Senin, 26 Desember 2011

Merasakan Kendali Atas Kesulitan


“Merasakan tingkat kendali, bahkan yang terkecil sekalipun, akan membawa pengaruh yang radikal dan sangat kuat pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran yang mengikutinya.” (Paul G. Stoltz)

Pada tulisan sebelumnya saya membahas mengenai Adversity Quotient (AQ) , karya Paul G. Stoltz, dan keempat dimensinya, yaitu CO2RE. Dimensi pertama, yaitu “C(control) atau kendali mempertanyakan “Seberapa besar kendali yang Anda rasakan terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan?”. Kendali berhubungan langsung dengan keberdayaan dan pengaruh, dan mempengaruhi semua dimensi lainnya. Kendali diawali dengan pemahaman bahwa sesuatu, apapun itu, pasti dapat dilakukan. Mungkin Anda pernah memperhatikan ketika anak Anda atau keponakan Anda atau anak teman / tetangga Anda sedang belajar berjalan? Mulai dari upaya untuk dapat berdiri, kemudian menggerakkan kakinya untuk berjalan, namun baru beberapa langkah awal anak kita sudah jatuh. Tapi apa yang dilakukan anak tersebut? Dia bangkit lagi dan kembali mencoba melangkah sejauh mungkin sebelum kemudian terjatuh. Tapi, lagi dan lagi anak tersebut terus bangkit dari jatuhnya dan mulai melangkah lagi. Terjatuh karena keseimbangan belum sempurna tidak menyurutkan upaya sang anak untuk kembali bangkit dan berjalan. Tanpa disadari anak itu merasakan tingkat kendali yang kuat atas kesulitan yang dia hadapi. Dan itu membuat dia terus berupaya sampai benar-benar berhasil.
Mereka yang memiliki skor dimensi C yang relatif tinggi akan merasakan kendali yang lebih besar atas peristiwa-peristiwa dalam hidupnya dibanding mereka yang skornya lebih rendah. Akibatnya mereka akan mengambil tindakan yang akan menghasilkan lebih banyak kendali lagi. Mereka akan merespon kesulitan dengan lebih positif, seperti misalnya “Saya tahu bahwa permasalahan ini memang dilematis, tapi pasti ada yang bisa saya lakukan”, atau “Sepertinya memang itu adalah persoalan yang pelik, tapi saya yakin selalu ada jalan keluar”, atau “Saya sudah mencoba berbagai cara tapi sejauh ini belum memberikan hasil yang memadai, jadi saya harus mencari cara lain lagi”. Dengan respon yang benar terhadap kesulitan yang kita hadapi, maka pikiran kita akan lebih kreatif memikirkan solusi atas kesulitan tersebut.
Kolonel Saunders, pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC), saat dia pensiun di usia enam puluh lima tahun mulai menawarkan resep keluarga ayam goreng kepada pemilik restoran dengan sistem bagi hasil. Resep itu ditawarkan dari satu restoran ke restoran lainnya. Setiap kali dia selalu mendapat penolakan. Namun, dia merasakan kendali atas kesulitan itu. Persoalannya bukan pada resep ayam gorengnya, melainkan mungkin pada cara dia menjelaskan sehingga pemilik restoran tidak dapat melihatnya sebagai kesempatan yang baik. Dengan respon seperti itu maka tanpa mengenal putus asa dia terus keluar masuk restoran menawarkan resep ayam gorengnya hingga kunjungan yang ke-1008 kali barulah dia berhasil menemukan seorang pemilik restoran yang setuju dengan kerjasama yang ditawarkan. Selanjutnya cerita kesuksesan mengenai KFC kita semua sudah tahu.
Daniel Carlos Patay sebelumnya adalah remaja normal. Pria Papua, yang baru berusia tujuh belas tahun itu adalah atlit renang yang sering tampil pada kejuaraan nasional. Namun, suatu peristiwa tragis yang terjadi pada 9 Pebruari 1999 mengubah hidupnya. Daniel menjadi korban bom ikan dan harus kehilangan kedua kakinya (Kompas, Selasa, 20 Desember 2011). Saya dapat membayangkan bagaimana rasa tertekan yang dialami Daniel. Dari seorang remaja atlit yang memiliki masa depan cemerlang secara tiba-tiba harus menerima kenyataan menjadi seorang cacat tanpa kedua kaki dan harus istirahat menjalani proses pemulihan selama dua tahun. Meskipun situasi yang dialami begitu berat, namun Daniel tetap memegang kendali atas peristiwa tersebut. Dia memahami bahwa kondisi dia sudah berbeda dibanding sebelum kejadian kecelakaan itu, dia menerima keadaan itu tapi bukan berarti kecintaannya terhadap olahraga renang pupus dan semangat sebagai seorang juara tidak pernah sirna. Setelah pulih, Daniel mendaftar ke program atlit difabel. Tahun 2004 Daniel ikut Pekan Olahraga Penyandang Cacat Nasional di Palembang dan meraih emas. Tahun berikutnya dia membawa pulang dua medali emas yang didapat pada ajang ASEAN Para Games di Filipina 2005. Berikutnya, di ASEAN Para Games Thailand 2008 Daniel menyabet empat emas dan semua catatan waktunya adalah baru. Di ASEAN Para Games VI/2011 di Kota Solo, Jawa Tengah, Daniel merebut emas dari cabang renang 50 meter gaya dada dan memecahkan rekor atas namanya sendiri. Anda lihat, walaupun kejadian saat Daniel berusia remaja telah menghilangkan kesempatan berlaga di event-event normal (non-difabel), tetapi Daniel merasakan kendali yang penuh atas situasi itu. Dia tidak terlarut dalam kesedihan tak berujung, tetapi dia tetap bisa berprestasi di kategori atlit difabel. Kendali itu pula yang membuat dia mampu mengatasi rasa sakit di kaki bekas amputasi saat baru berlatih kembali paska-kecelakaan. Merasakan tingkat kendali akan membawa pengaruh yang radikal dan sangat kuat pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran yang mengikutinya.

Rabu, 21 Desember 2011

Adversity Quotient


Dulu orang menghubungkan kesuksesan seseorang dengan tingkat kecerdasan intelektualnya. Semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang, yang dinyatakan dengan tingginya skor IQ (Intelligence Quotient), maka semakin besar peluangnya untuk sukses. Namun, kita sudah sering menemukan fakta bahwa banyak orang yang memiliki IQ tinggi ternyata hidupnya gagal. Saya sendiri melihat beberapa orang di sekitar saya yang seperti itu. Ada seorang teman yang cerdas lulusan S-2 tidak memiliki pekerjaan atau aktifitas produktif apapun. Dengan kondisi seperti itu kehidupan keluarganya pun menjadi terganggu dan akhirnya harus berakhir dengan perceraian. Sebaliknya banyak orang dengan tingkat IQ biasa-biasa saja tetapi sukses dalam hidupnya. Jadi, IQ tidak cukup untuk memprediksi sukses atau gagalnya hidup seseorang.
Kemudian berkembang teori yang mencoba menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata bergantung pada kecerdasan intelektualnya, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ (Emotional Quotient) lebih banyak berperan dibanding IQ dalam kesuksesan seseorang. Kecerdasan emosional mencerminkan kemampuan sesorang untuk berempati, mengontrol emosi, bergaul secara efektif dengan orang lain. Tetapi, kita juga melihat fakta yang menunjukkan bahwa mereka yang memiliki IQ dan EQ yang tinggi banyak juga yang tidak berhasil dalam hidupnya. Jadi, IQ maupun EQ belum cukup sebagai prediktor atas kesuksesan seseorang. Keduanya berperan dalam kesuksesan seseorang tetapi masih belum cukup.
Paul G. Stoltz (Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, Penerbit PT Grasindo, Tahun 2000), mengembangkan teori baru, yaitu Adversity Quotient, melalui riset mendalam atas kajian-kajian ilmiah di bidang psikologi kognitif, psikoneuroimunologi, dan neorofisiologi selama 19 tahun dan penerapannya selama 10 tahun. Menurut Stoltz, suksesnya hidup seseorang lebih ditentukan oleh AQ-nya, bukan IQ atau EQ. Ketiganya berperan dalam kesuksesan seseorang, namun yang paling besar perannya adalah AQ. Hubungan ketiganya digambarkan dalam Segitiga AQ-EQ-IQ. AQ memberitahu kita seberapa jauh kita mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan mengatasinya. AQ mempunyai tiga bentuk, yaitu merupakan suatu kerangka kerja konseptual untuk memahami dan meningkatkan segala aspek kesuksesan; suatu ukuran untuk mengetahui respon Anda terhadap kesulitan; dan serangkaian peralatan (tools) untuk memperbaiki respon Anda terhadap kesulitan.
AQ terdiri atas empat dimensi, yaitu C, O2, R, dan E. C (Control) adalah dimensi yang mempertanyakan seberapa banyak kendali yang Anda rasakan terhadap sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan. O2 terdiri atas Origin dan Ownership. Origin (asal-usul), mempertanyakan siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan, sedangkan Ownership (pengakuan) mempertanyakan sampai sejauh manakah Anda mengakui akibat-akibat kesulitan itu. R merupakan singkatan dari Reach (jangkauan), yang mempertanyakan sejauh manakah kesulitan akan menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan Anda. Sedangkan E (Endurance) mempertanyakan dua hal yang berkaitan, yaitu berapa lamakah kesulitan akan berlangsung, dan berapa lamakah penyebab kesulitan itu akan berlangsung. Gabungan skor keempat dimensi membentuk skor AQ Anda (AQ = C + O2 + R + E). 
Dalam bukunya, Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, Penerbit PT Grasindo, Tahun 2000, Stoltz menyediakan lembar evaluasi diri kita saat ini yang disebut Adversity Response Profile (ARP) Quick Take™, yang bisa Anda temukan di halaman 121 – 131. Jika Anda tidak memiliki buku tersebut tetapi ingin mengevaluasi diri, Anda bisa mengirimkan permintaan kepada saya dengan mengisi komentar atas tulisan ini. Segera saya akan kirimkan file softcopy ke alamat email Anda. Jika skor AQ Anda saat ini berada pada kategori rendah bukan berarti dunia Anda berhenti, karena Adversity Quotient menyediakan tools untuk memperbaiki respon Anda terhadap kesulitan. Demikian pula seandainya nilai Anda saat ini masuk pada kategori tinggi, Anda pun punya kesempatan untuk terus meningkatkan respon Anda sehingga memiliki daya tahan yang lebih tinggi dalam menghadapi kondisi-kondisi yang lebih sulit yang akan Anda hadapi dalam menyusuri perjalanan Sang Pemenang.

Senin, 19 Desember 2011

Satu Mitos Kesuksesan Dipatahkan Sabar Gorky


Ada banyak mitos tentang kesuksesan. Salah satunya adalah bahwa cacat tubuh membuat kesuksesan menjadi sebuah ilusi bagi penyandangnya. Kita mungkin sudah banyak membaca atau melihat banyak kisah nyata para penyandang cacat yang telah mematahkan mitos tersebut, mereka telah membuktikan mampu berkarya di bidangnya dalam keterbatasannya. Kalau kali ini saya memilih sosok Sabar Gorky: Satu Kaki Menjejak Puncak Dunia (Kompas, Jumat, 16 Desember 2011) tentu dengan suatu alasan tertentu. Bagaimana Sabar menekuni alur lingkaran kesuksesan menarik untuk kita renungkan.

Sabar Gorky adalah seorang lelaki dengan anggota tubuh lengkap pada awalnya, hingga suatu kecelakaan terjadi saat dia remaja dan duduk di bangku SMA. Dia terjatuh dari kereta api dan harus kehilangan satu kakinya. Saya dapat membayangkan dia begitu tertekan menghadapi kenyataan tersebut. Masa depan sepertinya menjadi suram. Tidak mudah memang bagi seorang remaja seperti dia harus menghadapi kenyataan tersebut. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa walaupun saat itu keluarga dan teman-temannya memberikan dorongan semangat kepada dia untuk bangkit tetapi kalau dia sendiri tidak mengambil keputusan untuk bangkit mungkin cerita Sabar tidak akan terdengar hingga saat ini. Pelajaran pertama, dorongan semangat atau motivasi dari luar memang dibutuhkan terlebih ketika kita sedang sangat tertekan menghadapi realita yang sangat sulit diterima, tetapi tanpa adanya motivasi dari dalam diri kita sendiri maka motivasi dari luar akan sia-sia. Motivasi dari dalam menghasilkan keputusan untuk bangkit dan Sabar telah melakukan itu.

Selanjutnya Sabar mulai menata kembali hidupnya. Dia menyusun rencana untuk mampu menekuni hobbynya mendaki gunung. Sabar sadar bahwa dia harus mulai dari awal. Dia mencoba menaklukan Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dalam kondisi satu kaki. Yang pertama dia gagal. Tetapi sabar belajar dari kegagalan dan mempersiapkan kembali pendakiannya, dan akhirnya dia berhasil. Lihat, Sabar dengan tekun menyusuri Lingkaran Kesuksesan (objective-plan-execute-review), dan tidak berhenti. Setelah itu Sabar meningkatkan targetnya, yaitu Gunung Semeru di Jawa Timur yang lebih tinggi daripada Gunung Lawu. Sukses. Dan target berikutnya adalah Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat yang lebih tinggi dari Gunung Semeru. Anda lihat bahwa kepercayaan Sabar terus meningkat sejalan dengan lingkaran kesuksesan yang berhasil dia lampaui. Pelajaran kedua, mulailah dari target yang relatif lebih rendah/lebih kecil kemudian naikkan target sesuai dengan pencapaian. Saya ingat ketika masih menjadi mahasiswa  dan mengikuti organisasi pecinta alam, mahasiswa senior pengurus organisasi memprogram kegiatan mendaki gunung mulai dari Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Ciremai (semuanya di Jawa Barat), baru kemudian gunung-gunung lain yang lebih tinggi. Jika Anda lakukan itu secara konsisten maka kepercayaan diri Anda akan terus meningkat, dan itu adalah modal dasar bagi kesuksesan berikutnya.

Setelah pencapaiannya menaklukkan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Sabar mulai mencoba menekuni olahraga panjat tebing pada usia dua puluh sembilan tahun, usia yang tidak tergolong muda lagi. Sabar mencoba memperluas kemampuannya, karena olahraga panjat tebing memerlukan penguasaan teknik yang agak berbeda dengan kegiatan naik gunung. Saya yakin, dalam menekuni olehraga panjat tebing Sabar memulai dengan tingkat kesulitan yang ringan dan secara bertahap terus meningkat. Ketekunannya membuahkan prestasi gemilang. Dia berhasil mendapatkan medali emas pada Kejuaraan Panjat Tebing Asia di Korea Selatan pada tahun 2009, dua belas tahun sejak dia mulai menekuni olahraga panjat tebing. Dan kita tahu dua belas tahun bukanlah masa yang pendek. Pelajaran ketiga, perlu konsistensi, kesabaran, tidak menyerah dan disiplin untuk bisa mencapai kesuksesan yang besar.

Sabar membuat target yang lebih besar. Mimpinya adalah mencapai Seven Summit, tujuh puncak gunung tertinggi di dunia. Dan lihat, dia mulai dengan menaklukkan puncak Elbrus yang memiliki ketinggian 5.642 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang merupakan puncak tertinggi di Eropa dan menancapkan Sang Merah Putih tepat pada tanggal 17 Agustus 2011. Dan perlu dicatat, rute yang dia lalui adalah jalur utara, yang tiga kali lebih panjang dan lebih sulit dibanding jalur selatan. Tanggal 13 Nopember 2011, Sabar menaklukkan puncak Kilimanjaro (5.895 meter mdpl), yang merupakan puncak tertinggi di Afrika. Dan tahun depan, Sabar sudah menetapkan target dan menyusun rencana untuk menaklukan puncak Mera Peak, salah satu puncak di Pegunungan Himalaya; Gunung Aconcagua di Argentina; Puncak Cartenz di Papua; dan mengikuti triatlon di Gurun Sahara, Maroko. Tidak hanya mendaki gunung dan panjat tebing, Sabar juga hobi naik sepeda dan arung jeram. Pelajaran keempat, sang pemenang tidak akan pernah berhenti. Sang pemenang akan terus memasang target yang baru dan lebih tinggi serta berjuang untuk mengapainya.

Sabar sadar dengan realita, semua kegiatan yang dilakukan itu lebih karena memang dia hobi dan mencintai olahraga beresiko tinggi. Kesuksesannya lebih untuk memuaskan hobi dan membuktikan bahwa dengan keterbatasan dirinya dia mampu menorehkan prestasi yang sama dengan mereka yang memiliki anggota tubuh yang lengkap. Dan tentunya ada kepuasan batin tersendiri ketika ada yang terinspirasi dengan perjuangannya. Kepuasan tersebut tidak menghilangkan realita bahwa dia perlu menjalani hidup. Dengan rendah hati dia menekuni pekerjaan membersihkan kaca gedung-gedung bertingkat dengan high rope dan reparasi tas untuk  memenuhi kebutuhan hidupnya. Pelajaran kelima, walaupun Sabar Gorky, pria berusia 43 tahun kelahiran Solo, Jawa Tengah, namanya sudah terkenal namun dia tetap rendah hati dan realistis.

Rabu, 14 Desember 2011

Definisi Kesuksesan


Ada banyak definisi kesuksesan, kebanyakan kesuksesan dikaitkan dengan keberhasilan secara finansial. Artinya seseorang dikatakan sukses jika berhasil mengumpulkan kekayaan dari hasil upayanya. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Memang uang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya di dunia materi ini memerlukan uang. Namun, saya tidak mau berpolemik dengan isu di atas karena ukuran kesuksesan masing-masing pribadi pasti berbeda-beda. Bagi orang tertentu ukuran kesuksesannya adalah seberapa banyak uang yang dihasilkannya. Bagi orang lainnya mungkin ukuran kesuksesan adalah jika dia bisa mempersiapkan anak-anaknya melalui pendidikan yang berkualitas agar dapat berkompetisi di dunia yang semakin ketat persaingannya ini. Bagi sebagian kecil lainnya ukuran kesuksesan adalah sejauh mana dia dapat berkontribusi dalam memperjuangkan masyarakat miskin, atau sejauh mana dia dapat berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat luas. Demikian juga Anda mungkin punya definisi kesuksesan yang berbeda. Apapun definisi Anda tidak masalah sepanjang definisi itu membuat Anda terus bergerak maju. Secara pribadi saya lebih menyukai definisi kesuksesan yang dibuat oleh Paul G. Stolz dalam bukunya “Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang”, Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2000. Menurut Stolz, kesuksesan adalah “tingkat dimana seseorang bergerak ke depan, ke atas, terus maju dalam menjalani hidupnya, kendati terdapat berbagai rintangan atau bentuk-bentuk kesengsaraan lainnya.” Definisi ini sejalan dengan filosofi bahwa kesuksesan bukanlah tujuan melainkan suatu perjalanan.
Terkait dengan definisi kesuksesan tersebut, Paul G. Stolz mengklasifikasi type-type manusia menjadi tiga type, yaitu Climber (pendaki), Camper (pekemah), dan Quitter (pecundang). Climber adalah type pendaki. Seorang pendaki akan terus berusaha menaklukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam proses pendakian sebuah gunung. Manakala dia sudah berhasil sampai di puncak sebuah gunung dia akan mulai lagi untuk mendaki gunung lainnya. Buat seorang climber pendakian itu merupakan hidupnya. Dari satu gunung ke gunung lainnya. Dari satu kesuksesan ke kesuksesan lainnya. Climber adalah seorang pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental, atau hambatan lainnya menghalangi pendakiannya. Seperti ungkapan “sang pemenang selalu kelebihan satu kemungkinan, sedangkan sang pecundang selalu kelebihan satu alasan.”
Camper sesungguhnya adalah seorang climber pada awalnya. Mereka sudah pernah keluar sebagai sang pemenang dengan beberapa pencapaiannya, tetapi kemudian mereka memilih untuk berhenti mendaki, mencari tempat yang lebih datar dan kemudian membuka kemah dan memilih hidup lebih aman, dalam zona nyamannya (comfort zone). Alasan mereka mungkin takut karena hambatan di depan semakin besar, atau merasa sudah cukup dan berpuas diri. Kalau kita perhatikan hidup para climber tidak terlalu buruk. Mungkin kualitas hidup mereka sudah lebih baik dari masa sebelumnya. Di kantor mungkin mereka sudah menduduki jabatan supervisor atau manager. Tetapi, mungkin mereka tidak menyadari bahwa ada satu yang kurang, yaitu semangat untuk bergerak maju meraih pencapaian-pencapaian baru. Bagi seorang camper, kesuksesan adalah suatu destinasi sehingga mereka merasa sudah cukup pada tempatnya saat itu. Mereka tidak menyadari bahwa dengan menjadi camper kecil kemungkinan mereka dapat mempertahankan “kemahnya”, karena hidup adalah perlombaan. Manakala Anda berhenti maka orang di belakang Anda akan segera menyusul dan melampaui posisi Anda. Dan pada saat itu Anda akan kehilangan kenyamanan yang ada.
Type quitter adalah sang pecundang. Mereka samasekali tidak punya keberanian untuk mendaki. Mereka hanya melihat begitu tingginya gunung yang harus didaki dan segera mencari seribu satu alasan untuk mundur. Mereka hanyalah orang-orang yang hanya melihat kesulitan tetapi tidak pernah mengambil keputusan untuk mengatasi kesulitannya. Mereka hanya melihat keterbatasan diri sebagai penghalang bagi usahanya untuk mengubah keadaan. Mereka adalah orang-orang yang cenderung sinis, pemarah dan frustasi. Alih-alih mencari cara untuk keluar dari kesulitan, quitter cenderung menyalahkan sekelilingnya. Mereka menyalahkan keluarga, orang-orang sekitarnya, dan keadaan mereka.
Menjadi climber, camper, atau quitter adalah soal pilihan kita. Sepenuhnya adalah pilihan Anda, karena sesungguhnya yang harus bertanggung jawab atas hidup kita adalah kita sendiri. Hidup adalah soal memutuskan pilihan-pilihan yang ada. Tidak membuat keputusan atas pilihan-pilihan yang ada sesungguhnya sudah membuat keputusan, yaitu keputusan menyerahkan kendali pada pihak lain. Jika kita tidak membuat keputusan, maka pihak lain sekitar kita yang akan membuat keputusan atas diri kita. Nah, apakah Anda rela pihak lain yang memutuskan pilihan atas hidup kita?  


Senin, 12 Desember 2011

Dimulai Dari Suatu Keputusan


Pada artikel yang lalu saya menulis mengenai Lingkaran Kesuksesan yang terdiri atas empat langkah, yaitu Objective-Plan-Execute-Review. Objective adalah suatu keputusan yang dibuat sang pemenang untuk berani menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai. Plan merupakan perencanaan yang dibuat untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Rencana yang telah dibuat tentunya harus dilaksanakan (execute), dan review merupakan evaluasi atas hasil dari rencana yang telah dilaksanakan yang menghasilkan perbaikan atau peningkatan yang harus dilakukan pada siklus lingkaran kesuksesan berikutnya. Siklus lingkaran kesuksesan tersebut merupakan siklus yang terus menerus perlu dijalani dalam perjalanan Sang Pemenang. Hari ini kita melihat bagaimana penerapan siklus tersebut melalui sosok Sumarlan: Lentera Peternak Lele (Kompas, Senin, 12 Desember 2011).
Sumarlan merupakan sosok sang pemenang yang meraih Juara II Tingkat Nasional Lomba Inovasi Pengembangan Produk Hasil Perikanan kategori umum/usaha mikro kecil menengah dari Kementrian Kelautan dan Perikanan tahun 2011, sekaligus pengusaha industri rumahan “Telogo Sarangan”, warga Desa Candirejo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kesuksesan Sumarlan tidak hanya dinikmati oleh dia dan keluarganya, tetapi juga memberi dampak positif bagi masyarakat, antara lain; memperbesar peluang masyarakat menikmati ikan lele tidak terbatas hanya digoreng, dibakar atau dimasak kuah, membantu meyukseskan kampanye gemar makan ikan dalam rangka peningkatan gizi masyarakat, memperluas pasar produk ikan lele.
Semua itu dimulai dari suat keputusan. Umumnya, ada suatu kegalauan saat seorang karyawan akan memasuki masa pensiun. Galau, bagaimana dengan ekonomi keluarga saat sudah pensiun karena faktanya uang pensiun tidak lebih besar daripada penghasilan bulanan ketika masih produktif. Galau apa yang akan dikerjakan saat sudah pensiun, apakah sisa hidup hanya dinikmati dengna duduk-duduk saja mengenang saat-saat masih produkif. Dan kita sudah banyak melihat banyak pensiunan yang tidak punya kegiatan apa-apa kemampuan berpikirnya dan kondisi kesehatannya cenderung menurun lebih cepat dibanding orang seusianya yang masih aktif dengan kegiatan-kegiatan produktif. Kegalauan Sumarlan adalah kuatir tidak bisa menjalani hari-hari di masa senjanya tanpa aktifitas karena dia sudah terbiasa bekerja rutin. Ada banyak pensiunan yang walaupun merasakan kegalauan tetapi tidak mengambil keputusan apapun, mereka hanya diam pasrah dengan berbagai kendala yang ada. Tidak demikian halnya dengan Sumarlan, dia mengambil keputusan untuk mulai beternak ikan lele. Sasaran dia adalah agar dia tetap memiliki aktifitas yang produktif sekaligus menambah penghasilan selain uang pensiun. Sumarlan telah menjalani seperempat perjalanan menyusuri siklus lingkaran kesuksesan.
Mengapa Sumarlan memilih budidaya ikan air tawar? Alasannya sederhana, lokasi rumahnya dekat dengan Kali Jejeruk yang mengalirkan air dari Dam Jejeruk. Air itu dengan mudah dan berbiaya murah bisa dipompa ke dalam kolam dan memungkinkan pengganian air secara teratur sehingga menghasilkan ikan-ikan yang sehat, besih dan aman dikonsumsi. Sumarlan juga menerapkan teknik budidaya yang terbilang modern. Apa yang dilakukan Sumarlan pada bagian ini adalah bagian dari perencanaan (plan). Dalam hal ini Sumarlan telah menyusuri separuh dari siklus lingkaran kesuksesan. Dan sudah pasti rencana tersebut dia laksanakan (execute), dengan kata lain tiga perempat siklus lingkaran kesuksesan telah dia jalani.
Dalam perjalanannya apakah Sumarlan langsung berhasil. Ternyata tidak. Sudah sejak lama para peternak ikan lele mengalami kesulitan memasarkan hasil budidayanya. Konsumsi ikan lele hidup serapannya relatif terbatas, hanya sekitar 80% dari kapasitas produksi peternak. Bahkan pada musim musim panen melimpah serapan ikan lele bisa turun hingga hanya mencapai 50%. Sumarlan tidak berhenti, tetapi dia mencari solusi bagi kondisi tersebut. Dia berkonsultasi dengan dinas peternakan, termasuk mencari informasi di dunia maya. Dia juga sadar bahwa selama ini pedagang hanya mau mengambil ikan berukuran sedang dengan alasan lebih disukai pasar dan kunsumen, dan pada kenyataannya memang selama ini ikan lele dikonsumsi dengan cara dibakar, digoreng dan dimasak kuah. Bagian ini melengkapi sisa seperempat perjalanan menyusuri siklus lingkaran kesuksesan.
Pada awal siklus lingkaran kesuksesannya, dia mengambil suatu keputusan yang kreatif. Apakah pola konsumsi konsumen terhadap ikan lele yang hanya sebatas dibakar, digoreng dan dimasak kuah tidak bisa diubah? Inilah keputusan kreatif yang mengubah keadaan secara total (objective). Dia mulai merencanakan (plan) untuk mengoptimalkan seluruh bagian ikan lele dengan memberi nilai tambah. Sumarlan kemudian mengolah (execute) ikan lele menjadi beragam produk makanan siap saji. Saat ini ikan lele di tangan Sumarlan dapat diolah seluruhnya, termasuk tulang dan kulit ikan lele. Daging ikan lele diolah menjadi bothok presto, garam asem presto, pepes, abon. Kulit ikan lele yang hitam diolah menjadi keripik yang renyah dan gurih. Apakah kesuksesan Sumarlan dicapai dengan mudah dan instan? Tidak juga, karena sesuai dengan pengakuannya, kemahiran dia saat ini didapat melalui proses panjang melakukan uji coba bersama dengan istrinya. Yang pasti, setiap tahapan siklus lingkaran kesuksesan dia jalani. Selesai satu siklus dia terus bergerak menjalani siklus berikutnya, dan seterusnya tanpa pernah berhenti. 
Saya yakin, pencapaian saat ini pun bagi Sumarlan bukanlah akhir dari perjalanannya menyusuri rute sang pemenang. Sumarlan harus tetap bergerak dengan pedoman lingkaran kesuksesan. Dan itu selalu dimulai dari suatu keputusan.