![]() |
DJ Anton Wiryono |
Anton Wirjono lebih dikenal dengan nama
panggilan DJ Anton. Saat DJ (disc jockey) lain seangkatannya sudah hampir tak terdengar, DJ
Anton masih tetap eksis
memutar musik pilihannya untuk para penggemar dan komunitasnya, yang kini juga menjangkau berbagai kalangan elit kelas atas.
Bahkan kini DJ Anton
juga seorang creative entrepreneur
yang sukses.
Semua kesuksesan yang diraih Anton, yang lahir di Kudus pada tanggal 14
April 1970, terlihat berlangsung dengan mulus. Namun, tidak demikian, menurut Anton. Banyak hal-hal
yang ia lakukan ternyata tidak atau belum berhasil. Hal ini dikarenakan Anton banyak bereksperimen dan mencoba hal-hal
yang berbeda. Tapi buat dia, pengalaman kegagalan adalah sebuah
proses pencarian dan persiapan bagi kesuksesan yang ia raih saat ini.
Di tahun 1994, Anton kembali ke Indonesia
setelah menyelesaikan studinya di Menlo College, California, Amerika
Serikat (AS). Ia mencoba
melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan. Namun, di dalam hatinya, Anton
selalu memiliki keinginan menjadi DJ. Saat itu, persepsi terhadap seorang DJ sangat jelek.
Sangat berbeda jauh dengan kondisi saat ini dimana DJ diakui sebagai sebuah
profesi yang glamor, melekat dengan
private jet, champagne, merchandising. Bahkan, majalah Forbes kini memiliki The Richest DJ List.
Tak heran, Anton mendapat
demikian banyak tantangan di awal-awal sepak terjangnya di dunia DJ. Bahkan,
orangtuanya pun keberatan bila Anton menekuni profesi itu. “Tapi saya selalu berpendapat bahwa musik
adalah sesuatu yang positif dan bila dilakukan dengan professional dapat menjadi sesuatu yang besar. Beruntung orang tua saya bersikap open minded. Mereka akhirnya memberikan dukungan, setelah melihat ketekunan saya dalam menjalani profesi ini”, ujarnya.
Anton mendapat bantuan ayahnya untuk membuat credit card agar ia dapat membeli piringan hitam dari distributor
di Amerika untuk dijual di Jakarta. Ia menggunakan ruangan kecil di bawah
kantor ayahnya dan membuka toko piringan hitam. Lama kelamaan tokonya menjadi
terkenal di antara kolektor piringan hitam serta para DJ di Jakarta.
Anton juga mencoba memainkan musiknya dari satu
klub ke klub yang lain. Ia sempat frustasi
karena musik yang dimainkannya ternyata tidak dapat diterima oleh pemilik klub, bahkan hampir di semua
tempat ia bermain, dia
disuruh turun dari panggung. Anton akhirnya memutuskan untuk mencari tempat
dan membuat acaranya sendiri agar ia dapat memainkan musik pilihannya.
Di toko piringan hitamnya, ia banyak bertemu
dengan teman baru. Sebuah kesempatan akhirnya datang ketika salah satu teman
barunya sedang merenovasi klub yang dimilikinya dan mengalami masalah untuk mendatangkan pengunjung
ke klubnya tersebut. “Saya langsung datang untuk melihat klub ini dan merasa sangat cocok.
Saya menawarkan untuk bermain pada sebuah malam dengan mengisi musik serta
membawa tamu ke klub tersebut dan saya minta 50% dari
penghasilan malam itu. Mereka langsung setuju”, tutur Anton.
Anton melakukan semuanya seorang diri mulai
dari mendesain flyer di tempat sahabatnya, ke percetakan
hingga membagikan flyer ke
teman-temannya. Teman-teman senimannya ia ajak juga untuk membuat instalasi dan projection dengan menggunakan slide projector. Anton juga mengajak
beberapa teman DJ-nya untuk mengisi acara tersebut. “Kami memainkan musik yang tidak dimainkan di tempat lain dengan
suasana yang unik yang tidak sama dengan tempat yang lain, juga berpromosi
dengan cara yang berbeda. Di tempat lain para tamu bisa request lagu , namun tidak di acara saya karena menurut saya DJ adalah seorang performance artist. Hasilnya malam itu sungguh sukses
dengan 600 orang yang hadir. Jualan tiket, makanan dan minuman laku keras”, kenang Anton. Bahkan, ketika
acara belum selesai, Anton
sudah diminta pemilik klub
itu untuk mengisi acara
setiap hari Sabtu dengan presentasi 60/40. “Saya
langsung setuju. Selama setahun saya dapat menarik rata-rata 700 pengunjung per
hari. Di sana saya mulai membangun
komunitas saya”, tutur Anton. Dari kesuksesannya ini, Anton banyak diundang untuk memainkan musiknya
dan membuat acara di berbagai lokasi karena mereka tertarik dengan komunitas
yang telah dibangunnya.
Bersama adiknya, Hogi Wirjono, Anton mendirikan Future10 dan menjadi pioneer dalam berbagai brand even musik di Indonesia, termasuk di antaranya The Jakarta Movement, Back in The Days, Turn On Plastic, Agrikulture dan Junction
Bali Festival.
Sukses yang ia raih, berawal dari pelajaran marketing yang sangat mengesankannya.
Bukan dari kelas studinya, tetapi dari sebuah promotor acara di San Fransisco
bernama Wicked. Mereka
selalu melawan musik dan acara-acara mainstream. Anton
diajak oleh seorang temannya yang sekolah di art school untuk menghadiri acara mereka.
Wicked membuat acaranya setiap full moon di sebuah pantai. Lokasi pantai setiap kali berubah. Wicked tidak menggunakan flyer atau sarana promosi lainnya. Promosi dilakukan oleh beberapa personil mereka dengan menelpon jaringan teman-teman mereka pada jam 12 malam. Jam 3 pagi acara dimulai dan selesai pada jam 9 pagi.
“Bayangkan pengunjung
acara mereka bisa sampai 4.000 orang. Ingat di tahun 1990, belum ada social media.Yang datang adalah komunitas
yang telah mereka bangun. Ketika telah menghadiri acara mereka beberapa kali, kami seolah sudah
saling mengenal dan merasa menjadi bagian dari komunitas mereka. Akhirnya kami
juga mengajak teman-teman lain yang mungkin menyukai gaya musik dan komunitas ini. Setiap kali mereka
merilis kaset, selalu habis terjual. Demikian juga T-shirt dengan logo mereka laris manis terjual”, kenang Anton yang langsung menyadari
pentingnya membangun brand dan komunitas yang kuat bagi bisnis
yang sukses.
Wicked menginspirasi Anton untuk menjadi
seorang DJ. Ia mengkoleksi musik dan bermain di rumah sebagai hobby. Menjadi DJ
mempertajam intuisinya dan membiasakan dirinya untuk melakukan kurasi. Anton harus
memilih musik terbaik dari beberapa juta lagu-lagu yang ada di dunia,
memutarkan dengan caranya sendiri di berbagai tempat, penonton dan situasi yang
selalu berubah.
“Intinya saya memilih
untuk memutar musik yang menurut saya bagus dan bukan karena request dari orang lain. Akhirnya orang percaya akan pilihan musik saya dan
percaya untuk memilih saya menjadi DJ di acara mereka”, ujarnya.
Mengkurasi musik menjadi inspirasi bagi Anton
untuk membuat Brightspot Market dan The Goods Dept.
“Saya memilih untuk tidak mencoba menyediakan produk bagi semua orang.
Brightspot Market memberikan shopping experience yang berbeda
dan mengekpos entrepreneur kreatif yang ada di Jakarta dan Bandung dengan
membuat pop-up market selama empat hari, mirip pasar kaget. Ada sebuah urgency
dalam hal ini, lokasinya pun berpindah-pindah”, jelas Anton.
Brightspot Market bekerjasama dengan komunitas
desainer muda dan brand-brand di
Indonesia yang independen dan sangat berpotensi namun under-exposed.
Brightspot juga bekerja sama dengan importir dari brand-brand
internasional yang susah dicari namun memiliki komunitas di Indonesia. Brightspot Market melakukan
promosinya dengan word of mouth dari vendor-vendor yang berpartisipasi, juga
tak kalah penting melalui jaringan sosial media.
“Brand yang masuk ke
Brightspot Market kami kurasi. Yang artinya, walaupun teman baik, tapi kalau produknya tidak cocok untuk komunitas maka kami akan menolaknya.
Ini adalah salah satu kunci keberhasilan Brightspot Market. Kriteria kurasi
adalah intuisi dari komite Brightspot”, ungkap Anton. Pasar kaget Brightspot Market saat
pertama diluncurkan pada 2009 diikuti oleh 25 label dengan pengunjung 5.000 orang. Brightspot Market
ke-delapan yang berlangsung di Gandaria City pada bulan Juni 2012 menempati
area seluas 2.600 m2,
melibatkan 125 label dan menarik lebih dari 65.000 pengunjung.
DJ Anton Wiryono di outletnya di Pacific Place, Jakarta |
Setelah sukses membangun Brightspot
Market, Anton dan teman-temannya membuat konsep ritel yang lebih permanen yaitu
The Goods Dept. The Goods
Dept yang dimulai di Plaza Indonesia extension, kini menempati area seluas 750
m2 di Pacific Place dan 1.000 m2 di Pondok Indah Mall. Bahkan, pada tanggal 12 Desember
2012, Anton telah membuka online shop untuk The Goods Dept.
Anton telah memberikan dukungan yang luar biasa
bagi desainer muda Indonesia “Mereka
sangat bagus dan kreatif secara desain dan branding. Namun mereka memiliki
keterbatasan dalam hal manufacturing, bahan dan biaya, terutama kalau dibandingkan dengan
raksasa ready to wear dunia. Masalah ini lebih karena economic of scale yang belum berada pada level
yang tepat. Tapi hal itu akan berubah saat kami melakukan
ekspansi dengan menjual produk mereka di lebih banyak outlet dan juga di
berbagai negara. Yang penting potensi mereka untuk menjadi besar sudah ada”,
ujar Anton dengan penuh keyakinan.
Untuk membuat shopping experience di The Goods Dept menjadi lebih hangat, Anton memutuskan untuk membuat kafe di dalamnya. Ternyata kafe ini sangat sukses dan digemari
komunitasnya. Akhirnya, Anton
juga membuka Goods Diner yang juga sangat sukses berlokasi di
Fairground, SCBD. “Perjalanan di bisnis
resto café selama ini cukup lancar. Kami beruntung dapat bekerja sama dengan
chef yang memiliki satu visi. Tantangan hanya ada di kompetisi, restoran lain
banyak yang meniru konsep kami, juga menunya. Staff kami yang bagus juga sering
dibajak”, ungkap Anton sambil terbahak.
Karyawan yang dimilikinya saat ini berjumlah
lebih dari 250 orang. Proses untuk merekrut lebih banyak mengandalkan karyawan yang saat ini bekerja dengannya. “Team kami yang sekarang sangat peduli dengan brand Goods dan mereka
bekerja keras untuk memperkuat brand ini. Karena sekarang strukturnya sudah
lebih besar, diluar financial control, fungsi saya lebih seperti brand
guardian. Memastikan kesamaan antara arah perusahaan dan visi para staff”,
tutur Anton.
Anton, yang seorang seniman, membuktikan bahwa ia juga mampu sukses sebagai seorang entrepreneur. Ini adalah hal yang luar biasa, kita
melihat sendiri tidak banyak seniman yang dapat menjadi seorang pebisnis sukses.
“Memang sangat berbeda menjadi seniman dan menjadi pebisnis. Waktu
kuliah keinginan saya adalah untuk mengambil bidang art, tapi orang tua saya
memaksakan untuk ambil Business Administration. Saya sangat berterimakasih untuk itu. Jadi walaupun saya senang dengan
hal-hal yang kreatif dan berseni, minat saya di bisnis terutama marketing cukup
tinggi”, ujarnya.
Melihat kembali atas apa yang telah
diraihnya, Anton menganggap nilai-nilai
yang ditanamkan oleh orangtuanya sangat mendukung kesuksesan yang diraihnya
saat ini. “Bapak saya selalu mengajarkan
saya untuk open minded, untuk curious dengan banyak hal. Kita tidak boleh
bilang tidak sebelum mencoba atau melihat. Dia cukup keras dalam mendidik
anak-anaknya, tapi sekarang saya menyadari sikapnya yang demikian karena ia
menginginkan yang terbaik untuk kami. Ibu saya adalah orang yang sangat baik
hati. Aktifitasnya di gereja dan yayasan adalah suatu inspirasi
besar bagi saya untuk berbuat sesuatu yang berarti dan
dapat membantu orang banyak”, jelas Anton.
Selain karakter dasar yang terbentuk karena
pendidikan dari orang tua, Anton menilai pengalaman hidup memiliki peranan
besar untuk meraih apa yang dicapainya saat ini. “Saya percaya bahwa one thing always leads to another. Kalau saya tak
mendapatkan karakter yang kuat dari orang tua serta pendidikan, saya tidak akan
membuka diri untuk berkarir di musik. Dan bila saya tak mendalami musik dan
bisnis di seputar dunia musik, saya tidak akan bisa masuk ke dalam bisnis
lifestyle, dalam hal ini ritel dan food and beverage”, ungkapnya.
Dan justru kecintaannya terhadap apa yang dikerjakan menimbulkan antusiasme
yang tinggi, yang menjadi salah satu faktor kesuksesannya.
“Saya juga beruntung
punya kakak dan adik-adik yang sangat passionate dan berprestasi di bidang
mereka masing-masing. Mereka semua memberikan kontribusi yang unik. Sebenarnya
pertimbangan untuk bekerja sama dengan mereka karena memang mereka sangat
qualified di bidangnya. Saya lalu menyesuaikan posisi dengan keahlian mereka.
Setelah itu kuncinya adalah keterbukaan dan struktur yang jelas”, ungkap Anton mengenai kerjasamanya
dan dukungan kakak serta adik-adiknya dalam berbagai bisnis kreatifnya ini.
Tidak semua yang dilakukan Anton meraih sukses.
Ada beberapa juga bisnisnya
yang gagal. “Saya mencoba banyak hal yang
berbeda dalam hidup saya. Bersama dengan seorang teman Jerman, kami menjadi
distibutor teh organik dan bir dari Jerman ke Jakarta. Berhubung saya memiliki banyak teman pemilik restoran dan klub, saya mencoba bisnis ini. Kami berhasil memasukkan produk ini ke
banyak outlet-outlet termasuk hampir semua
hotel bintang lima. Tapi, setelah sekitar dua tahun dan
berhasil membuat brand-brand tersebut dikenal orang banyak,
bisnis itu kami lepaskan ke pihak
lain karena kami kurang kuat dalam hal
pendanaan. Bir yang dulu kami bekerja keras untuk membangun brand-nya, kini tersebar di semua outlet food &
beverage terbaik di Indonesia”,
ujar Anton.
Anton juga pernah membuat perusahaan animasi
dengan temannya. Ia tidak memiliki background
animasi sama sekali, sementara temannya sudah bertahun-tahun menekuni bidang
ini. “Setelah beberapa bulan saya
menemukan bahwa sebagian besar dari pekerjaan yang dilaksanakan di fasilitas
itu, pembayarannya langsung ke rekening pribadi teman saya ini. Keesokan
harinya, saya langsung tutup kantornya”, kenang Anton sambil tertawa.
Belajar dari kedua pengalaman ini, Anton
menyadari bahwa motivasi untuk mendapatkan uang ternyata membawa kegagalan
dalam usahanya. Kunci sebuah kesuksesan buat seorang pemenang
menurut Anton adalah you have to love
what you do. Mencintai
apa yang Anda kerjakan. Dengan mencintai, maka Anda akan menjadi antusias.
“Ini adalah garansi
utama untuk sukses. Yang saya kerjakan adalah hidup saya. Saya bekerja tujuh
hari seminggu, sering kali hingga jam 3 pagi. Karena saya mencintai apa yang
saya kerjakan, saya tak pernah merasakan bahwa apa yang saya lakukan adalah
sebuah pekerjaan”, ujarnya. “Kemudian, jangan lupa bahwa semua
memerlukan kerja keras. Tidak ada yang mudah.
Harus jelas apa yang kita
inginkan, fokus serta selalu melakukan yang terbaik. Network yang baik juga sangat penting untuk
mendukung kesuksesan”, tutur Anton mengenai kunci sukses seorang pemenang.
DJ Anton Wiryono bersama ketiga penulis di acara peluncuran buku ANGEL & DEMON, pada 13 Maret 2013 di The Goods Dept di Pacific Place, Jakarta |
Anton tidak berpuas diri dengan apa
yang diraihnya saat ini. “Konsentrasi
saya sekarang mengembangkan brand Goods. Mission statement kami adalah ‘we are a universal provider of cool’,
ungkap Anton. "Sekarang kami memiliki The Goods Dept dan The Goods Café di Pacific
Place dan Pondok Indah Mall, The Goods
Online Store, The Goods Diner SCBD. Ke depan, kami akan memulai ekspansi cukup
besar dengan second round investor utk memperbanyak cabang dan konsep Goods
ritel dan F&B di Indonesia dan juga di luar negeri. Beberapa konsep baru
dibawah nama Goods juga akan kami luncurkan. Kami juga akan mulai membuat produk
Goods sendiri dengan berkolaborasi dengan desainer-desainer yang bergabung
dengan Goods”, Anton menjelaskan misinya.
Di tahun 2013, Anton akan mulai aktif
memproduksi musiknya namun ia akan mencoba mengurangi performance terutama di luar kota. Ia juga merencanakan untuk
menyatukan aktifitas event dan konser Future10 ke dalam Goods Group agar lebih fokus. “Saya
ingin mengarahkan Future10 agar lebih interaktif sambi menunggu peluang yang pas”, ungkap Anton di akhir percakapan.
Anton, dengan antusiasme yang
dominan sejauh ini telah mampu melalui kesulitan-kesulitan yang ada sejak mulai
memainkan musik hingga saat ini memiliki beberapa jaringan bisnis. Anton, atau
DJ Anton adalah Sang Pemenang.
Salam Pemenang!
Catatan
- Kisah di atas adalah 1 dari 30 kisah dalam buku “ANGEL & DEMON: 30 Kisah Inspiratif Sang Pemenang”, yang merupakan hasil kolaborasi saya bersama dua sahabat, Timoteus Talip dan Helena Abidin. Temukan kisah-kisah lainnya dalam buku “ANGEL & DEMON”, yang telah menjadi National Best Seller dan dapat ditemukan di Gramedia dan Gunung Agung atau di amazon.com (search “ANGEL & DEMON Indonesia edition”).
- Terima kasih Anda sudah menyempatkan waktu membaca artikel ini. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan berbagi dengan keluarga dan teman Anda, atau berikan komentar pada kotak yang telah disediakan.
- Bila Anda ingin secara otomatis mendapat artikel-artikel terbaru dari blog ini di email Anda, silahkan klik “Join this site” pada bagian kanan atas tampilan blog.
Luar biasa mas DJ Anton Wiryono,, saya pernah membaca singkat cerinya yang ada di Buku Angel & Demon yang ditulis oleh bapak (Suhartono Chandra) ibu Helena Abidin & Bapak Timoteus Talip ... sangat menginspirasi pak. sukses buat bapak Suhartono Chandra
BalasHapusTerima kasih mbak Anna.
BalasHapusSepertinya anda hadir pada seminar kami di Kupang ya?
Salam untuk sahabat-sahabat di Kupang yaa....
All the best
Salam Pemenang
terimakasih sekali sudah sharing
BalasHapustruk pengangkut alat berat