratifSang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung atau di amazon.com (search “ANGEL & DEMON Indonesia edition”).
- Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
- Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.
Cari Situs Judi Online yang fair ?
BalasHapusNo BOT-No ADMIN 100% FAIRPLAY PLAYER vs PLAYER
Solusinya hnya di http://bosnagaqq.com
Hanya dengan nominal deposit Rp 15.000
Dan raih jackpot puluhan sampai ratusan juta setiap harinya
WHATSAPP : +855967014811
PIN BB : 2B209F68
bagus sekali untuk dibaca
BalasHapusalat berat untuk proyek konstruksi